Puasa Ramadan, Dilema Keimanan dalam Industri Sepak Bola

Football5star.com, Indonesia – Hadirnya bulan suci Ramadan sering memunculkan dilema dan kompeksitas di industri sepak bola. Setiap Ramadan tiba, ada dua pertanyaan yang umum muncul: Bagaimana pesepak bola muslim menyikapi kewajiban berpuasa di tengah tuntutan karier profesional? Apakah puasa Ramadan dan sepak bola akan saling mengganggu atau memicu keruwetan?

Di kompetisi sepak bola Indonesia dengan mayoritas muslim, ada dua pengondisian yang umum dilakukan menyambut Ramadan. Pertama, jadwal libur kompetisi akan lebih sering, baik pada awal atau akhir Ramadan. Bahkan, bisa saja libur penuh selama sebulan. Sementara yang kedua, setiap latihan atau pertandingan digelar pada malam hari atau selepas buka puasa.

Apalagi, kompetisi kasta tertinggi di Indonesia tahun ini, Liga 1 2019, akan digelar pada 15 Mei, memasuki pertengahan Ramadan. Operator kompetisi jelas dihadapkan dengan kesulitan mengatur jadwal. Seperti diketahui pula, pengaturan jadwal kompetisi yang rapi dan teratur di Indonesia masih menjadi salah satu problem akut. Meski begitu, mereka tentu sudah paham betul skala prioritasnya. Di Indonesia, sepak bola tidak boleh menghambat umat muslim dalam menunaikan kewajibannya.

Sementara di belahan bumi lain, khususnya di Eropa, beberapa pesepak bola muslim berhadapan dengan dilema keimanan menyambut Ramadan. Di tengah kesibukan, mereka dituntut tidak makan dan minum sejak terbit hingga terbenam matahari.

Sebagian memutuskan tetap berpuasa, kendati rintangan yang dihadapi sangat berat. Bagaimana tidak, dengan kompetisi memasuki tahap akhir di Eropa, mereka harus selalu fit dalam menjalani latihan dan pertandingan. Tak heran, ada pemain yang memutuskan tidak berpuasa selama Ramadan.

POLEMIK PUASA RAMADAN DI SEPAK BOLA EROPA
Jose-Mourinho-Sulley-Muntari-pesepak bola muslim puasa ramadan dan sepak bola - Puasa Ramadan, Dilema Keimanan dalam Industri Sepak Bola -zimbio
Jose Mourinho sempat mengkritisi aktivitas puasa Sulley Muntari saat di Inter Milan (Zimbio.com)

Keputusan itu bisa dimaklumi. Apalagi waktu puasa di sebagian besar negara Eropa bisa lebih panjang dibanding wilayah lain, termasuk Timur Tengah atau Asia. Jika umat muslim di Asia hanya butuh sekitar 12 jam berpuasa dalam sehari, di beberapa negara Eropa bisa sampai 16-20 jam. Di sebagian negara dengan mayoritas masyarakatnya penganut Islam, jadwal sepak bola pun sudah disesuaikan dengan Ramadan.

“Lebih sulit bagi para pemain di Eropa daripada di Timur Tengah atau Asia. Di Timur Tengah, sepak bola menyesuaikan dengan Ramadan. Ada jadwal pertandingan yang digelar tengah malam dan sesi latihan pukul 10 malam,” kata Nick Worth, Direktur Medis klub Al Jazira.

Soal waktu berpuasa, Ramadan memang menawarkan tantangan unik bagi para pesepak bola muslim di Eropa. Namun, situasi pelik lain muncul ketika pelatih atau klub menganggap berpuasa Ramadan telah mengganggu kinerja permainan.

“Mungkin dia mempunyai sedikit masalah dengan awal Ramadan dan puasa. Suhu sepanas ini tidak cocok buatnya untuk berpuasa. Ramadan datang pada saat yang kurang ideal buat pesepak bola untuk bisa bermain maksimal,” kritik Jose Mourinho terhadap kinerja salah satu pemainnya, Sulley Muntari, saat masih menangani Inter Milan pada periode 2008–2010.

Celoteh Mourinho itu sempat mendapat kecaman dari para aktivis muslim di Italia. Namun, Mourinho berkilah komentar tersebut bukan bermaksud menghakimi keyakinan Muntari, melainkan profesionalitas di lapangan.

Terkait hal ini, Hakim Chalabi, selaku angota FIFA Medical Comittee, pun turut berkomentar. “Biasanya, Ramadan bukan masalah besar di negara-negara muslim karena klub mengubah jadwal latihan dan pertandingan. Namun, menjadi masalah di negara-negara non-muslim, misalnya Prancis dan Inggris, yang terdapat banyak pemain muslim. Fakta tidak adanya toleransi jadwal selama Ramadan, terutama selama musim panas dengan hari yang sangat panjang, merupakan masalah besar.”

DILEMA PROFESIONALITAS DAN KEIMANAN
pesepak bola musim Amr Zaki puasa ramadan dan sepak bola - Puasa Ramadan, Dilema Keimanan dalam Industri Sepak Bola - zimbio
Pesepak bola muslim asal Mesir, Amr Zaki, kala membela Wigan (Zimbio.com)

Lalu, bagaimana solusi permasalahan sepak bola yang tidak berjalan sesuai kalender Islam? Apakah pesepak bola muslim bisa mempertahankan karier profesional sambil tetap menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh? Semua tentu kembali ke individu masing-masing. Toh, menjaga kebugaran selama puasa Ramadan sudah menjadi konsekuensi yang harus ditanggung setiap pesepak bola muslim.

“Semua kembali ke pribadi masing-masing. Iman seorang muslim menentukan hidup mereka. Sebagai direktur medis, saya selalu menyarankan tentang pentingnya hidrasi dan nutrisi sebelum aktivitas fisik,” bilang Nick Worth.

Pengalaman mantan penyerang timnas Mesir, Amr Zaki, semasa membela Wigan Athletic di Liga Inggris pada 2008–2009 bisa menjadi contoh nyata. Dia pernah menghadapi dilema keimanan dan tuntutan profesionalitas sebagai pesepak bola. Manajer Wigan kala itu, Steve Bruce, meminta Zaki memilih antara berpuasa atau bermain. Zaki tak punya pilihan selain berbohong. Meski tetap berpuasa, dia justru mengaku hal sebaliknya kepada Bruce.

“Saya tetap puasa setiap hari dan rasanya itu tak memengaruhi kinerja saya. Bahkan, saya merasa semakin kuat. Saya sudah banyak melalui pertandingan pada hari-hari berpuasa. Saya berpuasa ketika kami mengalahkan Newcastle United (Desember 2008). Saya mencetak gol dan semua orang tampak senang dengan penampilan itu,” ungkapnya.

Beda hal dengan gelandang Arsenal berdarah Turki, Mesut Oezil, yang lebih sering menangguhkan puasa selama Ramadan. “Situasinya tidak memungkinkan, karena Anda harus tetap minum dan makan teratur demi kebugaran. Saya hanya berpuasa beberapa hari ketika libur,” ujar Oezil coba berkompromi.

BOLEHKAH KOMPROMI DENGAN PUASA RAMADAN?
pesepak bola muslim puasa ramadan dan sepak bola Mesut Oezil - Puasa Ramadan, Dilema Keimanan dalam Industri Sepak Bola - zimbio

Apa yang dijalani Mesut Oezil pun banyak dilakukan sebagian besar pesepak bola muslim di pernah berkarier di Eropa. Sebut saja Nicolas Anelka, Marouane Chamakh, Nathan Ellington, Mohamed Salah, dan beberapa nama lain.

Bahkan, Anelka pun punya alasan kuat untuk tak berpuasa penuh selama Ramadan. “Saya sering mengalami cedera selama periode Ramadan, jadi saya tak terlalu ketat menjalani puasa.” Pendapat itu diamini pesepak bola asal Aljazair, Nadir Belhadj. “Saya merasa, ada kecenderungan lebih mudah cedera selama puasa.”

Penyerang sayap Liverpool asal Mesir, Mohamed Salah, dikenal sebagai salah satu muslim yang taat. Akan tetapi, ada beberapa momen ketika Mohamed Salah memutuskan menangguhkan puasa Ramadan. Salah satunya ketika Liverpool menghadapi Real Madrid pada final Liga Champions, 25 Mei 2018.

Awalnya, Mohamed Salah berniat untuk tetap puasa. Namun, masukan dari beberapa pihak, termasuk Manajer Juergen Klopp, membuatnya mengalah. Alhasil, Mohamed Salah terpaksa menangguhkan puasa sejak menjelang pertandingan final.

“Agama itu urusan pribadi, bagaimana saya pun memahaminya,” kata Jurgen Klopp dalam salah satu konferensi pers sebelum pertandingan. “Tidak ada yang perlu dikatakan tentang itu, tetapi semua baik-baik saja kamu bisa melihatnya di luar sana. Dalam latihan dia berkekuatan penuh yang memang diperlukan sehari sebelum final.”

Kompromi seperti dilakukan Mohamed Salah dan yang lain, cukup banyak terjadi di kalangan para pesepak bola muslim di Eropa. Hasilnya, perdebatan pun mencuat di kalangan para ulama Islam. Salah satunya datang dari anggota Dewan Muslim Inggris, Ajmal Masroor.

“Pengecualian puasa Ramadan hanya jika anda sakit atau bepergian jauh. Namun, jika pesepak bola merasa kesulitan menjalani tuntutan karier karena puasa, saya rasa itu alasan tidak yang bisa diterima. Apapun pekerjaan, tetap harus berpuasa. Itu bagian dari keimanan,” bilang Ajmal Masroor.

PUASA RAMADAN TAK MEREDUKSI KINERJA
Journal of Sports Sciences tackles Ramadan and football - Puasa Ramadan, Dilema Keimanan dalam Industri Sepak Bola - fifacom
F-MARC melakukan studi tentang puasa Ramadan dan sepak bola (fifa.com)

Masalah berpuasa dalam kegiatan olahraga merupakan salah satu yang rumit, dengan kewajiban keagamaan pemain yang agak bertentangan dengan kebutuhan manajer serta klub. Sejauh ini, belum ada pedoman tetap yang mendefinisikan tentang masalah ini. Meski demikian, FIFA selaku badan yang menaungi para pesepak bola dunia, sejatinya sudah memberi perhatian.

Salah satunya datang dari FIFA Medical Assessment and Research Centre (F-MARC), yang melakukan studi penelitian tentang “Ramadan and Football” sejak 2004. Studi itu berlanjut pada 2006, bekerja sama dengan Asosiasi Sepak Bola Tunisia, hingga hasilnya diterbitkan dalam Journal of Sport Sciences pada 2008. Hasil penelitian itu yang kini dijadikan referensi bagi para dokter olahraga.

Fakta menarik yang muncul, puasa sejatinya tidak berdampak kepada penurunan kinerja pemain. Pada hasil studi F-MARC, kecepatan, kekuatan, dan daya tahan tubuh justru menunjukkan sedikit perbaikan. Sementara, hasil lain tetap stabil. Meski semua data itu hanya mengacu pada uji lapangan, belum diukur dari kinerja pertandingan kompetitif.

Konferensi konsensus pertama “Ramadan and Football” pada 25 dan 26 November 2011 di Aspetar, Qatar, sempat menghadirkan para ilmuwan, dokter, serta pemain. Mereka bertukar pengetahuan dan pengalaman dalam rangka mengembangkan rekomendasi untuk pesepak bola berpuasa. Ada persetujuan umum, bahwa berpuasa atau tidak selama Ramadhan murni keputusan pribadi, dan itu tidak diperdebatkan oleh para sarjana, ahli gizi, atau pelatih fisik.

Hasilnya, semakin terlihat jelas bahwa pengalaman individu tidak melulu sesuai dengan apa yang ditemukan dalam studi. Frederic Kanoute, eks striker timnas Mali, ikut mengutarakan opininya. “Orang yang mengenal Islam tahu bahwa ibadah puasa itu malah menguatkan mereka yang menjalaninya, dan bukannya melemahkan.”

STRATEGI TEPAT HADAPI PUASA RAMADAN
pesepak bola muslim puasa ramadan dan sepak bola - timnas aljazair -Puasa Ramadan, Dilema Keimanan dalam Industri Sepak Bola - fifacom
Timnas Aljazair di Piala Dunia 2014 (fifa.com)

Studi Journal of Fasting and Health pun memunculkan konklusi lebih rinci, bahwa tidak ada pesepak bola yang berpuasa justru menunjukkan glukosa darah rendah, dehidrasi serius, kekurangan energi, atau penurunan kinerja yang konsisten. Kuncinya adalah siklus tidur dan menu makan, terutama saat sahur. Energi makanan padat selama sahur dapat memberikan keseimbangan substrat yang cukup serta mempertahankan performa pesepak bola saat puasa Ramadan.

Dengan kata lain, ada tiga hal utama dari hasil penelitian yang mampu tetap menunjang puasa Ramadan dan sepak bola. Pertama, jika dikendalikan tanpa optimalisasi, puasa bisa mengakibatkan dampak negatif bagi beberapa pemain. Kedua, banyak cara meminimalkan risiko penurunan performa. Ketiga, mengatur asupan makanan dan minuman selama jam-jam tidak berpuasa, menjadi kunci terbesar untuk strategi yang sukses.

Tengok saja timnas Aljazair selama Piala Dunia 2014 di Brasil. Langkah-langkah alternatif diambil untuk memastikan bahwa para pemain tetap sehat saat bermain di tengah kewajiban berpuasa. Kiper Aljazair Rais M’bolhi berbuka puasa saat jeda dengan kurma dan air.

Kenyataannya, mereka tetap tampil optimal. Aljazair lolos ke babak 16 besar usai menang 4-2 atas Korea Selatan dan imbang 1-1 dengan Rusia di Grup H. Aljazair yang lolos sebagai runner-up grup di bawah Belgia, pun sempat memaksa juara Piala Dunia tahun itu, Jerman, bermain hingga babak perpanjangan waktu meski akhirnya kalah 1-2.

Beberapa strategi lain juga banyak dilakukan tim-tim lain dalam menjaga kinerja selama berpuasa. Timnas Palestina misalnya. Mereka mengirim para pemain ke gimnasium satu jam sebelum berbuka puasa untuk menjaga metabolisme. Asupan para pemain pun dijaga dengan karbohidrat yang setara (seperti beras) serta protein dan salad. Mandi es di siang hari juga biasa dilakukan.

Paling penting adalah para pemain tidak terlalu banyak duduk pada siang hari, “kata Bader Aqel, mantan dokter timnas Palestina.” Kami ingin menghindari para pemain terlalu lama tidur (yang merupakan kejadian umum selama bulan Ramadan). Kami menekankan kepada para pemain bahwa mereka minum setidaknya tiga liter air setelah matahari terbenam untuk melawan efek dehidrasi.”

PUASA RAMADAN DAN SEPAK BOLA BISA BERIRINGAN
Pesepak bola muslim puasa ramadan dan sepak bola - Paul Pogba Mohamed Salah Mesut Oezil - Puasa Ramadan, Dilema Keimanan dalam Industri Sepak Bola - bleacherreport
Tiga pesepak bola muslim, Paul Pogba, Mohamed Salah, dan Mesut Oezil (bleacherreport)

Kesimpulannya, tak ada masalah berarti bagi para muslim untuk tetap kewajiban puasa Ramadan dan sepak bola sebagai karier. Tak ada alasan bagi pelatih atau klub untuk mengkambinghitamkan puasa sebagai penyebab penurunan performa. Puasa dan sepak bola pun tak melulu menjadi dilema yang pelik.

Namun terlepas dari semua itu, pendekatan pesepak bola muslim memang berbeda-beda dalam menghadapi puasa Ramadan sambil menyeimbangkan kebugaran. Pilihan pun tidak lantas membuat mereka bisa dilabeli sebagai muslim yang kurang taat.

Pemain seperti Mohamed Salah bisa saja menangguhkan puasa saat harus menghadapi pertandingan penting. Sementara, yang lain bisa menerapkan strategi mengubah kebiasaan latihan untuk menghindari pingsan karena dehidrasi.

Satu hal yang pasti, tak ada alasan untuk menangguhkan kompetisi sepak bola pada bulan Ramadan.

Comments
Loading...