Mengenal Tony Britten, Pencipta Anthem Liga Champions

Football5star.com, Indonesia – Ada pemandangan menarik saat final Liga Champions yang mempertemukan PSG vs Bayern Munich di Stadion Da Luz, Portugal, Senin (24/8/2020). Salah satu official wasit di laga tersebut tertangkap kamera bersikap seperti lagu kebangsaan satu negara dikemundangkan.

Ia bersikap seperti itu saat anthem Liga Champions berkumandang sesaat sebelum laga berlangsung. Athem Liga Champions memang memberi aura tersendiri tidak hanya bagi pemain, wasit, tapi juga para pencinta sepak bola.

Musik yang begitu ‘mistis’ ini memotivasi seorang Robert Lewandowski, memikat bagi Hansi Flick, namun juga membawa kesedihan di akhir bagi Neymar, Kylian Mbappe, dan pemain PSG di dinihari tadi. Selama hampir tiga dekade, athem Liga Champions selalu menyemangati tim dan para penggemar di seluruh Eropa.

Tapi tahukah kamu bahwa musik itu hanya dibuat dalam beberapa minggu saja oleh seorang kelahiran Croydon, Inggris bernama Tony Britten.

Tony Britten bercerita bahwa Liga Champions 1992 jadi awal dirinya ditawari untuk membuat athem tersebut. Saat itu, sebuah agen pemasaran yang bekerjasama dengan UEFA menawari proyek tersebut.

“Itu sudah lama sekali dan sejujurnya itu hanya pekerjaan lain saya.” kenang Britten seperti dikutip Football5star.com dari bbc.

“Saat itu, UEFA meminta athem yang membuat semangat untuk para tim yang bertanding. Kompetisi Liga Champions pada masa itu sangat melelahkan dan banyak masalah muncul karena kasus hooliganisme,” tambah Britten.

Inspirasi Anthem Liga Champions

Lantas dari mana inspirasi Britten menuliskan athem ternama tersebut?

“UEFA ingin kompetisi ini menjadi yang terbaik di sepak bola. Mereka ingin athem ini bisa jadi ‘lagu kebangsaan’. Saya melihat saat itu Piala Dunia di Italia baru saja berakhir dan mereka memiliki athem dengan tiga tenor jadi musik klasik adalah inspirasinya,” kata Britten.

Setelah mendapatkan inspirasi, Britten mengaku bahwa saat itu ia langsung masuk ke studio rekaman di Islington dan memadukan nada yang ia miliki dengan paduan suara dari Academy of St Martin serta Royal Philharmonic Orchestra untuk merekam athem tersebut.

Athem tersebut mampu ia buat dalam proses beberapa minggu. Namun sejumlah kritikus menyebutkan athem tersebut mirip dengan simponi milik komponis Inggris Georg Friedrich Händel.

“Ada yang bilang lagunya diambil dari Handel tapi bukan. Itu hanya kalimat pertama penulisan string dan sisanya aku yang membuatnya,” ucap Britten.

Fan Crystal Palace dan royalti yang tak besar

Menariknya Britten sendiri juga seorang pencinta sepak bola. Ia mengaku bahwa dirinya adalah fan dari klub Inggris, Crystal Palace. Sayang tim kebanggaannya tersebut tak pernah satu kali pun merasakan gelar bergengsi ini.

Britten mengaku bahwa dirinya selalu dibuat merinding saat mendengar athem ciptaannya didengarkan di dalam stadion.

“Saya ingat saat menonton Arsenal dan mendengar athem tersebut diperdengarkan. Saat itu Arsenal masih bermain di Highbury. Tapi saya selalu merasakan sensasi saat mendengar itu di dalam stadion,”

Namun meski menjadi pengarang athem Liga Champions, Britten mengaku bahwa ia tak mendapat royalti yang besar. Bahkan menurutnya, ia sama sekali tak mendapat royalti saat athem tersebut diperdengarkan secara bebas di Rusia dan Cina.

“Saya masih mendapatkan royalti tapi tidak jutaan. Bahkan saya baru tahu bahwa saat athem itu diperdengarkan di Cina dan Rusia, saya tidak mendapatkan sama sekali royalti.” tambahnya.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More