Piala Kemerdekaan: Juara Kontroversial hingga Dianggap Ilegal

Football5star.com, Indonesia – Publik sepak bola nasional mungkin masih ada yang mengingat dengan kompetisi Piala Kemerdekaan yang pernah diselenggarakan PSSI. Piala Kemerdekaan merupakan turnamen sepak bola yang diselenggarakan untuk memperingati HUT Kemerdekaan Indonesia.

Diadakannya turnamen Piala Kemerdekaan ini tak lepas dari kompetisi dengan nama serupa yang pernah digelar untuk memperingati HUT Kota Jakarta.

Anniversary Cup HUT Jakarta yang awalnya bernama Djakarta Anniversary Football Tournament (DAFT) diselenggarakan sejak 1970. Anniversary Cup tersebut diselenggarakan secara setiap tahun hingga 1981, kecuali 1977.

Anniversary Cup 1981 tercatat sebagai Anniversary Cup terakhir karena PSSI memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Piala Kemerdekaan.

Piala Kemerdekaan pertama kali diselenggarakan pada 1985 silam. Pada ajang pertama ini, Indonesia mengirimkan dua timnas. Tim Garuda dan tim Rajawali. Empat negara diundang PSSI untuk ikut Piala Kemerdekaan 1985, Korea Selatan, Chile, Malaysia, Singapura, dan satu klub dari Cina, Tianjin.

Turnamen Pertama

Dikutip dari data rsff, Sabtu (17/8/2019) timnas Garuda tergabung di grup A sedangkan timnas Rajawali tergabung di grup B. Sekedar informasi timnas Garuda merupakan timnas U-23 sedangkan timnas Garuda merupakan timnas senior yang diasuh oleh pelatih legendaris Sinyo Aliandu.

Sayangnya di perhelatan Piala Kemerdekaan I, timnas Indonesia gagal lolos dari babak fase grup. Tim Garuda bertengger di peringkat ketiga, hasil sama juga ditorehkan oleh tim Rajawali yang saat itu diperkuat oleh bek legendaris Persija Patar Tambunan.

Chile berhasil menjadi juara pertama Piala Kemerdekaan 1985. Di babak final tim Amerika Selatan itu kalahkan Korea Selatan dengan skor tipis 1-0. Gol semata wayang Chile dicetak oleh striker yang sempat merumput di Cruz Azul, Carlos Poblete.

Piala Kemerdekaan: Juara Kontroversial Hingga Dianggap Ilegal
novanmediaresearch

Setahun kemudian, Indonesia memperbaiki posisinya di ajang ini. Mereka mampu jadi runner up setelah di partai final dikalahkan wakil Afrika, Aljazair. Timnas Indonesia yang saat itu diperkuat oleh Ricky Yakobi, Zukkarnaen Lubis, dan kawan-kawn itu takluk dari Aljazair dengan skor Naçer Bouiche.

Sejak diadakan 1985 silam, turnamen Piala Kemerdekaan memang mengundang sejumlah timnas dari berbagai negara. Namun tercatat mepat klub pernah berpartisipasi di turnamen ini, mereka adalah Tianjin dari China pada 1985, klub Meskiko America FC pada 1986, klub Thailand Port Authority pada 1987, dan klub DPMM FC dari Brunei pada 2008.

Sayangnya kemudian Piala Kemerdekaan ini kemudian berhenti pada 2008 lalu. Setelah Indonesia menjadi juara di tahun itu dengan cara yang tak biasa.

Juara kontroversial Indonesia di 2008

Pada 2008, Indonesia kembali menghelat Piala Kemerdekaan edisi ke-9. Indonesia mengikutsertakan dua tim, timnas U-21 dan timnas senior.

Timnas senior saat itu diperkuat pemain seperti Charis Yulianto, Ponaryo Astaman, Bambang Pamungkas dan lain-lain mampu kalahkan lawan-lawannya di grup B, Myanmar dan Kamboja.

Total 11 gol dicetak oleh timnas senior yang kala itu diasuh oleh Benny Dollo. Sedangkan timnas U-21 yang tergabung di grup A juga raih hasil sama. Dua timnas Indonesia pun bertemu di babak semifinal.

Piala Kemerdekaan: Juara Kontroversial Hingga Dianggap Ilegal
antarafoto.com

Gol tunggal Ponaryo Astaman pada menit ke-20 berhasil membuat timnas senior mampu kalahkan timnas U-21 dengan skor tipis 1-0. Di partai final, timnas senior ditunggu oleh timnas U-23 Libya.

Pada babak final inilah terjadi kontroversial yang tentu akan terus diingat oleh publik sepak bola nasional ataupun para skuat timnas Libya.

Bermain di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) pada 29 Agustus 2008 tersebut, pada babak pertama timnas senior tertinggal 0-1. Gol pertama Libya dicetak pada menit ke-14 lewat aksi Abdalla Mohamed.

Sayangnya saat babak kedua akan dimulai, timnas Libya tak menunjukkan batang hidungnya di tengah lapangan. Timnas Indonesia dan perangkat pertandingan yang sudah siap memulai pertandingan harus menunggu hampir 15 menit lebih.

Wasit yang memimpin laga Shahabuddin Mohd Hamiddin pun memutuskan untuk memberi kemenangan untuk Indonesia karena Libya dianggap Walk Out (WO).

Dikutip dari buku “Mencintai Sepakbola Indonesia Meski Kusut”, alasan tim Libya WO ialah adanya insiden ruang ganti di akhir babak pertama. Libya mengklaim bahwa telah terjadi insiden pemukulan terhadap pelatih mereka, Gamal Adeen Abu Nowara.

Libya menuding bahwa pelaku pemukulan adalah pelatih kiper timnas Sudarno. Tak hanya mendapat pukulan, Gamal mengaku juga mendapat intimidasi.

“Gamal menyebut pukulan yang mendarat ke wajahnya cukup keras. Saking kerasnya pukulan itu, kacamata Gamal pun rusak. Lensa kiri dari kacamata tersebut pecah. Bibir Gamal pun memar. Tak hanya mendapat kekerasan fisik, Gamal juga mendapat umpatan dari beberapa pihak.” tulis Miftakhul FS dalam bukunya tersebut.

Setelah puasa gelar dari 1991, timnas Indonesia pun akhirnya menjadi juara Piala Kemerdekaan meski dengan cara yang tak biasa.

Piala Kemerdekaan versi Kemenpora

Pada 2015, Kementerian Olahraga dan Pemuda (Kemenpora) coba untuk menginisiasi turnamen ini. Turnamen pada tahun ini sangat berbeda dengan turnamen-turnamen tahun sebelumnya.

Kemenpora tidak mengundang timnas satu negara namun mengundang sejumlah klub Indonesia. Kick off Piala Kemerdekaan 2015 berlangsung di Stadion Maulana Yusuf Serang, Banten antara Perserang vs Persidago Gorontalo.

Presiden RI Jokowi yang langsung membuka turnamen ini. Terselenggaranya Piala Kemerdekaan 2015 sempat menimbulkan polemik. Pasalnya PSSI saat itu menganggap event tersebut ilegal.

Sekjen PSSI saat itu Azwan Karim seperti dikutip dari baritagar menyebut turnamen itu melanggar UU Nomor 5 tentang Sistem Keolahragaan Nasional.

Piala Kemerdekaan: Juara Kontroversial Hingga Dianggap Ilegal
beritagar

Azwan merujuk Pasal 51 ayat 2, “Menyatakan Penyelenggara kejuaraan olahraga yang mendatangkan langsung massa penonton wajib mendapatkan rekomendasi dari induk organisasi cabang olahraga yang bersangkutan dan memenuhi peraturan perundang-undangan.”

Pihak tim Transisi yang saat itu dibentuk oleh Kemenpora berdalih bahwa kompetisi tersebut untuk mengisi kekosongan kompetisi pasca dibekukkan PSSI.

“Semua bisa ikut, klub dari luar pun bisa daftar. Asal mereka klub yang legal,” kata Tim Transisi, Bibit Samad Riyanto seperti dikutip dari republika.

Meski dianggap ilegal oleh federasi, turnamen ini tetap berlangsung dari 15 Agustus hingga 13 September 2015. Di partai puncak dua tim kejutan bertanding untuk menjadi yang terbaik, PSMS Medan vs Persinga Ngawi.

Laga yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabay itu PSMS Medan sukses kalahkan Persinga Ngawi dengan skor 3-2.

Comments
Loading...