Robert Rene Alberts: Antara Persib, Bobotoh, dan Sosok Johan Cruyff

Football5star.com, Indonesia – Dua puluh tujuh tahun pelatih asal Belanda Robert Rene Alberts menjalani karier di sepak bola Asia. Di Indonesia, mantan pemain akademi Blauw Wititu berkarier sejak 2009 saat melatih Arema Malang.

Football5star.com berkesempatan untuk wawancara ekslusif dengan coach Rene beberapa waktu lalu sebelum Liga 1 2019 ditutup. Bertempat di salah satu hotel di Bandung, pelatih 65 tahun ini mengungkap rasa sayangnya pada Persib, tentang karier sepak bola hingga fakta-fakta baru yang jarang terungkap.

Sebelum coach Rene mengungkap rasa sayangnya untuk Persib dan sepak bola Jawa Barat. Ia menuturkan soal perbedaan yang dirasakannya antara sepak bola di Bandung, Makassar, dan Malang, tiga kota yang pernah disinggahi coach Rene selama melatih di Indonesia.

Robert Alberts ternyata bersepupu dengan Juergen Sparwasser yang merupakan legenda timnas Jerman Timur.
ervan/football5star.com

“Semuanya berbeda, semua daerah yang pernah saya latih di Indonesia memiliki kultur dan perbedaan budaya. Hal itu juga yang membedakan perbedaan budaya antar suporternya.” kata coach Rene.

“Saat saya di Arema mereka sudah memiliki suporter yang besar. Dan di Makassar baru tumbuh. Setelah saya meninggalkan Makassar banyak suporter baru di sana,” tambahnya.

Khusus untuk Bandung, ia menyebut bahwa kota ini memiliki basis suporter yang sangat besar. Di setiap pertandingan kandang Persib, ia merasakan bagaimana atmosfir bobotoh terasa sangat spesial.

“Semangat suporter yang di Bandung dengan kultur mereka yang sangat bagus dan kreatif. Bandung jadi miniatur kecil bagaimana budaya hooligan ada di mana-mana.” ucapnya.

“Indonesia bisa dibilang memiliki suporter terbaik seperti di Amerika Selatan. Mereka hidup untuk sepak bola dan tim kesayangan mereka,” tambahnya.

Yang jelas kata coach Rene, Bandung mempunyai kultu sepak bola yang besar dan fanatik. Persib menurut coach Rene adalah klub terbaik dengan manajemen bagus dan semua pemain sangat nyaman dengan kondisi tersebut.

Perjalanan Persib musim 2019

Persib di bawah asuhan coach Rene di Liga 1 2019 berada di urutan ke-6 klasemen akhir. Ezechiel N’Douassel dan kawan-kawan mengemas 51 poin, hasil dari 13 kali menang, 12 imbang, dan 9 kali kalah.

Coach Rene melihat bahwa Persib musim ini sedang menuju ke arah transformasi yang lebih baik. Di musim sebelumnya, Persib menurutnya banyak kehilangan peman kunci. Karenanya di awal ia melatih, banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Terkait hasil tak memuaskan yang diraih Persib musim ini, coach Rene mengakui bahwa ada keseimbangan yang tidak terjadi di tim. Ia menyebut keseimbangan itu terjadi karena tak memiliki materi pemain yang sesuai dengan filosofi kepelatihannya.

“Saya merasakan kesulitan di awal musim ini dengan materi yang saya punya. Para pemain tidak menunjukkan ekspektasi yang saya inginkan”

“Saya pikir beruntung kita bisa melakukan perubahan kecil di jendela transfer. Hal ini kemudian berdampak ke hasil yang kita dapat di tim musim ini” tambahnya.

Menyosong musim depan, coach Rene menyebut bahwa perubahan pasti terus terjadi di Persib. Ia menyebut akan mempersiapkan tim untuk musim depan sehingga bisa langsung on fire di awal musim.

“Sekarang kita mempersiapkan tim untuk musim depan untuk nantinya akan membuat Persib menjadi top tim di awal musim hingga bisa bersaing memperebutkan gelar juara. Saya pikir perubahan itu sangat penting,” tambahnya.

Karena kultur sepak bola tim berjuluk Maung Bandung itu yang sangat besar. Coach Rene mengakui bahwa Persib di musim depan harus bisa menjadi tim yang bersaing dan meraih gelar.

“Persib memiliki manajemen yang baik. Jika bisa dikatakan Persib menjadi tim yang paling besar di dua puluh tujuh tahun karier saya di Asia. Semua pemain di sini ditangani dengan profesionalitas klub besar” ucapnya.

Fakta tak terungkap Coach Rene

Beberapa waktu lalu sebelum sesi wawancara eklusif Football5star.com dengan dirinya, coach Rene sempat mengeluhkan soal miss informasi mengenai dirinya di sejumlah pemberitaan. Menurutnya banyak informasi yang disadur lewat Wikipedia, faktanya keliru.

Salah satunya soal karier sepak bolanya. Coach Rene menyebut bahwa awal kariernya sebagai pemain di akademi Blauw Wit. Sebelum masuk ke perjalanan karier di akademi Ajax, coach Rene mengajak kami mengenang masa kecilnya mengenal sepak bola.

“Yang pastinya orang tua saya yang mengenalkan pada sepak bola. Latihan pertama saya waktu itu menggunakan bola tenis. Ayah saya juga atlet yang baik. Dia seorang pesepak bola untuk timnas Belanda.” kenang coach Rene.

Berlatar belakang keluarga sepak bola, Robert Alberts mengakui bahwa mereka menjadi penyemangat untuk dirinya berkarier di lapangan hijau. Selain itu, fakta yang sangat jarang diketahui oleh banyak pihak bahwa ia merupakan saudara dari legenda Jerman, Juergen Sparwasser.

“Kakek saya dulu adalah pemain nasional Jerman karena ibu saya memang dari Jerman. Dia bermain di salah satu klub di Kota Koeln yang nantinya menjadi FC Koeln. Dia bermain untuk tim nasional pada umur 18 tahun,” ungkapnya.

Yang juga fakta menarik dari coach Rene ialah bagaimana masa mudanya pernah bertanding melawan legenda Belanda, Johan Cruyff. Saat itu, ia masih berstatus sebagai pemain muda di akademi Ajax.

“Saat itu saya melawan Johan Cruyff. Tapi saya tak pernah satu tim dengannya. Saat saya jadi pemain profesional, dia bergabung ke Barcelona. Saat di Ajax, dia sudah menjadi pemain terkenal,” kenangnya.

Coach Rene menyebut bahwa banyak pemain muda Ajax seperti dirinya saat itu memanggil panggilan khusus untuk Johan Cruyff, ‘Kapten’.

Eks pemain Barcelona ini juga yang menjadi inspirasi bagai karier sepak bola Robert Alberts. Menurutnya semua orang sudah pasti mengidolakan Johan Cruyff.

“Johan Cruyff adalah pemain besar bukan hanya di Ajax tapi di Belanda, Eropa bahkan di dunia. Apa yang bisa dilakukan Johan Cruyff pemain lain tak bisa dilakukan,” ucapnya.

Menariknya kata Robert Alberts, menurut pengalamannya Cruyff adalah tipikal pemain yang mau mendengarkan semua nasihat walaupun dia berstatus pemain lebih senior.

Comments
Loading...