Nostalgia Hari Ini: Cerita Manis Sriwijaya FC yang Selalu Dikenang

Football5Star.com, Indonesia – 10 Februari 2008, boleh dikatakan menjadi hari teristimewa buat klub asal Palembang, Sriwijaya FC. Sebab, pada tahun itu, cerita manis mereka dimulai dan akan selalu dikenang oleh pendukungnya.

Musim itu sebenarnya jadi yang terakhir digelarnya Liga Super sebelum berubah menjadi Indonesia Super League. Sriwijaya, memang sedari awal sudah tancap gas. Mereka bahkan sukses menjadi juara zona Barat dengan mengumpulkan 66 poin dari 34 pertandingan.

Kala itu, Sriwijaya memang diperkuat sejumlah pemain-pemain bintang, mulai dari Keith Kayamba Gumbs, Zah Rahan, Anoure Obiora, Wijay Singh, Tony Sucipto, hingga Ferry Rotinsulu. Mereka jua diasuh oleh pelatih berpengalaman, Rahmad Darmawan.

Nostalgia Hari Ini: Cerita Manis Sriwijaya FC yang Selalu Dikenang
Dok. Antara

Usai lolos ke babak delapan besar, penampilan Sriwijaya FC kian tak terbendung. Mereka pun kembali jadi pemimpin Grup A dengan mengumpulkan lima poin saat melawan PSMS Medan, Arema Malang, dan Persiwa Wamena.

Dalam laga semifinal, secara luar biasa Sriwijaya juga mampu mengalahkan Persija Jakarta lewat gol semata wayang Keith Kayamba. Nah, dalam laga puncai di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, mereka sebenarnya tak terlalu diunggulkan jadi kampiun saat kembali menghadapi PSMS Medan.

Selain sukses mengandaskan tim favorit juara, Persipura di semifinal, PSMS saat itu juga diperkuat sejumlah pemain ternama. Sebut saja Markus Horison, Mahyadi Panggabean, Supardi, Saktiawan Sinaga, hingga James Koko Lomell.

Malam Pembuktian

Bola itu bundar, begitu ujar-ujar yang acap dikatakan yang seakan menggambarkan dalam sepak bola semua bisa terjadi di atas lapangan. Hal itulah yang dilakukan oleh Sriwijaya FC dalam malam di Kabupaten Bandung, 10 Februari 2008.

Sriwijaya sempat membukan keunggulan terlebih dahulu melalui Anoure Obiora saat laga baru berjalan 15 menit. Namun, ternyata laga tak semudah itu ditaklukkan oleh anak asuh Rahmad Darmawan.

Atmosfer Derby Sumatera memang sangat kental. Permainan keras diperagakan kedua kesebelasan hingga akhirnya PSMS mampu menyamakan kedudukan menit ke-69 melalui James Koko Lomell. Itu adalah gol ke-19 James Koko pada musim tersebut.

Skor 1-1 bertahan hingga 90 menit. Laga kemudian dilanjutkan via babak tambahan. Keith Kayamba yang lolos dari pengawalan sukses membuat Sriwijaya FC unggul lagi menit ke-107 usai menyambar bola tendangan pojok Ambrizal.

Zah Rahan kemudian menciptakan gol pengunci kemenangan sekaligus paling diingat oleh fans sriwijaya. Tepat menit ke-114, dia melepaskan tembakan jarak jauh memanfaatkan kelengahan Markus yang terlanjut maju ke depan.

Nostalgia Hari Ini: Cerita Manis Sriwijaya FC yang Selalu Dikenang
Dok. Kompas

Selebrasi Zah Rahan pun menjadi sorotan. Dia menyilangkan kedua tangan dan mengayunkannya. Seakan, eks pemain Persekabpas mengisyaratkan kalau laga sudah selesai.

Betul saja, tak ada tambahan gol yang tercipta dan Sriwijaya sukses menciptakan sejarah. Sebab, ini merupakan gelar perdana buat tim kebanggaan masyarakat Palembang.

Nostalgia Hari Ini: Cerita Manis Sriwijaya FC yang Selalu Dikenang
Dok. Sriwijaya FC

Cerita perjalanan mereka bertambah manis setelah sukses menambah satu lagi trofi musim tersebut. Hal itu usai mereka mengawinkan gelar Liga Indonesia dengan Coppa Indonesia.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More