Nostalgia Hari Ini: Catenaccio Jadi Senjata Inter Milan Rajai Eropa

Football5star.com, Indonesia – Tepat 55 tahun lalu Inter Milan berhasil merajai kompetisi Eropa. Lewat taktik Catenaccio, La Beneamata mengalahkan Benfica dengan skor 1-0 di hadapan 85.000 penonton Giuseppe Meazza.

Yang menarik adalah Inter sebenarnya bukan unggulan di laga tersebut. Meski berstatus sebagai juara bertahan, namun lebih banyak yang mengunggulkan Benfica.

Sebab, di klub tersebut ada sosok mesin gol, Eusébio dan José Augusto Torres. Keduanya sama-sama top skor kompetisi tersebut dengan catatan sembilan gol.

Meski demikian, keduanya tak berkutik lawan Inter. Hal ini tak lepas dari tangan dingin Helenio Herrera yang menerapkan strategi Catenaccio. Terbukti sepanjang turnamen, Nerazzurri hanya kebobolan satu gol.

Nostalgia Hari Ini: Catenaccio Jadi Senjata Inter Milan Rajai Eropa
UEFA

Selain dari strategi, Inter juga sukses memanfaatkan faktor cuaca. Sebab lantaran hujan deras yang mengguyur langit Milan, laju bola di lapangan sangat terhambat. Faktor ini yang juga membuat Benfica tampil buruk, karena raksasa Portugal itu sangat mengandalkan serangan cepat ke jantung pertahanan lawan.

Bagi Inter, ini merupakan gelar kedua mereka dalam dua musim beruntun. Pada musim sebelumnya, mereka juga sukses merajai Eropa.

Gelar pada 1965 itu juga menjadi yang terakhir, sebelum akhirnya mereka juara di Liga Champions setelah mengalahkan Bayern Munich pada final Liga Champions 2009-2010.

Bapak Catenaccio

Helenio Herrera inter milan
UEFA

Jauh sebelum Jose Mourinho atau Diego Simeone, dua pelatih era modern yang dikenal menganut sepak bola pragmatis, nama Helenio Herrera telah melegenda sebagai peramu taktik bertahan superkokoh.

Ramuan taktik yang kini kita kenal dengan nama Catenaccio alias sepak bola gerendel menjadi peninggalan besar Herrera.

Saat pertama kali datang ke Inter, Herrera sebenarnya coba menerapkan sepak bola terbuka, kreatif, dan menghibur seperti yang ia lakukan di Barcelona. Namun prestasi maksimal yang mampu diraih oleh sang pelatih hanyalah posisi ketiga dan runner-up Serie A. Tidak puas dengan hal tersebut, ia coba mengubah taktiknya.

Ia menurunkan salah seorang gelandangnya, Armando Picchi, menjadi sweeper, menciptakan formasi lima bek dan memberikan kebebasan pada bek sayap kiri untuk menyerang.

Giacinto Facchetti yang mengisi posisi itu memegang peran sentral seiring Herrera ingin menerapkan sepak bola vertikal yang efektif. Ia hanya menginginkan timnya bertahan secara disiplin lalu melancarkan serangan balik dengan dua-tiga sentuhan untuk mencapai kotak penalti.

Tidak hanya dari segi taktik Herrera melakukan revolusi terhadap Inter. Pria kelahiran Argentina itu juga membuat latihan di Inter menjadi sangat ketat, keras, dan ambisius. Ia tidak hanya disiplin secara metode, tetapi juga detail dalam perlakuan mental pemainnya.

Revolusi tersebut berbuah manis bagi sang pelatih. Herrera berhasil membawa Nerazzurri merajai Eropa dua musim beruntun, disertai dengan tiga Scudetto, dan satu Piala Italia.