Mengenal Aremania dan Arema Lewat Sudut Pandang Yuli Sumpil

Football5star.com, Indonesia – Beberapa pekan lalu, tim football5star.com mendapatkan kesempatan berharga untuk mengunjungi dirijen legendaris Aremania, Yuli Sumpil di rumahnya yang berada di kawasan Malang. Bagi para para pemain Arema dan Aremania, Yuli Sumpil merupakan sosok yang cukup disegani.

Loyalitasnya kepada Arema FC memang sudah tak perlu lagi dipertanyakan. Entah sudah berapa banyak uang yang ia keluarkan dan berapa kali menyambangi stadion lawan demi mendukung klub kebanggannya.

SEJARAH TERBENTUKNYA AREMANIA VERSI YULI SUMPIL

Sebagai salah satu tokoh yang dituakan, Yuli Sumpil tentu memahami seluk beluk mengenai Aremania. Ia bahkan dapat dikatakan sebagai salah satu founding father di balik terbentuknya Aremania sebagai salah satu kelompok suporter yang paling disegani di Indonesia.

“Awalnya itu, sekitar tahun 1994. Jadi, waktu itu kita memang sering datang ke stadion tapi belum mengenal satu sama lain. Mungkin ada yang kenal, tapi hanya sebagian kecil. Dari situ, Aremania mulai muncul secara alami,” ujar Yuli.

Sebelum terbentuknya Aremania, Yuli mengakui bahwa suporter sepak bola di Malang merupakan salah satu yang paling brutal di Indonesia. Ia bahkan mengakui sempat menjadi bagian dari brutalnya atmosfer sepak bola Malang tempo dulu.

“Suporter Arema, sebelum Aremania muncul itu memang brutal. Saya akui karena saya juga mengalami dan menjadi bagian itu. Jadi, dulu itu setiap pertandingan Arema, kami itu biasa manjat tembok dan masuk ke stadion gak bayar.”

football5star.com/ErvanSatrio

“Kalau berdasarkan pengalamku, dulu itu setiap Arema main, pertokoan itu banyak yang tutup. Mungkin, Arema itu menjadi momok untuk masyarakat. Terus, kalau ada plat mobil dari rival kita, itu pasti dihancurin,” sambung Yuli menambahkan.

Dari pengalaman buruk tersebut, para suporter pun menyadari bahwa perilaku mereka memanglah salah. Dari situ, Yuli dan kawan-kawannya pun mulai memberikan arahan kepada para suporter nakal yang kerap kali berbuat onar.

“Dari situ, kalau kita ketemu sama teman-teman yang bikin onar, mulai diberi tahu. Karena, kami ingin menjaga harga diri sebagai suporter Arema. Sampai pada akhirnya, kesadaran itu muncul dengan sendirinya.”

“Dengan adanya Arema ini, masyarakat Kota Malang harusnya bisa punya rasa memiliki dan mencintai dan bisa merasakan kebersamaan ini. Jadi, kami buat surat undangan untuk teman-teman supaya kumpul.”

Setelah berhasil menyatukan kelompok suporter yang ada di kota Malang, Yuli pun merasakan sebuah perubahan yang sangat besar. Menurutnya, kehadiran Aremania sebagai sebuah komunitas berhasil menekan angka krimininalitas dan tawuran antar kampung yang biasa terjadi di Malang.

“Alhamdulillah juga, dengan adanya Aremania ini, tawuran antar kampung, tawuran antar sekolah, akhinya bisa menyusut dan perlahan hilang. Alhamdulillah, adanya Aremania ini menjadi salah satu ciri khas Kota Malang.”

Comments
Loading...