Nostalgia Hari Ini: Korupsi Bikin Sepp Blatter Lengser Keprabon

Football5star.com, Indonesia – 2 Juni 2015, pria Swiss yang sudah 17 tahun memimpin federasi sepak bola seluruh dunia, FIFA, Sepp Blatter resmi mengudurkan diri. Ia mengundurkan diri empat hari setelah terpilih menjadi presiden FIFA untuk kelima kalinya.

“Mandat saya tampaknya tidak didukung oleh semua orang.” kata Blatter saat itu. Pengunduran diri Blatter juga selang dua hari setelah tujuh pejabat FIFA ditangkap karena dakwaan korupsi oleh Kejaksaan Agung Amerika Serikat.

“Saya amat terkait dengan FIFA dan kepentingannya. Kepentingan itu yang utama dan itulah kenapa saya mengambil keputusan ini,” tambah Blatter dalam konferensi pers di kantor pusat FIFA di Zurich

bbc

“Saya mencintai FIFA lebih dari apa pun dan saya hanya ingin memberikan yang terbaik. Saya memutuskan untuk tetap maju dalam pemilihan untuk kebaikan sepakbola,”

Sebelum pengunduran dirinya, FIFA diguncang kasus dugaan korupsi para petingginya. Kasus tersebut sempat membuat konfederasi sepakbola Eropa, UEFA, meminta agar pemilihan kongres pemilihan Presiden FIFA yang baru, pekan lalu, untuk ditunda. Padahal Blatter saat itu berharap UEFA yang dipimpin Michel Platini memberika dukungan kepadanya.

Blatter dikecam terkait dengan penetapan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022. Sejumlah kalangan menduga terjadi korupsi dalam proses penetapan tuan rumah. Dua anggota komite eksekutif FIFA telah diskors akibat dugaan korupsi ini.

Tak merasa Mundur

Yang menarik, beberapa hari setelah mengatakan pengunduran dirinya. Blatter sempat membantah bahwa ia melepas jabatannya sebagai presiden FIFA. Ia menyebut bahwa maksud kalimatnya pada 2 Juni 2015 ialah bahwa posisi presiden FIFA diserahkan kepada Kongres Luar Biasa.

“Saya tidak mengundurkan diri, saya lebih suka menyebut menyerahkan mandat saya kepada Kongres Luar Biasa,” ujar Blatter seperti dikutip Reuters

Di Kongres Luar Biasa FIFA sendiri yang berlangsung pada Oktober 2015, Blatter beserta Sekretaris Jenderal Jerome Valcke, dan Wakil Presiden Michel Platini diskors selama 90 hari.

the guardian

Kesalahan ketiga pejabat tinggi sepak bola tersebut adalah, Blatter saat itu tengah diselidiki kejaksaan Swiss karena dituding menjual hak siar Piala Dunia kepada rekannya di FIFA, Jack Warner, jauh di bawah harga pasar. Warner yang berasal dari Trinidad dikabarkan meraup untung 11 juta pound sterling dari transaksi itu.

Sedangkan Platini yang awalnya digadang-gadang menjadi pengganti Blatter diselidiki karena menerima 1,35 juta pound sterling dari FIFA pada 2011. Ia menyebut uang itu sebagai biaya konsultasi saat dia bekerja untuk Blatter.

Sedangkan Valcke sudah lebih dulu dibebastugaskan dari posisinya sebagai sekretaris jenderal karena dianggap terlibat dalam skandal penjualan tiket Piala Dunia 2014.

Rekam Jejak Blatter

Joseph Blatter lahir di Valais, Swiss, 10 Maret 1936. Ia mulai mengenal sepak bola pada 1975 saat bekerja menjadi direktur tekni FIFA. Sebelum berkecimpung di sepak bola, pria yang sempat dirumorkan menjadi kekasih Irina Shayk tersebut pernah menjadi anggota federasi Hoki Es Swiss.

Blatter sendiri berlatar belakag lulusan Universitas Lausanne dalam bidang Administrasi dan Ekonomi (Fakultas Hukum). Sejak terpilih menjadi presiden FIFA pada 1998, ia sempat diguncang isu suap meski tak pernah terbukti.

Pada 2001, posisi Blatter sempat terancam. Pasalnya partner marketing FIFA, Swiss International Sport and Leisure bangkrut. Di tahun yang sama, otoritas hukum Swiss sempat menyelidiki Blatter atas kasus tersebut. Namun ia lolos dari jerat hukum.

Satu tahun kemudian, Sekjen FIFA, Michel Zen Ruffinen meminta otoritas Swiss untuk kembali menyelidiki Blatter. Ia dianggap melakukan penyelewangan finansial, terlibat konflik kepentingan, dan penyalahgunaan kekuatan.

Menanggapi serangan ini, Blatter melakukan cara dengan membawa masalah ini hanya untuk konsumsi internal FIFA. Ia juga memerintah penghentian penyelidikan terhadap keuangan FIFA. Sementara para pejabat FIFA yang diduga melakukan penyelewangan ia lindungi.

Pada 2006, wakil presiden FIFA, Jack Warner sempat dituduh melakukan penipuan dalam penjualan tiket Piala Dunia 2006. Namun FIFA kemudian mengumumkan bahwa Warner bersih dari segala tuduhan tersebut.

Empat tahun kemudian atau periode kepempinan Blatter yang ketiga, tuduhan suap dan korupsi FIFA menjadi konsumsi umum. Puncak gunung es itu terjadi saat Qatar dan Rusia terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022.

Terpilihnya kedua negara tersebut membuat mantan jaksa agung Amerika Serikat, Michael J Garcia menyelidiki kasus tersebut. Pada Oktober 2015, Blatter bersama Platini dihukum berat oleh FIFA.

Akhir Sepp Blatter

Sepp Blatter dan Michel Platini dihukum dengan larangan terlibat dalam seluruh aktivitas terkait sepakbola untuk delapan tahun ke depan, demikian konfirmasi dari Komite Etik Independen FIFA.

Sanksi berat tersebut dijatuhkan kepada dua tokoh yang menjabat presiden FIFA dan presiden UEFA itu setelah divonis bersalah menyangkut pembayaran 2 juta franc Swiss dari FIFA – dikeluarkan atas izin Blatter – kepada Platini pada Februari 2011 tanpa masuk pembukuan resmi.

Hingga detik ini, Blatter masih bersikeras bahwa dirinya tak bersalah terhadap semua tuduhan yang ada. FIFA sendiri baru-baru ini meminta otoritas Swiss melanjutkan proses penyelidikannya terhadap kasus pelanggaran hukum Blatter.

“Kami telah mengajukan pengajuan resmi kepada OAG dengan alasan kuat bahwa penyelidikan perlu dilanjutkan,” bunyi pernyataan resmi FIFA.

“Memang, FIFA akan mempertimbangkan semua opsi hukum untuk memastikan bahwa orang-orang yang relevan akan dimintai pertanggungjawaban.”

FIFAinternasionalMichel PlatiniNostalgia Hari IniSepp Blatter