Nostalgia Hari Ini: Wasit FIFA Kena Bogem Mentah di Stadion Teladan

Football5star.com, Indonesia – Tensi tinggi di sebuah laga sepak bola sangat wajar terjadi. Ketegangan antara pemain di tengah lapangan apacakali hadir. Wasit biasanya jadi kambing hitam. Itu juga yang dialami seorang wasit FIFA saat memimpin pertandingan Stadion Teladan, Medan.

28 Desember 1979 di Stadion Teladan dihelat pertandingan lanjutan Galatama antara tuan rumah Pardedetex Medan melawan klub Jakarta, Indonesia Muda. Mengutip laporan Tempo, pertandingan berlangsung dengan penuh emosi antar pemain. Kubu tuan rumah saat itu protes kepada wasit HR Hamlet yang dinilai berat sebelah.

Wasit FIFA Kena Bogem Mentah di Stadion Teladan3

Puncak kemarahan pemain Pardedetex meledak saat wasit HR Hamlet menunjuk titik putih untuk Indonesia Muda pada menit ke-32. Para pemain Pardedetex protes keras kepada wasit, adu mulut tak lagi terhindarkan. Tak hanya pemain yang bertanding, kiper cadangan Pardedetex, Susanto sampai masuk ke tengah lapangan.

Bogem mentah langsung dilayangkan Susanto ke arah tubuh wasit. “Gebukan itu disusuli oleh ofisial dan penonton yang ikut menyerbu ke arena keributan,” tulis Tempo, edisi 12 Januari 1980.

Situasi semakin tak terkendali. Wasit HR Hamlet babak belur. Laga pun terpaksa dihentikan. Manajer Pardedetex, Kamarudin Pangabean saat itu tak mau menjelaskan detail kemarahan para pemainnya. Ia hanya menegaskan timnya tak terima dengan penalti yang diberikan wasit.

Pihak PSSI berang dengan kelakukan para pemain Pardedetex. Menurut Sudarsono SH, eks Direktur Perwasitan PSSI menyebut bahwa penilaian wasit seharusnya tidak mendapat intervensi berlebihan dari para pemain. Buntut dari aksi rusuh di Stadion Teladan ini, PSSI menghukum 6 pemain Pardedetex yakni Susanto, Suwarto, Ismail Ruslan, John Lesnussa, Chaerul San Siregar, Teuku Hermansah.

Susanto, si pemilik bogem mentah pertama kali mendapat hukuman 1 tahun 3 bulan larangan bermain oleh PSSI. “Kecuali untuk Susanto yang tidak disertai kata-kata masa pecobaan,” kata Syarnubi Said, Ketua Bidang Lembaga Sepak Bola PSSI saat itu.

Menurut laporan Tempo, laga Pardedetex Medan vs Indonesia Muda akhirnya dilanjutkan di Padang beberapa hari kemudian. Pemilik Pardedetex Medan, TD Pardede sendiri menerima lapang dada keputusan PSSI tersebut meski merasa keberatan dengan hukuman kepada para pemainnya tersebut.

Siapa Wasit HR Hamlet?

Literasi mengenai wasit HR Hamlet terbilang cukup sedikit. Padahal di era 70-an, ia termasuk salah satu wasit terbaik yang dimilik Indonesia. Ia satu angkatan dengan wasit pertama Indonesia berlisensi FIFA, Kosasih Kartadiredja.

Karier HR Hamlet sebagai wasit di era 70-an terbilang cukup cemerlang. Ia sempat memimpin pertandingan di ajang Merdeka Games 1979 antara Korea Selatan vs Malaysia dan mendapat pujian dari banyak pihak karena ketegasannya.

Wasit FIFA Kena Bogem Mentah di Stadion Teladan2

Pada 1978, Hamlet bersama 6 wasit lainnya yakni Kosasih Kartadiredja, Sudarso, Oo Suwardi, Sutoto, Suharso Syahban, dan Syamsudin Haddade menjalani tes kualifikasi FIFA. Ketujuh wasit Indonesia itu mengikuti tes atas permintaan dari FIFA sendiri.

Ujiannya tak main-main. Laporan majalah Tempo tertanggal 1 April 1978 menyebut ketujuh wasit tersebut harus berlari 50 meter, 400 meter, 4×10 meter, dan lari 12 menit sejauh 25 kilometer. Sebelum menjalani tes wasit FIFA itu, HR Hamlet sempat menjadi wasit di ajang PON 1977.

Pada perebutan medali perunggu antara Aceh vs Sulawesi Selatan, HR Hamlet yang memimpin. Pada laga itu tim Aceh menang 1-0 atas tim Sulawesi Selatan.

“Dan yang lebih penting lagi, kedua pertandingan yang dipimpin oleh wasit R. Hatta (final) dan R. Hamlet (juara ketiga), seolah memberi kesempatan kepada setiap pemain yang galak untuk menghantam lawannya sejauh ada bola” tulis Tempo, 13 Agustus 1977.

Menariknya, HR Hamlet sendiri adalah kakek dari eks pemain Barito Putera, Muhammad Rifqi. Pemain yang saat ini membela PSMS Medan ini sempat mengatakan bahwa sang kakek adalah inspirasinya di sepak bola.

“Kakek adalah motivator bagi saya untuk menjadi pemain profesional.” kata Rifqi seperti dikutip Harian Waspada, 31 Agustus 2009.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More