Nostalgia Hari Ini: Robohnya Stadion Menteng

Football5star.com, Indonesia – 26 Juli 2006, atau 14 tahun lalu, sebanyak 1250 aparat gabungan dan empat alat berat merobohkan Stadion Menteng, stadion yang memiliki sejarah bagi sepak bola nasional.

Pada era 2004 di Jakarta cukup sering terjadi tawuran antara pemuda yang disebabkan masalah lapangan sepak bola. Laporan dari Kompas pada 21 November 2004 misalnya menyebut sempat terjadi tawuran antara warga Kalianyar dengan warga Jembatan Besi disebabkan hal tersebut.

Saat itu (mungkin sampai sekarang) sulit memang mencari lapangan sepak bola. Ironisnya seperti dikutip dari buku ‘Komedi lenong: satire ruang terbuka hijau’ pemerintah Provinsi DKI Jakarta malah mengambil langkah tak populis. Lewat Dinas Pertamanan DKI Jakarta, Lapangan Menteng beralih fungsi menjadi taman kota.

Sontak saja keinginan Pemprov DKI Jakarta mendapat tentangan dari masyarakat sepak bola Jakarta. Jauh-jauh hari sebelum rencana penggusuran Stadion Menteng dilakukan oleh pihak Pemprov DKI, Persija sebagai klub yang bermarkas di stadion tersebut melakukan upaya perlawanan.

Sekretaris Umum Persatuan Sepakbola Indonesia Jakarta (Persija) saat itu, Biner Tobing, satu hari sebelum hari robohnya Stadion Menteng mengatakan bahwa apa yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta melupakan sejarah.

“Stadion ini sudah jadi bagian dari bangsa Indonesia, maka tindakan Pemprov untuk menggusur tempat ini menunjukkan bahwa mereka lupa akan sejarah,” katanya seperti dikutip dari Antara News.

Suara Penolakan

Suara penolakan tidak hanya datang dari Persija atau masyarakat sepak bola Jakarta. Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) saat itu, Adhyaksa Dault, juga menyesalkan dan mengaku prihatin dengan rencana Pemprov DKI Jakarta itu, mengingat sarana dan prasarana olahraga di DKI Jakarta semakin berkurang dan itu dinilai dapat menghambat pembinaan olahraga bagi pemuda.

Namun Pemprov DKI Jakarta tetap bersikeras. Menurut mereka, upaya untuk merobohkan stadion yang sudah dibangun sejak 1921 tak melanggar hukum. Kepala Biro Hukum Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta Jurnal Siahaan malah sempat menyebut bahwa aktivitas di Stadion Menteng saat itu lebih banyak pegadang kaki lima bukan aktivitas olahraga.

“Di sana (Stadion Menteng) itu yang marak justru bukan olahraga, tetapi pedagang kaki lima dan kios-kios. Makanya kita tertibkan,” kata Jurnal seperti dikutip dari Detik.

Pemprov berdalih bahwa pihaknya sudah menaati peraturan yang ada terkait penggusuran Stadion Menteng. “Walikota sudah memberikan surat peringatan untuk pengosongan. Pertama 7 kali 24 jam, kedua 3 kali 24 jam, dan ketiga 1 kali 24 jam,” ucap Jurnal.

Jurnal menyebut bahwa tanah dan bangunan Stadion Menteng itu juga telah dimiliki Pemprov DKI sejak 2001.”Yang kami lakukan bukan mengubah fungsi karena sarana olahraga tetap diperhatikan oleh Pemprov DKI.

Robohnya Stadion Menteng

Rabu 26 Juli 2006, atau 14 tahun lalu, sebanyak 1250 aparat gabungan dan empat alat berat sudah mengepung stadion ini sejak pukul 07:00 pagi. Laporan dari koran Tempo menyebutkan sebelum alat berat bekerja merobohkan tribun dan pagar stadion, sejumlah orang yang merupakan pengurus klub internal Persija berupaya melakukan negosiasi terakhir.

Upaya itu kandas. Tepat pukul 08:00 WIB, aparat meringsek masuk. Sejumlah orang yang mencoba untuk mempertahankan stadion ini terkena pukulan. Upaya aparat untuk menggusur stadion sempat terhenti pada pukul 10:00 WIB saat kuasa hukum Persija, Viktor Sitanggang datang dan meminta aparat menunjukkan surat pembongkaran.

Surat pun ditunjukkan dan tertera tanda tangan Walikota Jakarta Pusat, Muhayat. Usaha terakhir untuk mempertahankan stadion ini kandas. Bagi Pemprov DKI Jakarta saat itu, stadion ini mungkin sekedar bangunan fisik semata. Namun tidak bagi masyarakat sepak bola Jakarta.

 Nostalgia Hari Ini: Robohnya Stadion Menteng
Koran Tempo

Stadion ini adalah kawah candradimuka bagi pemain-pemain yang jadi legenda sepak bola nasional seperti Abdul Kadir, Iswadi Idris, Anjas Asmara, dan masih banyak lagi. Menariknya bakal tergusurnya stadion ini sendiri ternyata pernah diramal sejak 3 November 1962.

Sebuah artikel pendek berjudul ‘Persidja dan Persebaja dirundung kesulitan’di majalah Aneka tertanggal 3 November 1962 menuliskan, “Lapangan Persija itupun masih berdiri di atas duri—demi keindahan kota, mungkin akan dibongkar pula,”

Artikel itu menyoroti saat Lapangan Ikada dibongkar pada 1962. “Stadion Ikada sudah mulai dibongkar. Persija kehilangan lapangan di mana pertandingan kompetisi biasa diadakan,” tulis artikel tersebut.

Robohnya Stadion Menteng memang patut disesali. Padahal stadion ini sempat mendapat Surat Keputusan (SK) dari Gubernur DKI Jakarta bernomor DIV-6098/d/33/1975 bahwa Menteng merupakan kawasan pemugaran termasuk stadion yang patut dilindungi, dilestarikan, dan dikembangkan secara hati-hati sebagai kawasan lanskap cagar budaya.

Ironisnya SK ini diterjemahkan oleh pejabat Pemprov DKI Jakarta saat itu tanpa melihat faktor budaya dan sejarah sepak bolanya. Berbekal pengamatan mengenai kawasan yang enak dilihat mata tanpa adanya PKL, tempat bersejarah bagi sepak bola nasional pun rata dengan tanah dan menyisakan persoalan kelak di kemudian hari.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More