Mengindustrikan Sepak Bola, Memajukan Ekonomi Kerakyatan

Football5star.com, Indonesia – Sepak bola harus jadi industri. Kalimat itu jadi kesimpulan besar saat Menteri Olahraga dan Pemuda (Menpora) Imam Nahrawi membuka Piala Presiden 2019 di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, Sabtu (2/3/2019) lalu.

Sepak bola Indonesia harus maju, mutlak untuk bangkit. kata pria yang akrab disapa Cak Imin ini. Apa yang dikatakan oleh Imam sebenarnya jadi harapan Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) terhadap sepak bola nasional, wabil khusus harapan seluruh masyarkat Indonesia.

Perhelatan Piala Presiden 2019 ialah langkah dari pemerintah untuk konsisten menjalankan Inpres Percepatan Pembangunan Sepak Bola. Sejak dihelat pada 2015 lalu, Piala Presiden memang tunjukkan arah menuju industri sepak bola.

Ketua Steering Committe Piala Presiden Muararar Sirait secara lugas mengatakan bahwa kompetisi ini berlangsung tanpa sepeser pun uang negara. Artinya Piala Presiden masuk dalam kategori konmpetisi sepak bola yang profesional seperti di negara-negara maju.

Audit keuangan klub

Syarat kompetisi sepak bola dianggap profesional jika merujuk pada aturan FIFA bisa dikatakan Piala Presiden masuk ke dalamnya.

Berdasarkan The FIFA Club Licensing Regulations yang disahkan pada Kongres Munich 2006, kompetisi sepak bola di negara anggota FIFA wajib mengedepankan transparansi keuangan dan mempromosikan nilai-nilai olahraga yang sesuai dengan prinsip adil serta lingkungan pertandingan yang sesuai dan aman.

Mari kita tengok perjalanan kompetisi Piala Presiden sejak pertama kali digelar, utamanya di poin transpransi keuangan.

Pada 19 Oktober 2015, Presiden Jokowi sudah meminta klub peserta Piala Presiden agar keungan mereka di audit. Hal ini sebagai upaya pertanggungjawaban kepada publik.

Tak tanggung-tanggung, penyelenggara Piala Presiden bahkan bekerja sama dengan auditor internasional, PricewaterhouseCoopers (PwC).

Lembaga audit yang pernah mengaudit event Piala Dunia dan Olimpiade dalam laporannya mencapai kesimpulan bahwa keuangan klub selama perhelatan Piala Presiden 2015, ‘Wajar Tanpa Pengecualian’.

Absen di 2016, Piala Presiden baru dihelat setahun kemudian, PwC kembali menjadi auditor di turnamen ini. Ketum PSSI saat itu, Edy Rahmayadi mengatakan bahwa digandengnya PwC sebagai langkah nyata membuat sepak bola Indonesia lebih profesional.

Keprofesionalan pengelolaan penyelenggaraan Piala Presiden 2017 yang diharapkan Ketum PSSI saat itu, Edy Rahmayadi, terus berlanjut di tahun selanjutnya. Laporan PwC di Piala Presiden 2018 berakhir dengan kesimpulan ‘Wajar Tanpa Masalah’.

Bahkan untuk Piala Presiden 2018, penyelenggara Piala Presiden 2018 meraup untung Rp 9 miliar, naik Rp 3 miliar dibanding Piala Presiden 2015.

Sedangkan untuk Piala Presiden 2019, dana sponsor yang masuk mencapai angka Rp 52 miliar. Meski menurun Rp 3 miliar dibanding musim lalu, perhelatan Piala Presiden 2019 dianggap masih menarik minat sponsor.

pssi.org

“Sponsor luar biasa, sampai hari ini ada Rp 46 miliar kami dapat dari Emtek. Dari sponsor (lainnya) Rp 6 miliar. Sudah bagus sekali, sampai saat terakhir juga masih ada yang memberikan sponsor,” ujar Ketua SC Piala Presiden 2019, Maruarar Sirait seperti dikutip football5star.com dari pssi.org.

Paparan ini tentu saja membuat misi Jokowi agar turnamen ini bisa menjadi awalan berputarnya industri profesional sepak bola negeri ini patut diancungi jempol. Berputarnya industri sepak bola tentu saja bakal berdampak pada pergerakan roda ekonomi kreatif di level mikro.

Penggerak ekonomi kerakyatan

Gagasan Jokowi di penyelenggaraan Piala Presiden dari sudut pandang ekonomi merupakan bentuk nyata stimulus pemerintah menggerakan ekonomi kerakyatan yang kreatif.

Gagasan bahwa sepakbola pada hakaketnya ialah bagian dari ekonomi kreatif mungkin sangat sedikit yang mendengarnya. Sepak bola selalu identik dengan skala bisnis besar.

Padahal di tiap sudut-sudut stadion saat laga Piala Presiden berlangsung, pedagang kaki lima, tukang gorengan, hingga penjual jersey meraup untung berlipat.

pssi.org

Fakta tersebut tentu saja menjadi penguat mengapa Jokowi mempunyai misi Piala Presiden harus menjadi roda pertumbuhan ekonomi rakyat yang kreatif.

Merujuk pada New England Foundation for the Arts, ekonomi kreatif merupakan sektor ekonomi yang memperoleh nilainya dari memproduksi dan mendistribusikan barang dan jasa pelbagai sektor yang berdampak pada ekonomi dengan menghasilkan pekerjaan, pendapatan dan kualitas hidup.

Jelas memang sepak bola menciptakan banyak lapangan pekerjaan, mulai dari pemain, manajemen klub, pengurus stadion, anak gawang, calo tiket, penjual jersey, pengamat, jurnalis, sampai penulis di konten agregator.

Saat laga final Piala Presiden 2019 di Stadion Kanjuruhan misalnya. Omset penjualan jersey disebut menembus angka Rp 60 juta per dua hari.

Perputaran uang di skala ekonomi mikro selama perhelatan Piala Presiden juga bisa kita lihat dari acara nonton bareng (nobar) misalnya. Mundur sedikit ke Piala Presiden 2015, warga Bandung berburu penyewaan proyektor in focus untuk gelar nobar.

Meningkatnya permintaan kala itu tentu saja membuat harga sewa proyektor in focus menjadi berlipat ganda. Harganya naik menjadi 20-30 persen dari kisaran Rp 300 ribu – Rp 1,5 juta di hari normal.

Di perhelatan Piala Presiden 2019 di mana laga final berlangsung dengan sistem home & away juga dimaksudkan untuk mendorong roda perekonomian. Hal ini bisa dilihat dari maraknya penyelenggaraan nobar di sejumlah cafe dan tempat makan.

@brigade_bonek

Di leg pertama, nobar final Piala Presiden 2019 tidak hanya berlangsung di kota Malang bahkan sampai ke Balikpapan, Pontianak, Sampit, dan kota-kota lain di seluruh Indonesia. Begitu juga dengan final kedua, nobar dihelat di 30 titik di kota Surabaya.

Melihat Piala Presiden dari sisi ekonomi kreatif akan mendatangkan perspektif baru di penonton sepak bola bahwa olahraga ini seharusnya bisa menjadi tempat untuk menempa identitas mereka dan memberikan kontribusi positif untuk sekitar.

Comments
Loading...