Nostalgia Hari Ini: Argentina Juara Piala Dunia Saat Rakyat Menderita

Football5star.com, Indonesia – Sebagai salah satu negara terkuat dalam urusan sepak bola, Argentina sudah membuktikan prestasinya. Dua gelar Piala Dunia jadi bukti sahih betapa hebatnya negara Amerika Latin tersebut.

Piala dunia 1978 adalah awal cerita kehebatan mereka. Pada tahun tersebut mereka pertama kalinya menjadi juara dunia. Dan lebih membanggakan lagi torehan itu diraih di negara mereka sendiri.

Akan tetapi, bukan perkara mudah bagi Argentina menggelar Piala Dunia. bukan sepak bola yang jadi masalahnya. Melainkan tensi politik negara yang berada di ambang penderitaan.

History

Ketika itu negara tetangga Uruguay baru saja memulai masa kelam dalam sejarah mereka. Junta militer melakukan kudeta untuk menaikkan sang diktator, Jorge Rafael Videla, sebagai presiden.

Naiknya Jorge Rafael Videla yang sudah dikenal kejam oleh dunia membuat beberapa negara protes terhadap kelangsungan Piala Dunia 1978 di Argentina. Belanda paling lantang menolak. Penolakan ini pula yang berimbas pada absennya sang maestro, Johan Cryuff, dari turnamen.

Apa yang ditakutkan Belanda terbukti. Tangan besi Videla ternyata masuk juga ke lapangan. Dan tentu saja itu dia lakukan demi mulusnya jalan Albiceleste menunggu tangga juara.

The Guardian

Laga Argentina vs Peru berlangsung penuh intrik. Butuh menang lebih dari empat gol untuk lolos, sang tuan rumah berpesta enam gol tanpa balas. Belakangan diketahui bahwa Videla mengancam skuat Peru agar mengalah.

Daniel Passarella dkk akhirnya mencapai laga final. Dan tepat hari ini 42 tahun silam partai final melawan Belanda berlangsung di stadion El Monumental. Di hadapan 71.483 pasang mata negara berpesta menyambut gelar Piala Dunia pertama mereka.

Dua gol Mario Kempes dan Daniel Bertoni memastikan kemenangan 3-1 Argentina atas Belanda. Di balik teror yang terus menghantui mereka, rakyat masih mampu bersuka cita merayakan kesuksesan negara tercinta.

Daily Mail

Padahal setiap harinya mereka hidup dilanda ketakutan. Pembunuhan dan penculikan adalah hal wajar yang dilakukan selama Videla memimpin negara.

Tak heran rasanya jika trofi Piala Dunia 1978 disebut-sebut sebagai gelar pelipur lara. Untuk sejenak mereka bisa melupakan kekejaman Jorge Videla.

Untuk sejenak mereka juga lupa telah hidup di bawah garis kemiskinan dan ketakutan. Dan untuk sejenak pula mereka lupa bahwa sang diktator juga ikut berpesta bersama mereka di stadion El Monumental.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More