Menengok Sepak Terjang Ultras Sepak Bola di Suriah

Football5star.com, Indonesia – Menjadi ultras sepak bola di negeri porak poranda seperti Suriah menjadi hal yang sangat menyulitkan.

Menahun di landa perang saudara, Suriah bak neraka dunia yang warganya tiap hari dihantui ancaman kematian. Tak peduli apakah ia berkepentingan atau tidak di konflik, tiap hari selalu ada mayat yang bergelimpangan di jalanan kota Suriah.

Namun, idiom yang mengatakan bahwa sepak bola bisa menyatukan mereka yang berkonflik ada benarnya juga. Kita mungkin pernah mendengar bahwa saat Perang Dunia I berkecamuk, sejumlah tentara menghentikan peperangan dan bermain sepak bola di tanah tak tertuan pada Natal 1914.

Hal itu juga yang terjadi di Suriah. Di tengah rentetan tembakan AK-47 atau hujan bom dari pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat, laga sepak bola akan membuat kengerian itu tak ada artinya bagi orang Suriah.

 Perjuangan Menjadi Ultras Sepak Bola di Suriah
thesefootballtimes.co

Di Damaskus, seorang tentara menukar AK 47 miliknya dengan tiket pertandingan untuk menonton sepak bola. Setelah 90 menit, ia kembali mengambil senjatanya dan melanjutkan perang.

Kasta tertinggi sepak bola di Suriah masih bergulir meski dengan kondisi dalam negeri yang sangat miris. Salah satu klub dari kasta tertinggi Liga Suriah bahkan berasal dari zona perang Allepo, Al Ittihad Aleppo.

Lewat bergulirnya kompetisi sepak bola inilah, Suriah berusaha menunjukkan bahwa mereka masih eksis sebagai sebuah negara.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana mungkin laga sepak bola bisa berlangsung jika tiap hari selalu ada rentetan tembakan dan hujan bom?

Kondisi pertandingan di Suriah

Nyatanya kompetisi sepak bola di Suriah masih tetap berlangsung dengan ancaman itu semua. Namun tentu saja kondisi pertandingan di sana sangat jauh berbeda dengan negara lain.

Misalnya, tiap pertandingan akan dimulai tentara dengan senjata lengkap plus tim penjinak bom akan selalu berpatroli di pintu stadion.

Tak jauh berbeda sebenarnya seperti di Indonesia sebelum match berlangsung, namun tindakan tentara di sana jauh lebih intimidatif. Mereka bisa langsung menahan seorang penonton yang dianggap mencurigkan.

Hal ini mau tak mau mereka lakukan agar kejadian Youssef Suleiman tidak terulang. 4 tahun lalu, Youssef Suleiman yang bermain untuk Al Wathbah tewas di dalam stadion sebelum pertandingan, sebuah mortir yang dilemparkan tepat mengenai dirinya.

Kemunculan aparat bersenjata lengkap di luar stadion memang menimbulkan rasa aman bagi penonton, akan tetapi kondisi ini juga berdampak pada sepak terjang kelompok garis keras suporter di sepak bola di sana.

Perjuangan Menjadi Ultras Sepak Bola di Suriah
mexinsta.com

Ultras Suriah

Sejumlah suporter klub di Liga Suriah membentuk kelompok ultras. Sekedar informasi saja, istilah ultras di sepak bola merujuk pada kelompok sepak bola yang memiliki pandangan politik.

Aspirasi politik mereka biasanya tercermin di spanduk-spanduk yang terbentang di sekitaran stadion selama pertandingan. Kelompok ultras biasanya juga memiliki pengorganisasian yang sangat baik meski kadang lebih menonjolkan sisi kerahasiaan.

Salah satu ultras di sepak bola Suriah yang paling menonjol berasal dari klub Al Wahda. Meski secara tampilan fisik, ultras di Suriah tidak seperti di Italia dengan gaya berpakaian serba hitam namun dalam urusan berpolitik jangan pernah ragukan.

Kelompok ultras di sana mampu tergabung dalam satu kesatuan besar bernama Union of Syria Ultras. Terbentuknya organisasi ultras ini ialah bentuk eksistensi politik mereka terhadap kondisi dalam negeri.

Meski Union of Syria Ultras merupakan gabungan para rival, namun mereka mampu menunjukkan sikap solidaritas dan cita-cita ingin membangun Suriah dalam satu kesatuan sebuah negara, terlepas dari afiliasi politik mereka.

Kelompok ini memiliki pandangan sangat keras terhadap perang saudara yang tak kunjung usai. Atas dasar itulah sepak terjang ultras di sana mendapat intimidasi dari sejumlah pihak yang tak ingin negeri Bashar al-Assad itu kembali bangkit.

Meski begitu perjuangan politik kelompok ultras ini tak gentar. Bagi mereka hanya lewat sepak bola, Negeri Syam bisa kembali bangkit sebagai sebuah negara.

Sepak terjang timnas

Kehadiran kelompok ultras ini nyatanya memang membawa angin segar untuk perkembangan sepak bola di sana. Setidaknya bagi para pemain hal itu merupakan energi positif untuk mereka bermain mati-matian saat berseragam timnas.

Faktanya sepak terjang timnas Suriah bisa dikatakan lebih baik dibanding timnas Indonesia. Pada 2016 di kualifikasi Piala Dunia 2018 mereka mampu kalahkan Cina, negara yang kompetisinya dibangun dengan investasi miliaran dollar.

Tim besutan Fajr Ibrahim itu juga membuat repot negara kuat sepak bola Asia lainnya, Korsel misalnya pada 28 Maret 2017 lalu hanya bisa bermain imbang 1-1. Bahkan saat bertemu Australia agar bisa bermain di babak play off Piala Dunia 2018 melawan wakil CONCACAF, Suriah hampir mencetak sejarah.

Di pertemuan pertama yang berlangsung di Stadion Hang Jebat, Malaysia, 10 Mei 2017 lalu, mereka menahan imbang Australia 1-1. Bahkan di leg kedua, Australia hanya menang tipis 2-1, itupun Suriah bermain dengan 10 orang.

Bagi Australia bertemu Suriah memang momok tersendiri. Di pertemuan terakhir keduanya pada 15 Januari 2019 di ajang Piala Asia 2019, Socceroos kembali menang tipis 3-2.

Meski tidak bermain di negeri sendiri dan harus menumpang di negara lain sebagai home base, serta ancaman dari pejabat negara untuk menahan dokumen keimigrasian mereka atau ancaman pembunuhan terhadap keluarga di Suriah, para pemain tampil menggila jika sudah berseragam timnas.

Hal itu mereka lakukan tak lepas dari pengaruh sepak terjang para ultras yang mendukung nun jauh di tanah air mereka. Perjuangan ultras untuk bertahan hidup di kondisi perang mendorong Omar Al Somah cs bermain dengan hati.

Comments
Loading...