Revolusi Digital Mengubah Wajah Sepak Bola

Football5star.com, Indonesia – Revolusi digital saat ini telah mengubah cara pandang manusia dalam kehidupan sehari-hari. Persentuhan teknolgi dengan kehidupan manusia memang tak bisa dimunafikan, tak terkecuali sepak bola sekarang.

Kemunculan pro kontra soal teknologi Video Assistant Referee (VAR) jadi contoh nyata revolusi digital yang mengubah wajah sepak bola. Tidak hanya kemunculan VAR sebenarnya yang jadi pertanda revolusi digital telah mengubah paradigma kita tentu olahraga terpopuler di dunia ini.

Hal yang paling sederhana ialah bagaimana publik dari seluruh dunia misalnya langsung mengetahui Frank Mulhern. Pemain amatir Liga Inggris yang mampu cetak gol indah setelah mendapat passing akurat sejauh 50 yard dari rekannya, Paul Turnbull.

Klub Mulhern dan Turnbull, Stockport County tinggal mem-posting video aksi pemainnya tersebut di akun sosial media. Dalam hitungan beberapa jam, postingan tersebut telah diberi tanda love oleh 79 ribu pengguna Twitter dari seluruh dunia.

Padahal sebelum video itu viral di sosial media, siapa yang mengenal Mulhern, Turnbull, ataupun Stockport County? Stockport County hanya peserta dari kompetisi kasta keenam Liga Inggris dan hanya memiliki stadion dengan kapasitas 10 ribu tempat duduk.

Media dan Suporter

Kemajuan teknolgi faktanya memang tidak hanya dimanfaatkan oleh pihak klub, suporter pun melakukannya. Spirit of Shankly (SOS) jadi salah satu basis suporter yang menggunakan revolusi digital untuk mengubah wajah sepak bola di kota pelabuhan tersebut.

Melalui The Anfield Wrap, SOS memberikan pelaporan khusus mengenai Liverpool lewat pelbagai macam platform media sosial. Dalam durasi 1 minggu, postingan The Anfield Wrap melalui podcast diunduh lebih dari 100.000 kali dari para pendengarnya.

Kemampuan SOS menarik Liverpudlian dan Kopites dari seluruh penjuru dunia bagi editor The Anfield Wrap bukanlah hal yang aneh. Menurut Jason Sexton mereka memiliki cara yang tidak dilakukan oleh media konvesional.

“Kami mengetuk pintu pendukung Liverpool untuk mendengar, membaca dan menyebarluaskan konten yang telah diproduksi, dan ada celah untuk kami lebih dekat kepada penggemar,” kata Sexton seperti dikutip football5star.com dari theanfieldwrap.

“Selain itu, nilai jual kami ialah soal emosi pada konten. Anda tidak akan bisa mendapatkan hal tersebut dari media tradisional. Mereka belum pernah duduk dan merasakan kehangatan Anfield, itu yang membuat menjadi hambar,” tambah Sexton.

Garis besarnya Sexton menganggap bahwa The Anfield Wrap merupakan wadah yang terbentuk dari liverpudlian untuk liverpudlian dan oleh liverpudlian. “Karena tidak ada orang yang mengenal klub lebih baik dari penggemarnya itu sendiri,” tutup Sexton.

Revolusi Digital Mengubah Wajah Sepak Bola
bcsxpss.com

BCS dan Medianya

15.342 km dari kota Liverpool, tepatnya di kota Sleman, basis suporter PSS Sleman atau yang lebih dikenal dengan nama Brigata Curva Sud (BCS) pun melakukan hal sama lewat bcsxpss.

Dalam manifesto di bcsxpss, BCS menyampaikan bahwa kehadiran wadah pemberitaan ini merupakan bentuk lain dari dukungan BCS kepada perjuangan PSS Sleman. Meski dengan tegas mereka memberi batas sangat jelas terhadap intervensi pihak lain termasuk manajemen klub.

“Brigata Curva Sud menghindari keterlibatan lebih, intervensi klub, campur tangan manajemen dan tetap mendukung PSS Sleman.” tulis BCS dalam manifesto mereka.

Platform media yang digunakan bcsxpss tidak hanya lewat konten artikel namun juga video dan audio yakni lewat Eljah TV dan Elja Radio. Hal serupa juga sudah dilakukan basis suporter klub Indonesia lainnya seperti Persija, Persib, Arema ataupun Persebaya Surabaya, meski jika berbicara konsistensi publikasi masih perlu diperdebatkan.

Geliat AFTV

Kemunculan media yang dikelola oleh basis suporter sebenarnya jadi buah simalakama oleh klub itu sendiri. Kembali ke Inggris, suporter Arsenal lewat AFTV misalnya sempat merilis konten di Youtube dengan judul ‘DT Angry Rant’.

Video ini berisi kritikan suporter Arsenal terhadap klub. Isi video ini dianggap kontroveri disebabkan isinya lebih banyak sumpah serapah.

Revolusi Digital Mengubah Wajah Sepak Bola
AFTV

Kehadiran AFTV sejak awal identik dengan kontroversi karena kritiknya kepada Arsenal dan Liga Inggris secara keseluruhan. Secara ideologi sebenarnya pendekatan konten yang disuguhkan oleh AFTV tak jauh berbeda dengan The Anfield Wrap ataupun Eljah TV namun perbedaannya pada cara penyampaian.

“Kami telah menunjukkan bahwa olahraga ini ialah permainan yang sangat beragam. Ada banyak penonton dengan berbagai latar belakang, warna kulit, dan gender,” kata Lyle, pendiri AFTV.

Fenomena ini tentu jadi sangat menarik dicermati karena dengan arus teknologi yang semakin maju, wajah sepak bola tradisional sudah tentu akan berganti rupa.

Jika di era Pele atau Franz Beckenbauer, penggemar di belahan bumi lain jarang mendapat informasi soal pribadi si pemain, maka sekarang saat Ronaldo sakit gigi pun, penggemarnya di pelosok Jawa langsung dapat mengakses informasinya lewat genggaman.

Comments
Loading...