Nostalgia Hari Ini: Era Baru Manchester City Bersama Sheik Mansour

Football5star.com, Indonesia – 1 September 12 tahun lalu jadi tanggal tak terlupakan bagi fan Manchester City. Kedatangan keturunan keluarga kaya raya dari Abu Dhabi, UEA, Mansour bin Zayed Al Nahyan mengubah wajah City dari klub semenjana menjadi klub besar dengan pundi-pundi uang.

Lewat perusahaan Abu Dhabi United Group (ADUG), Sheik Mansour mengambil alih Manchester City dari tangan Thaksin Shinawatra, eks Perdana Menteri Thailand. Sheik Mansour saat itu gelontorkan dana mencapai 210 juta poundsterling demi menjadi penguasa City.

Datangnya Sheik Mansour ke City memang di waktu yang sangat tepat. Kala itu City didera banyak masalah mulai dari finansial hingga sepak terjang tim di kancah Liga Inggris.

Al Bawaba

“Kami tidak bisa membayar tagihan. Kami tidak bisa membayar gaji. Semua uang dibekukan. Situasinya membuat kami putus asa. Kami berusaha meminjam uang ke mana saja. Kami meminjam uang kepada anggota dewan direksi. Bukan untuk menjalankan klub, tapi untuk selamat,” ucap Ketua eksekutif City saat itu, Garry Cook.

Awalnya kedatangan Sheik Mansour ke City sempat diragukan banyak pihak. Kompetisi Liga Inggris 2008-09 belum genap sebulan berjalan. Di musim sebelumnya, City hanya mampu finish di urutan ke-9. Sheik Mansour mau tak mau harus melakukan perubahan besar di klub ini.

Sebagai pemilik gelar sarjana dalam ilmu politik, langkah awal Sheik Mansour ialah memasang target, tim mana yang harus bungkam. Jawabannya tentu saja tim tetangga, Manchester United. Pundi-pundi uang pun mengalir ke manajemen City untuk melaksanakan misi robohkan hegemoni United.

Di tahun pertamanya, Mansour gelontorkan dana 1,2 miliar poundsterling untuk membangun tim mulai dari pembelian pemain hingga fasilitas stadion.

“Perasaan kami saat itu sangat lega. Lega karena kami sedang menjalani perubahan. Lega karena kami akan bisa menjaga kondisi finansial,” ujar Cook.

Diawali dengan Robinho

Pemain pertama yang tercatat masuk di era Mansour ialah winger asal Brasil, Robinho. Uniknya eks pemain Real Madrid ini datang ke City pada 1 September 2008 bukan menggunakan uang Mansour. Menurut Garry Cook, Robinho datang justru menggunakan uang pinjaman.

Manajemen City saat itu ingin datangkan Robinho untuk dijadikan bukti kepada calon penguasa City bahwa tim ini masih memiliki ambisi besar untuk menjadi tim besar di Liga Inggris.

Masuknya Robinho menjadi langkah awal perubahan besar di City. Era baru Manchester City bersama Sheik Mansour dimulai. Publik mulai melirik geliat City dengan datangnya Robinho.

Namun justru kedatangan Carlos Tevez yang membuat City mulai diprediksi bakal menjelma jadi tim besar oleh publik Inggris. Dalam rentang satu dekade kemudian, Mansour memang membuktikkan bahwa ia tak main-main membeli City.

Mansour yang gagal membeli Liverpool mampu mengubah wajah City. Sejumlah pemain top dunia berbondong-bondong ingin bermain di Etihad Stadium. Garry Cook beberapa waktu lalu juga sempat mengatakan sebelum era Mansour, sangat jarang ia lihat anak-anak kecil mau menggunakan jersey Manchester City.

“Kini orang di seluruh dunia memakai jersey Man City dengan penuh kebanggaan.” ucap Cook.

Beberapa kali ganti pelatih, City diakui banyak orang mengalami era keemasan saat Pep Guardiola tiba. Hegemoni United di Liga Inggris mampu dirobohkan oleh City dalam waktu beberapa tahun saja. Derbi Manchester yang sebelum era Mansour begitu hambar, kini sangat sengit dan menarik jutaan pasang mata.

Dua belas tahun memimpin City, Mansour mendapat 12 gelar juara, 4 diantaranya ialah gelar juara Liga Inggris. Namun yang menjadi pekerjaan rumah bagi Pep dan manajemen City tentu saja bagaimana memuaskan keinginan Sheik Mansour melihat City juara Liga Champions. Mungkin musim depan atau mungkin 2-3 musim lagi?

Liga InggrisManchester CityManchester UnitedNostalgia Hari IniPep GuardiolaRobinhoSheikh Mansour