Minyak Bumi dan Perang Dunia yang Membuat Sepak Bola Iran Bergeliat

Football5star.com, Indonesia – Iran jadi trending topic. Negara yang dikenal dengan julukan Negeri Para Mullah itu maklumatkan perang terhadap negara Adidaya Amerika Serikat pasca tewasnya Jenderal Iran Qassim Suleimani.

Kekhawatiran menyeruak di sejumlah penjuru dunia akan ancaman perang dunia ketiga yang mungkin terjadi. Tentu saja jika hal itu terjadi banyak pihak yang dirugikan, pun dengan dunia sepak bola. Menariknya, justru perang dunia pertama yang membuat sepak bola Iran menunjukkan geliatnya.

quora

Sebelum sampai ke pengaruh perang dunia pertama ke sepak bola Iran. Ada baiknya kita melihat terlebih dahulu sejauh mana memang kultur dan budaya sepak bola di Iran.

Sebuah survei di Iran pada 2014 lalu menyebutkan bahwa acara televisi paling populer masyarakat Iran ialah menonton salah satu tayangan bernama 90 menit yang berisi analisis sepak bola dan tentu saja bagi anak-anak muda, tayangan yang sangat mereka sukai ialah Captai Tsubasa.

“Di Iran, pemerintah memang mengawasi ketat soal saluran televisi asing, mereka yang mengakses televisi asing disebut melakukan tindakan illegal. Namun orang Iran akan melakukan apa saja demi bisa menonton siaran liga top Eropa atau bagaimana anak-anak di Iran sangat mengandrungi tayangan kartun Jepang, Captain Tsubasa” tulis laporan quora

Berawal dari minyak bumi

Laporan dari ghandchi menyebutkan sulit bagi pemerintah Iran untuk menghalangi sepakbola di sana, pasalnya menurut sejarahnya sepakbola di Iran ternyata sudah ada sejak 1 abad yang lalu.

Sekelompok orang Inggris saat itu dikisahkan menjadi penyebar sepakbola bagi orang-orang Iran. Kala itu orang-orang Inggris ini datang ke Iran dalam misi mengeksploitasi minyak di kawasan Iran Selatan.

reuters

Saat minyak bumi pertama ditemukan di daerah Masjed Soleyman, Khuzestan, Iran pada 1908, sepakbola di daerah ini begitu melesat saat itu. Di kota ini sendiri berdiri klub Naft Masjed Soleyman F.C, salah satu klub sepakbola tertua di Iran.

Setelah Perang Dunia I usai, Iran mendapat pengaruh cukup besar dari Jerman untuk urusan sepakbola. Hal ini tak lepas dari unsur politis usai Perang Dunia 1. Menariknya sejak Jerman memainkan perannya di sepakbola Iran, kompetisi sepakbola pertama di Iran diluncurkan.

Kompetisi sepak bola Iran pasca Perang Dunia I

Pada 1919, kompetisi amatir beberapa kali dihelat oleh sejumlah klub yang sudah terbentuk di Iran. Ialah seorang kiper bernama Hossein Ali Khan-Sardar, yang bisa dibilang sebagai pelopor untuk klub sepakbola Iran berkembang lebih baik kala itu.

Hossein Ali Khan-Sardar dianggap punya potensi lebih saat itu karena ia tercatat pernah membela salah satu klub Eropa yakni Servette FC (dulu bernama Servette Geneva) pada 1920. Pulang ke Iran, ia memberikan pelajaran banyak soal kompetisi sepak bola di Eropa untuk kampung halamannya.

Carlos Queiroz - Iran - Piala Asia 2019 - worldfootball.net
worldfootball.net

Tahun-tahun berikutnya, sepakbola Iran merangkak naik. Sejak melakukan laga resmi pertamanya melawan Uni Soviet pada laga tidak resmi Timnas mereka, Iran kemudian pada September 1941 mengadakan pertandingan internasional pertama melawan Afganistan di Kabul.

Setelah itu, sepakbola Iran melesat bak meteor dibanding negara-negara Asia lainnya. Saat negara-negara di Asia lainnya tengah berkecamuk perang, Iran sudah membentuk Timnas mereka sejak awal 1940-an. Maka tidka mengherankan jika raihan prestasi Iran di level regional atau internasional melebihi negara-negara lain di Asia.

Peringkat ke-33 FIFA ini, sudah kali enam kali lolos ke pentas Piala Dunia, terbanyak ketiga setelah Korea Selatan dan Jepang. Setelah di era 90-an, Iran terkenal dengan nama-nama pesepakbola seperti Ali Daei, Ali Karimi, Mehdi Mahdavikia, ataupun Javad Nekounam.

Pada pentas Piala Dunia 2018 lalu, Iran diisi generasi emas seperti Sardar Azmoun, Ashkan Dejagah, Karim Ansarifard, ataupun Morteza Pouraliganji. Meski jalan mereka terhenti di babak fase grup.

Comments
Loading...