On This Day: Zinedine Zidane Debut untuk Timnas Prancis

Banner Footbal Live Star-Football5star

Football5star.com, Indonesia – Di tanggal ini, 17 Agustus 1994, Zinedine Zidane menjalani debut untuk Timnas Prancis. Zidane diturunkan oleh Aime Jacquet di babak kedua menggantikan Corentin Martins saat Prancis melawan Republik Ceko.

Masuk sebagai pemain pengganti, Jacquet membutuhkan suntikan tenaga baru untuk bisa menghindarkan Les Bleus dari kekalahan. Saat itu, Prancis tengah tertinggal 2-0 dan Zidane dimasukkan untuk bisa menambah daya dobrak.

 

Selanjutnya adalah sejarah. 12 tahun ia bermain untuk Timnas Prancis. 108 kali bermain dan mencetak 31 gol. Bersama Zidane, Prancis mengawinkan gelar Piala Dunia 1998 dan Euro 2000.

Perjuangan Keras Seorang Zidane

Semua kisah manis Zizou berawal dari tahun 1953. Smail dan Malika Zidane, orang tua Zidane memutuskan untuk pindah dari wilayah Kabylie, Aljazair menuju ke Prancis. Beberapa tahun setelah kepindahannya, Algerian War pecah. Keluarga mereka pindah ke wilayah Saint-Denis dan bertahan hingga tahun 1960.

Di tahun 1960, mereka pindah ke wilayah La Castellane, Marseille. Wilayah tersebut kental dengan aroma-aroma daerah yang marjinal. Tingkat pengangguran dan kriminilitas di wilayah tersebut cukup tinggi pada masanya. Mungkin juga ini yang membuat mental Zidane terasah.

“Aku beruntung bisa keluar dari sana (La Castellane). Ada banyak anak kecil dari banyak ras dan hidup dalam kemiskinan,” ujar Zidane dikutip Football5star.com dari Britain’s Observer.

Kedekatannya dengan Marseille manjadikan dirinya sebagai pendukung Marseille. Konin katanya nama Enzo, anak pertama Zidane khusus ia berikan karena ia begitu menyukai Enzo Francescoli, penyerang Olympique Marseille.

Nasib tak membawanya ke Marseille. Ia tak pernah sekalipun bermain ataupun melatih – sampai sejauh ini – di Marseille. Karier awal Zizou dimulai di Cannes pada umur 13 tahun. Kariernya melejit dan menembus skuat utama Cannes di umur 17 tahun dan dua tahun setelahnya, ia mencetak gol pertamanya di level senior.

Dua tahun memulai karier di Cannes, ia dipinang raksasa Ligue 1, Bordeaux. Kariernya di Prancis berakhir setelah klub Serie A, Juventus membawanya ke Italia. Jalan kariernya semakin menanjak dengan pindah ke Spanyol bersama Real Madrid.

Jalan ayah dari Enzo menuju puncak kariernya sangat terjal. Ia sempat ditolak oleh pelatih Timnas Aljazair pada saat itu, Abdelhamid Kermali. Kabarnya, ia mengesampingkan Zidane karena ia bukanlah sosok gelandang yang memiliki kecepatan. Mungkin kalau Kermali tidak mengabaikan pemain kelahiran Marseille ini, tak ada lagi lesatan indah mantan pemain Juventus ke gawang Republik Ceko.

Manis Pahit Karier Zidane Bersama Timnas Prancis

Seperti yang disinggung di atas bahwa ia sukses mengawingkan gelar Piala Dunia 1998 dengan gelar Piala Eropa 2000. Kesuksesannya membawa Prancis menjadi juara dunia membuat namanya sangat diagung-agungkan.

Tak hanya karena membawa Prancis ke puncak tertinggi, Zizou, panggilan akrabnya juga dianggap bisa menyatukan berbagai perbedaan yang ada di Prancis. “Prancis itu Biru-Merah-Putih, juga Hitam-Putih-Arab. Tiga elemen yang menyatu menjadi satu.”

Nama Zizou dielu-elukan di seluruh penjuru Prancis. Seruan “Zidane for President” menggema di setiap sudut.

Semua gegap gempita tersebut berbalik di tahun 2006. Kariernya di Timnas seharusnya berhenti di tahun 2004. Namun, di tahun 2005, ia kembali dan memutuskan kembali membela Les Bleus.

Di Piala Dunia 2006, namanya kembali menggema. Bukan karena prestasi, melainkan karena ia melakukan sebuah kesalahan fatal. Ia menanduk dada Marco Materazzi dan membuat dirinya diusir dari lapangan. Ia mandi lebih cepat.

Apapun alasan di balik keputusannya melakukan tandukan ke dada Materazzi, tindakan tersebut tidak dibenarkan. Dan karier Zizou di level Timnas berhenti dengan tinta merah yang sukar untuk dihapus.

Comments
Loading...