Roger Milla: Berawal di Piala Dunia, Berakhir di Indonesia

Football5star.com, Indonesia – Bagi sebagian besar pesepak bola, Piala Dunia jadi ajang unjuk kebolehan mereka ke mata dunia. Tidak peduli itu menjadi ajang pertama, kedua, ketiga, atau terakhirnya, aura Piala Dunia akan selalu dimanfaatkan seluruh pemain untuk mengeluarkan segenap kemampuan mereka.

Sudah sangat banyak pesepak bola top di tiap era lahir di turnamen yang pertama kali diselenggarakan pada 1930 silam itu. Dari sini lah sepak bola yang sebelumnya hanya sebatas olahraga penghibur menjadi cabang yang paling berpengaruh, baik untuk dunia olahraga maupun kehidupan pelakunya.

Berselang 60 tahun setelah gelaran pertama di Uruguay, Piala Dunia 1990  di Italia mampu menembus batas dari banyak sisi. Selain keberhasilan Italia sebagai tuan rumah, banyak kejadian-kejadian yang memalingkan mata karena lahirnya sejarah baru yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Satu sejarah di Italia yang pada akhirnya baru bisa dipecahkan di Piala Dunia 2002 silam adalah kemunculan raksasa Afrika, Kamerun. Performa mereka membuat tim-tim besar seperti Jerman dan Rumania dibuat tak berdaya. Dan tentu saja, sosok di balik mengejutkannya penampilan Kamerun tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Roger Milla.

Yang membuat Roger Milla lebih istimewa dari bintang yang lebih tenar darinya adalah dia tak hanya piawai mengolah si kulit bundar, tapi juga sukses mempertontonkan perayaan kemenangan yang sampai sekarang selalu dikenang sebagai miliknya seorang.

Memperkenalkan Sepak Bola Afrika ke Seluruh Dunia

Roger Milla memang tidak pernah memenangkan Ballon D’Or layaknya George Weah. Jangankan penghargaan pemain terbaik dunia, memenangakn trofi di kompetisi bergengsi Eropa pun dia hampir tidak pernah.

Dia tercatat hanya mampu meraih dua trofi Piala Prancis dua musim beruntun bersama dua klub berbeda. Di AS Monaco ia meraihnya pada musim 1979-1980, dan setahun kemudian ia sukses mengulangi prestasi tersebut ketika berseragam Bastia.

Tidak ada piala lain yang menghiasai memorabilianya. Dia juga tidak pernah berhasil membawa negaranya, Kamerun, menjuarai Piala Afrika. Padahal Kamerun berstatus sebagai tim terbanyak kedua yang menjuarai Piala Afrika dengan lima gelar.

Kendati nihil prestasi, nama Roger Milla tidak bisa dipisahkan dari kemunculan pemain-pemain hebat benua Afrika. Tentu dia bukan pemain dari Benua Hitam pertama yang mentas di Piala Dunia, tapi dia lah yang membuat dunia terpana bahwa di Afrika sepak bola adalah simbol kesenangan.

Milla seakan menjadi simbol bahwa para pemain Afrika bukan hanya ingin numpang lewat saja di Piala Dunia. Dia ingin membentuk kekuatan baru dan membuktikannya ke seluruh dunia bahwa sepak bola bukan hanya milik Eropa dan Amerika.

Berbicara soal Piala Dunia, Roger Milla sudah tiga kali main di turnamen paling megah sejagad. Ajang pertamanya terjadi pada 1982 di Spanyol. Tapi kala itu ia gagal menancapkan prestasi untuk Kamerun dan juga nama pribadi.

Kamerun hanya mampu menjadi penggembira karena gagal lolos dari fase grup. Setelah itu, namanya kembali meredup seiring kegagalan negaranya menembus putaran final Piala Dunia 1986 di Meksiko. Kondisi tersebut kemudian membuatnya memutuskan pensiun dari timnas setahun kemudian.

Keputusan itu sekaligus membuat publik Kamerun terkejut bukan main. Mereka seolah kehilangan seorang pedoman dan tempat di mana menaruh harapan untuk kemajuan sepak bola negara.

Situasi ini berlangsung hingga helatan Piala Dunia 1990 di Italia. Teriakan publik ini kemudian didengar oleh presiden Kamerun ketika itu, Paul Biya. Tanpa pikir panjang dia langsung menelpon sang bintang untuk membujuknya kembali berseragam The Lions.

Permintaan tersebut akhirnya didengar Milla hingga akhirnya ia kembali turun gunung untuk membela Kamerun di Piala Dunia 1990. Dan benar saja, di usianya yang saat itu sudah menginjak 38 tahun, Milla tampil di luar dugaan.

Sepanjang turnamen, mantan pemain Pelita Jaya itu sukses menyarangkan empat gol. Tidak hanya itu, dia juga berjasa membawa negaranya tersebut menembus babak perempat final. Capaian ini sekligus menjadikan Kamerun jadi negara Afrika pertama yang mencapai perempat final Piala Dunia.

starsandstripesfc.com

Kebolehannya dalam membobol gawang lawan bahkan membuat striker muda milik Real Madrid, Luka Jovic, tersanjung. Ia pun mengaku bahwa permainannya terinspirasi dari legenda Kamerun tersebut.

“Setiap orang punya bakat berbeda-beda dalam hidupnya dan saya pikir bakat saya adalah menceak gol. Saya sangat terobsesi dengan gol setelah melihat beberapa rekaman pertandingan Roger Milla. Gayanya menggiring bola dan nalurinya di depan gawang lawan selalu saya tirukan ketika bermain bersama teman-teman,” kata Jovic kepada The Players Tribune.

Tapi kesuksesan tersebut bukan satu-satunya tajuk yang disajikan Roger Milla di ajang paling bergengsi sejagad. Ya, dia selalu jadi pusat perhatian di seluruh stadion yang mempertandingkan Kamerun. Bukan karena gol-golnya atau aksinya melewati penjagaan lawan, melainkan aksi menghiburnya di setiap sudut lapangan.

Roger Milla adalah simbol kebahagiaan dalam sepak bola. Dia membuktikan bahwa sebuah gol tidak hanya dirayakan secara emosional, tapi juga dengan riang gembira. Cara ini terbukti tidak hanya menyihir rekan setimnya di lapangan, tapi ribuan pasang mata dari tribun stadion.

fifa.com

Tidak diketahui kapan tepatnya Milla memperkenalkan gol tersebut. Namun, keempat golnya di Italia ia rayakan dengan cara yang sama.

Akan tetapi, tetap saja satu yang paling dikenal adalah saat dirinya membobol gawang Kolombia yang dijaga sang legenda, Rene Higuita. Setelah dengan mudah melewati para bek Kolombia dan mengelabui Higuita, dia langsung berlari ke pojok lapangan untuk merayakannya dengan menari.

Kegembiraannya dalam merayakan gol akhirnya abadi sampai sekarang. Aksinya itu bahkan bisa dikatakan lebih mahsyur dibanding sejarah yang dibuat Kamerun saat itu.

“Saya tidak pernah memikirkan apa pun. Saya hanya ingin merayakan setiap gol yang saya cetak dengan sukacita. Tidak lebih dari itu,” katanya seperti dikutip Football5star.com dari Brtannica.

Keberhasilan Kamerun dan harumnya nama Roger Milla di Piala Dunia 1990 terus dilanjutkan oleh tim-tim lain. Sebut saja Senegal yang menembus semifinal Piala Dunia 2002 dan Ghana yang mengejutkan Afrika Selatan karena mencapai perempat final Piala Dunia 2010.

Tidak Suka Melihat Kamerun Melawan Indonesia

Di penghujung kariernya sebagai pesepak bola, Roger Milla meninggalkan hingar bingar kompetisi Eropa. Sempat pulang kampung untuk memperkuat klub masa kecilnya, Tonnerre, usai Piala Dunia 1990, ia langsung terbang ke benua Asia untuk memperkuat klub Indonesia, Pelita Jaya, pada 1994 silam.

bolalob.com

Indonesia sepertinya punya kesan tersendiri untuk Milla. Bagaimana tidak, ia bukan hanya membela satu klub saja, tapi dua. Setahun berseragam Pelita dan sukses menyarangkan 23 gol dari 23 penampilan, pemain yang pernah menyandang sebagai pemain tertua yang bermain di Piala Dunia itu merumput ke klub asal Kalimantan, Persisam Samarinda.

Dan di Indonesia pula dia menyudahi 26 tahun kariernya sebagai pesepak bola. Kendati punya kenangan indah di Nusantara, Roger MIlla sepertinya masih menganggap sepak bola Indonesia tertinggal jauh dari negaranya, Kamerun.

Hal ini terlihat ketika Kamerun menghadapi Indonesia di laga uji coba Maret 2015 lalu. Ia tidak sudi negaranya bertanding melawan Tim Garuda.

“Saya tidak tahu standar apa yang dipakai Federasi Kamerun untuk pertandingan uji coba ini. Kenapa mereka memilih lawan seperti Indonesia dan Thailand? Apakah mereka hanya mengejar keuntungan semata?,” imbuhnya.

“Melawan tim seperti Indonesia dan Thailand benar-benar merendahkan Kamerun. Ini sangat memalukan. Jika lawannya seperti ini kita tidak butuh uji coba,” kesalnya ketika itu.

Roger Milla, bagaimana pun kehebatannya semasa bermain, atau komentar pedasnya saat negaranya menghadapi Indonesia, tetap saja dia merupakan salah satu legenda terbesar di dunia. Keabadian namanya pun akan terus dijadikan role model para generasi muda di Afrika yang ingin menjadi pesepak bola.

Berkat namanya pula kompetisi sepak bola di Indonesia pernah menjadi perhatian dunia ketika mantan pemain Montpellier tersebut menginjakkan kakinya di tahun 1994 hingga 1996.

Comments are closed.