Nwankwo Kanu: Legenda Rapuh yang Penuh Tipu Daya

Football5star.com, Indonesia – Berbicara sepak bola Afrika, satu nama yang haram dilupakan adalah legenda Liberia, George Weah. Sampai saat ini dia jadi satu-satunya pemain Benua Hitam yang sukses menggondol trofi Ballon d’Or.

Untuk urusan trofi bersama klub, George Weah juga tidak kekurangan apa pun. Ia dua kali merengkuh scudetto bersama AC Milan dan Ligue 1 dengan Paris Saint-Germain. Di klub lain seperti Chelsea dan AS Monaco pun Weah juga berjasa membawa klubnya ke tangga juara.

Akan tetapi, Weah bukanlah pemain Afrika yang lengkap. Torehan emasnya masih kalah berkilau dari putra terbaik Nigeria, Nwankwo Kanu.

Jika George Weah gagal memenangi gelar Liga Champions, Nwankwo Kanu berhasil mendapatkannya. Jika Weah gagal total bersama timnas Liberia, Kanu patut berbangga karena dua kali membawa negara tercinta ke puncak singgasana.

The Guardian

Nwankwo Kanu yang lahir di Owerri 43 tahun silam mengejutkan dunia dengan membawa Nigeria juara Piala Dunia U-17 1993 dan merebut medali emas Olimpiade 1996. Di Olimpiade ia bahkan membawa Super Eagles mencundangi dua favorit juara seperti Argentina dan Brasil yang saat itu dihuni Ronaldo, Roberto Carlos, serta Romario.

Kesuksesan Kanu di usia dini memang tak lepas dari performa apiknya bersama klub lokal, Iwuanyanwu. Betapa tidak, ia sukses membawa klub tersebut merengkuh trofi Liga Nigeria pada 1992, tepat di usia yang baru menginjak 16 tahun.

Pada musim itu pula ia sukses mencatatkan 15 gol dari 25 penampilan. Kehebatannya di Nigeria tercium oleh pencari bakat Ajax Amsterdam. Tanpa pikir panjang, dirinya langsung hengkang ke ibu kota Belanda dan bergabung dengan beberapa bintang muda lain seperti Patrick Kulivert, Marc Overmars, Dennis Bergkamp, serta Clarence Seedorf.

Bersama Ajax pula dia mampu meraih mimpi yang tak bisa dicapai George Weah. Trofi Liga Champions musim 1994-1995. Walau di partai final dia hanya bermain dalam waktu singkat, tetap saja sejarah mencatat namanya sebagai pemain Nigeria pertama bersama Finidi George yang mengangkat Si Kuping Besar.

Meraih trofi Liga Champions bersama Ajax hanyalah permulaan dari cerita sukses Nwankwo Kanu di sepak bola. Walau itu jadi trofi Eropa satu-satunya, dia tetap menjalani karier luar biasa selama tiga dekade.

Fisik Rapuh yang Bikin Lawan Tertipu

Pertama kali melihat Nwankwo Kanu, mungkin kita tidak akan menyangka jika dia seorang pesepak bola. Dia punya kerangka appendicular kecil nan panjang. Kecepatan larinya pun tidak mendukungnya untuk menjadi pemain bola. Tapi, jika dia diberikan bola di hadapannya, kita tahu bahwa dia salah satu legenda terbesar yang pernah ada.

Nwankwo Kanu berbeda dengan pemain Afrika kebanyakan. Jika yang lain memiliki tubuh kekar dan memiliki kecepatan di atas rata-rata, Kanu sama sekali tidak memiliki itu. Badan tinggi semampai, lingkar kaki yang kecil dan rapuh membuatnya seperti orang yang kerap dihantui kegagalan.

Di atas lapangan pun, dia lebih sering berjalan ketimbang berlari seperti striker kebanyakan.  Namun, di sini lah kehebatannya terpancar. Gaya ‘pemalasnya’ membuat banyak lawan tak menduga bahwa dia punya kekuatan yang jarang dimiliki pemain lain.

Caranya ini membuat pemain lawan harus berjuang ekstra keras jika berhadapan dengan sang bomber bukan cuma karena bakat dan tekniknya yang tak dapat disangkal, tapi juga karena pergerakannya yang tak bisa diprediksi. Bahkan Kepiawannya ini sering kali memunculkan prasangka bahwa dia sendiri tidak tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya.

Pelatihnya di Arsenal, Arsene Wenger, menggambarkan seorang Kanu sebagai pemain yang gigih, penuh tipu daya, tak terduga, dan bikin semua lawan serba salah. Ungkapan ini tak lepas dari aksi heroiknya ketika menghadapi Chelsea musim 1999-2000.

Nwankwo Kanu membuat Arsenal melakukan comeback luar biasa melawan Chelsea musim 1999-2000. Sempat tertinggal 0-2, mereka berhasil menyamakan kedudukan lewat aksi magis bomber Nigeria di 15 menit waktu tersisa.

Secara tak terduga Kanu berhasil merebut bola dari kaki bek Chelsea, Albert Ferrer, kemudian menggiring bola ke mulut gawang hingga melewati kiper Ed de Goey. Namun, bola terlanjur melebar ke tepi lapangan sebelah kanan.

The Sun

Jika pemain lain akan mengumpan bola ke tengah untuk diselesaikan rekan lainnya, Kanu justru mengeksekusi sendiri bola itu. Ya, dia melambungkan bola dari sudut yang mustahil menghasilkan gol. Tapi nyatanya? Bola meluncur mulus ke gawang dekat. Sampai saat ini, gol itu terus dikenang sebagai salah gol terbaik sepanjang masa di Liga Inggris.

“Saya kira dia akan memberi umpan untuk pemain lain. Jika dia tidak mencetak gol, itu bisa membuat saya kesal karena dia seharusnya mengumpan bola. Tapi, pemain hebat bisa membuktikan bahwa Anda bisa salah. Itu salah satu gol terbaik yang pernah saya lihat,” kata Wenger seperti dikutip Football5star dari These Football Times.

“Kanu punya karakter yang hebat, tidak hanya bakat, tapi juga seorang pejuang yang bekerja keras untuk tim. Dia melakukan semuanya dengan efektif dan itu membuatnya jadi seorang pemenang,” sambung sang professor.

Komentator kenamaan Inggris, Martin Tyler, sampai kehabisan kata-kata melihat aksi sang pemain. Menurutnya, Kecepatan Kanu dalam berpikir lebih kencang dibanding kecepatan lari para pemain lain.

“Oh! Bisakan Anda mempercayai itu? Dia membuat Chelsea tampak bodoh. Dia bikin hat-trick di Stamford Bridge. Ini sungguh luar biasa, benar-benar luar biasa. Semua penonton tidak sadar apa yang baru mereka lihat,” kata Tyler seperti dilansir The Guardian.

“Dia punya kecepatan berpikir dan punya gerakan naluriah yang tidak dimiliki orang lain. Keahliannya ini sangat menakjubkan untuk terus dilihat berulang-ulang,” lanjutnya.

Sakit Jantung yang Mengubah Hidup Nwankwo Kanu

Cedera adalah mimpi buruk bagi semua pemain bola. Tapi tidak ada yang lebih menakutkan jika seorang pemain didiagnosa terkena penyakit jantung. Bukan hanya harus absen lama di lapangan, tapi penyakit ini juga bisa mengakhiri karier sseseorang.

Nwankwo Kanu pernah merasakan derita itu ketika pertama kali hijrah ke Inter Milan. Dia membutuhkan operasi besar dan karier sepak bola yang baru dirintis terancam berakhir prematur.

Operasi pun dilakukan 1996 silam. Tim medis melakukan pergantian katup aorta di jantungnya sebagai satu-satunya cara agar dia bisa pulih. Hasilnya luar biasa. Ia dinyatakan pulih total dan kembali merumput untuk Inter Milan setahun kemudian.

Getty Images

Akan tetapi, semua sudah terlambat untuk sang bintang membuktikan diri. Tiga tahun berada di kota mode, ia hanya diturunkan sebanyak 17 kali. Trofi Piala UEFA 1998 pun jadi satu-satunya gelar yang dimenangkan.

Setelah semua persoalan kesehatan berlalu, Nwankwo Kanu memulai lembaran baru di Arsenal Februari 1999. Dan di sana lah kesuksesan menyertai kehebatannya. Dua trofi Premier League, dua Piala FA, dan satu Community Shield berhasil ia persembahkan.

Lima tahun di London Utara, Nwanwko Kanu pergi ke West Bromwich Albion sampai akhirnya menutup karier gemilang bersama Portsmouth 2012 lalu, yang diiringi kebangkrutan klub. Cerita menarik muncul jelang akhir kariernya di Fratton Park.

Ketika memperkuat Porstmouth di usia 35 tahun, banyak lelucon yang beredar bahwa dia sejatinya lebih tua dari itu. Tidak sedikit pula yang menyebut jika dirinya memalsukan dokumen agar bisa terus bermain di level tertinggi. Lelucon-lelucon ini muncul karena performa sang bintang sama sekali tidak memudar.

Pria 43 tahun adalah legenda paling disegani di Afrika. Dia selalu menjadi tolok ukur di mana setiap pemain Nigeria mengukur diri mereka sendiri.

Selamatkan Ratusan Nyawa di Nigeria

Meskipun mengalami akhir karier yang mengecewakan, Kanu telah meninggalkan warisan besar. Ia berhasil membuka jalan bagi pemain-pemain Afrika lain untuk datang ke Inggris.

Pensiun sebagai pesepak bola 2012 lalu membuat Nwankwo Kanu meninggalkan sepak bola. Memori masa lalu saat bertarung melawan sakit jantung membuat Kanu mendedikasikan hidup untuk membantu masyrakat di tanah airnya, Nigeria.

Developmentafrica

Dia mendirikan Kanu Heart Foundation untuk menolong masyrakat Nigeria yang mengalami kelainan jantung sepertinya. Sampai saat ini setikdanya ada 400 jiwa yang nyawanya tertolong lewat operasi jantung secara cuma-cuma yang digagas oleh Nwankwo Kanu.

Kemurahan hati pemain yang membawa Nigeria juara Piala Dunia U-17 1993 silam itu pun membuatnya terpilih sebagai duta Persatuan Bangsa-Bangsa(PBB) bidang UNICEF.

LegendaLegenda InternasionalNwankwo Kanu