Nestapa Klub Tua di Tengah Gemerlap Liga Inggris

Football5star.com, Indonesia – Kondisi miris tengah dialami sejumlah klub tua di tengah gemerlap Liga Inggris. Hidup segan mati pun tak mau dirasakan oleh klub-klub ini.

Bolton Wanderes dan Bury FC jadi klub tua yang saat ini berada di ujung tanduk. Kedua klub yang sekarang berkompetisi di kasta kedua Liga Inggris memiliki waktu 2 hari untuk menyelesaikan masalah finansial yang tengah melilit.

“EFL mendesak semua pihak di jajaran klub untuk berkomunikasi dan bersatu untuk mendapat solusi yang positif untuk permasalahan ini,” bunyi pernyataan Otoritas EFL Championship seperti dikutip dari Football5star.com dari BBC, Senin (26/8/2019).

Bolton yang berdiri 145 tahun silam sudah alami krisis finansial sejak 2016 lalu. Saat saham mayoritas Bolton dibeli oleh Ken Anderson, kesulitan keuangan mencapai titik nadir. Sejumlah pemain sampai harus mogok bertanding karena belum terbayarkan haknya.

Sky Sports

Bahkan saat akan lakoni pertandingan melawan Doncaster Rovers di lanjutan Football League One pada 21 Agustus 2019 lalu, hanya ada tiga pemain yang siap untuk bertanding. Penundaan pertandingan pun mau tak mau dilakukan oleh klub berjuluk The Whites tersebut.

“Dengan penyesalan dan rasa frustasi yang mendalam, kami terpaksa menunda pertandingan melawan Doncaster Rovers,” bunyi pernyataan Bolton.

Kondisi tak jauh berbeda juga dialami Bury FC. Bury merupakan klub yang berdiri 134 tahun silam. Saat ini mereka tercatat berkompetisi di League Two, kasta ketiga Liga Inggris.

Sejak 2018 klub ini memang berada di kondisi finansial yang sangat buruk. Mereka menunggak tagihan pajak yang angkanya sangat luar biasa. Bahkan penguasaha Steve Dale yang mengambil alih klub ini sampai angkat tangan untuk melunasi hutang pajak ini.

April 2019 saat manajemen klub tengah berupaya melunasi hutang pajak, pengadilan setempat menjatuhkan hukuman kepada klub itu untuk segera membayar gaji para pemain. Mereka diberi waktu 7 hari setelah keputusan untuk melunasi tunggakan gaji tersebut.

Dale menyebut bahwa ia harus mengeluarkan dana mencapai 1,6 juta poundsterling untuk membayar hutang gaji. Itu belum total hutang pajak. Dale mengaku merasa ditipu dengan jumlah hutang tersebut.

Bury FC yang terletak di pinggiran kota Manchester harus memohon-mohon untuk bisa bertahan hidup. Sementara dua klub tetangga tengah diasyikan dengan kucuran dana sponsor, dana hak siar TV, dan gemerlap panggung Liga Inggris.

Liga Inggris bak Wild West

Sebelum krisis finansial yang dialami Bolton dan Bury FC saat ini, klub tua lainnya juga alami serupa. Pada 2013 klub yang berdiri 1895 Oldham bahkan melarang para pemainnya untuk bertukar jersey sesudah pertandingan.

“Mohon diperhatikan, karena kurangnya persediaan kaos, pemain dilarang bertukar kostum seusai pertandingan melawan Everton,” tulis pernyataan resmi klub saat itu.

Mantan pemilik Leeds United Gerald Krasner menyebut bahwa keuangan klub tua di Inggris alami kondisi paling tak mengenakkan. Ia menganggap krisis finansial yang dialami klub tua Inggris sebagai pertempuran di dunia Wild West.

“Mereka yang memiliki amunisi lengkap bisa menang. Sedangkan yang tidak akan hancur. Ini kondisi terparah yang saya alami sejak 15 tahun berkecimpung di Liga Inggris,” kata Krasner seperti dikutip dari BBC.

Leeds United pada 2005 juga merasakan bagaimana sulitnya keluar dari jerat finansial. Saat itu Krasner menyebut bahwa Leeds memiliki hutang 103 juta poundsterling saat ia mengambil alih.

Laporan dari Forbes menyebut bahwa pada rentang waktu 2007 hingga 2012 terdapat sejumlah petisi untuk penutupan klub yang sudah tak mampu lagi secara finansial. Tercatat ada 18 klub yang mendapat petisi untuk dibubarkan.

Dari beberapa klub yang masuk petisi untuk dibubarkan, sejumlah klub tua seperti Coventry City mampu lolos dari jerat finansial. Pun juga dengan Portsmouth, Birmingham City, hingga Leeds United.

Jauh sebelum itu klub yang berdiri ratusan tahun memang dihadapkan pada masalah pelik. Mereka harus meminjam dana ke bank untuk bisa menarik mendatangkan uang baru.

Pada 1931 laporan dari Bernard Mnzava dari University of Leeds menyebut bahwa Wigan pada tahun itu memiliki hutang sebesar 20 ribu poundsterling kepada bank. Dana sebesar itu diperuntukkan menarik suporter nonton langsung ke stadion.

Rob Wilson seorang pakar keuangan di Inggris menyebut penyakit finansial yang dialami klub tua ini dikarena tidak adanya aturan ketat untuk para kreditor memeriksa keuangan klub.

Faktanya memang para klub tua ini terlilit masalah finansial, setengah disebabkan tunggakan pajak yang tak terbayarkan. Pemilik klub rata-rata kemudian mengelabui laporan pajak dan kemudian menjual klub ke pemilik baru.

Kondisi yang dialami klub tua ini jadi bagian lain dari gemerlapnya panggung Liga Inggris. Mereka yang dulu dianggap pelopor kini tinggal menunggu waktu digilas industri sepak bola yang makin menggurita.

Comments
Loading...