Nostalgia Hari Ini: Tragedi Berdarah dalam Gelar Dunia Pertama AC Milan

Football5Star.com, Indonesia – 22 Oktober 1969 mungkin menjadi hari tak akan terlupakan buat AC Milan yang menjuarai Piala Interkontinental pertama kalinya. Tapi, perjuangan mereka untuk merengkuh gelar tersebut dipenuhi pertumpahan darah.

Rabu sore, 22 Oktober 1969 Ozvaldo Zubeldía, pelatih tim Estudiantes yang akan memimpin pasukannya dalam leg kedua Piala Interkontinental melawan Milan malam itu, memasukkan pasukannya ke kamar 704 Hotel Nogaro di Buenos Aires. Dia menyampaikan pidato terakhirnya sebelum tim melakukan perjalanan ke Bombonera untuk menjalani pertandingan.

Setelah kalah 0-3 di Italia tugas Estudiantes dan penggemar jelas memberi tekanan agar lawan ciut nyali. “Yang penting adalah tetap tenang, bermain bagus, mencoba memenangkan pertandingan bahkan jika kami tidak dapat memulihkan defisit agregat, memberikan penampilan yang baik tentang diri kami sendiri dan tidak membuat siapa pun dikeluarkan dari lapangan. Bermain bagus, keluar untuk menang, tapi tanpa kehilangan kendali,” kata Zubeldia kepada majalah Argentina, El Gráfico.

Pada malam itu atmosfer di dalam Bombonera begitu panas sehingga Milan mempersingkat pemanasan karena tekanan dari fans tuan rumah. Saat laga digelar, kekerasan kemudian dimulai. Di babak pertama Pierino Prati, striker Milan, ditendang ke tanah oleh kiper Estudiantes, Alberto José Poletti.

dok. The Guardian

Pierino bahkan mengalami gegar otak ringan dan sempat tidak sadarkan diri. Dia berhasil melanjutkan permainan hingga menit ke-37, sampai digantikan oleh Giorgio Rognoni. Saat itu, Milan sukses memperbesar keunggulan agregat menjadi 4-0 lewat gol menit ke-30 dari kapten Gianni Rivera.

Kriminalisasi Nestor Combin

Namun setelah itu nasib nahas jua menimpa Rivera yang menerima pukulan dari Alberto Poletti. Tak sampai di situ, bek Estudiantes, Ramon Aguirre Suarez menyikut wajah striker Milan kelahiran Argentina, Nestor Combin hingga patah hidung dan tulang pipi.

Estudiantes berhasil mencetak dua gol sebelum jeda, tetapi tidak mampu menutup jarak dan kalah agregat 2-4 dari Milan. Usai pertandingan, beberapa pukulan lagi didapatkan pemain Milan sepanjang jalan ke ruang ganti.

Bahkan usai pertandingan, Nestor Combin dijegat oleh pendukung Estudiantes dan mendapatkan banyak tekanan. Media lokal menggambarkan dia sebagai pengkhianat. Seorang hakim di provinsi asalnya, Santa Fe menuduhnya menghindari draf pada 1963 soal wajib militer. Dia kemudian dituduh melanggar dan ditahan kepolisian setempat.

AC Milan kemudian mengumpulkan bukti untuk membebaskannya karena sudah melakukan wajib militer di Prancis. Milan meyakinkan pemerintah setempat kalau memang Combin sudah mengubah status kewarganegaraannya menjadi Prancis. Pada 23 Oktober siang harinya, setelah campur tangan presiden Argentina, Juan Carlos Onganía, dia dibebaskan dan dibawa ke bandara untuk bergabung dengan rekan satu timnya dalam penerbangan pulang.

Usai kejadian itu semua, publik sepak bola dunia mengecam tindakan brutal Estudiantes dan pendukungnya kepada AC Milan. Setelah banjir kecaman, Asosiasi Sepak Bola Argentina mengeluarkan beberapa hukuman.

Poletti menerima larangan seumur hidup, Suárez mendapat skorsing 30 pertandingan dan larangan internasional lima tahun. Eduardo Manero menerima skorsing 20 pertandingan dan larangan internasional tiga tahun. Ketiganya jua ditangkap dan dijatuhi hukuman 30 hari penjara.

AC MilanEstudiantesNostalgia Hari Ini