Nostalgia Hari Ini: Sepak Bola Gajah ala Persebaya

Football5star.com, Indonesia – 21 Februari 1988 mungkin akan selalu diingat oleh pendukung Persipura sebagai tanggal yang membanggakan. Bagaimana tidak, tim asal Papua itu meraih kemenangan 12-0 atas Persebaya di Kompetisi Divisi Utama 1987-88. Andai saat itu sosial media seperti saat ini, sudah pasti #Kawal120 bakal jadi trending.

Bagaimana bisa Persebaya kalah dengan skor mencolok seperti itu? Dari sejumlah catatan media di kala itu, Persebaya memang sengaja mengalah demi menjegal rivalnya PSIS Semarang melaju ke babak semifinal. Untuk bisa memenuhi misi itu, Bajul Ijo harus kalah minimal empat gol tanpa balas.

Nostalgia Hari Ini Sepak Bola Gajah ala Persebya
emosijiwaku.com

Persebaya musim 1987-88 saat itu memang menjadi tim yang difavortikan menjadi juara. Mereka diperkuat sejumlah pemain bertalenta seperti Subangkit, Maura Hally, Yongki Kastanja, Mustaqim serta kiper I Gusti Putu Yasa. Sebelum bersua dengan Persipura, Bajul Ijo mengawali musim dengan mengalahkan rival mereka, PSIS Semarang 1-0.

Berada di wilayah timur bersama PSM, Persiba, Perseman, serta Persipura, laju Subangkit cs sulit dibendung oleh tim lain. Hingga akhir skandal sepak bola gajah itu pun terjadi pada 21 Februari 1988. Sebelum melakoni sepak bola gajah melawan Persipura, Persebaya pada 7 Februari 1988 sempat menang 4-2 atas Perseman.

Alasan Persebaya Mengalah

Pada laga yang berlangsung di Stadion Gelora 10 November Surabaya, duet pelatih Kusmanhadi dan Misbach sengaja menurunkan para pemain pelapis melawa tim Mutiara Hitam. Dikutip dari buku Sepak Bola Gajah Paling Spektakuler, manajer Persebaya saat itu, Agil H Ali disebut mengumpulkan para penggawa Bajul Ijo sebelum kick off berlangsung.

“Saya ingat betul, saat itu, tiga hari sebelum pertandingan, kami dikumpukan Pak Agil di Hotel Majapahit,” kenang Muharam, salah satu penggawa Persebaya musim itu.

Nostalgia Hari Ini Sepak Bola Gajah ala Persebya2
sejarahpersebaya.com

Lantas apa yang disampaikan Agil? Tidak lain, tidak bukan tentu saja untuk melepas laga melawan Persipura. Tapi apa untungnya bagi Persebaya?

Banyak versi mengenai hal ini. Salah satu versi menyebutkan bahwa Persebaya saat itu memang sengaja mengalah demi mencegah PSIS masuk ke semifinal. Hal ini lantaran Persebaya masih punya dendam kepada Mahesa Jenar.

Dendam tersebut muncul lantaran pada Divisi Utama Perserikatan 1985/1986 Persebaya merasa dikecewakan oleh PSIS karena mengalami kekalahan dari PSM Makassar yang menjadi pesaing utama Persebaya sehingga tidak bisa lolos ke babak 6 besar.

Namun ada versi lain juga yang menyebutkan bahwa keputusan Persebaya ini demi menjaga keutuhan NKRI. Hal itu diungkap oleh peneliti sejarah Persebaya Dhion Prasetya.

“Alasan utamanya sebenarnya bukan karena PSIS. Tapi kasihan Persipura kalau sampai mereka gagal lolos (babak) 6 Besar, apalagi degradasi seperti Perseman Manokwari. Apa hiburan di Indonesia timur saat itu? Sederhana motifnya. Tapi kalau orang mencernanya pakai emosi, bisa beda,” ujar Dhion seperti dikutip dari Historia.

Namun apapun alasan utama dari keputusan itu, Persebaya pada musim itu nyatanya memang menciderai semangat sportivitas dalam sepak bola. Meski pada ujungnya tim ini mampu menjadi juara Kompetisi Divisi Utama 1987-88 setelah mengalahkan Persija di partai puncak.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More