Neymar Serang Wasit: Saya Ingin Pukul Orang!

Football5Star.com, Indonesia – Neymar Jr tampaknya masih tak terima mendapat perlakuan rasisme dari Alvaro Gonzales dan kini menyerang wasit. Dia heran wasit laga Paris Saint-Germain vs Marseille mengambil keputusan tanpa tahu kejadian sesungguhnya,.

Seperti diketahui, laga Paris Saint-Germain vs Marseille memang dipenuhi berbagai drama. Bahkan, wasit terpaksa mengeluarkan lima kartu merah sekaligus karena ada ketegangan di atas lapangan. Hal ini disebut-sebut berawal dari aksi Alvaro Gonzales yang bersikap rasisme ke Neymar.

Melalui Instagram pribadinya, bintang asal Brasil itu kembali menyuarakan kekecewaannya. Dia bahkan menyerang wasit yang memimpin pertandingan itu karena sudah mengusirnya keluar.

“Kemarin, saya memberontak. Saya dihukum dengan kartu merah karena saya ingin pukul orang itu, seseorang yang menyinggung saya. Saya pikir, saya tak bisa pergi tanpa melakukan sesuatu karena saya sadar mereka bertanggung jawab tapi tak melakukan apa-apa,” tulis Neymar.

“Dalam olahraga kami, agresi, penghinaan, sumpah serapah adalah bagian dari permainan. Anda tidak bisa menjadi penyayang. Tapi rasisme dan intoleransi tidak bisa diterima,” sambung dia.

Mantan pemain Santos FC itu merasa memang memiliki keturunan orang kulit hitam. Tapi Neymar ingin mereka yang bertanggung jawab atas pertandingan ini punya posisi yang tak memihak tanpa berprasangkan buruk.

Neymar Serang Wasit: Saya Ingin Pukul Orang! Dani Alves Pasang Badan Bela Neymar Usai Diserang Rasisme

“Saya sedih dengan perasaan kebencian yang bisa kita membuat banyak orang terpancing pada momen yang panas. Haruskah saya mengabaikannya? Saya belum tahu. Hari ini, dengan kepala dingin, saya katakan ya. Tapi rekan saya dan saya meminta bantuan wasit dan kami diabaikan. Itulah intinya!,” tegas Neymar.

Neymar kemudian menutup, “Suatu tindakan menimbulkan reaksi. Saya menerima hukuman saya karena saya seharusnya mengikuti aturan sepak bola yang semestinya. Saya berharap pelanggar juga akan dihukum. Rasisme ada. Itu ada. Tapi kita harus menghentikannya. Tidak lebih. Cukup!.”

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More