Sami Al-Jaber: Sang Raja Terakhir Arab Saudi

Football5star.com, Indonesia – Timur Tengah bisa dibilang sebagai salah satu kawasan yang jarang mengorbitkan pemain bintang di lapangan hijau. Mereka juga hampir tidak pernah bisa menembus kerasnya kompetisi Eropa.

Kendati begitu, untuk ukuran Asia, negara-negara Timur Tengah bisa meraih berprestasi. Sudah banyak dari mereka yang mampu memenangkan kejuaraan regional, baik di tingkat klub maupun negara.

Irak, Qatar, Uni Emirates Arab, Iran, dan Arab Saudi beberapa kali naik ke singgasana Piala Asia. Keberhasilan negara-negara ini turut mengorbitkan beberapa nama tenar yang kerap jadi perbincangan.

Arab Saudi adalah negara Timur Tengah paling sukses di Asia. Mereka jadi tim tersuskes dengan mengumpulkan tiga gelar. Ketiga gelar tersebut diraih pada masa keemasan di akhir 80-an dan 90-an.

Kesuksesan Arab Saudi menjadi raja di Asia lantas memunculkan satu nama yang masih melegenda sampai saat ini. Ya, siapa lagi kalau bukan Sami Al-Jaber. Dia turut membawa The Green Falcons mengangkat trofi Piala Asia 1996 silam. Setelah itu, buku sejarah mencatat namanya sebagai talenta terbaik yang dimiliki negara Teluk hingga saat ini.

Melegenda Pada Saat yang Tepat

Sedikitnya pemain Arab Saudi yang dikenal dunia memang tak lepas dari memori masa lalu negara tersebut. Bagaimana tidak, mereka tidak berafiliasi dengan induk sepak bola dunia, FIFA, sampai 1956. Pada saat yang hampir bersamaan, Federasi sepak bola Arab Saudi (SAFF) juga tidak tergabung dalam Konfederasi Sepak Asia (AFC) hingga 1972.

SAFF baru diakui AFC pada 1972. Ketika itu, keponakan Raja Saud, Abdullah bin Faisal Al Saud, orang yang berjasa membawa negaranya bergabung. Tapi baru pada 1977 mereka bisa mengikuti Kualifikasi Piala Dunia.

Kualifikasi Piala Dunia 1978 dan 1990 berakhir mengecewakan. Mereka gagal melenggang ke turnamen sesungguhnya. Kegagalan di dua ajang awal membuat para pejabat dan suporter gusar. Mereka tidak percaya kekuatan mereka di Asia tidak berbekas ketika ingin membuktikan diri di level tertinggi.

Era baru The Green Falcons akhirnya dimulai pada media 1990-an. Tim merevolusi para pemain tua dan mengandalkan bakat-bakat mudanya. Ada enam bintang muda yang menjadi sorotan ketika itu. Mereka adalah Mohamed Al-Deayea, Mohammed Al-Khilaiwi, Ahmed Jamil Madani, Fuad Anwar, Khalid Al-Muwallid, serta Sami Al-Jaber.

Dari keenam nama di atas, Sami Al-Jaber lah yang menjadi pembeda di balik kebangkitan Arab Saudi. Baru berusia 20 tahun saat membela negaranya di Kualifikasi Piala Dunia 1994, ia langsung menjadi tumpuan utama di lini depan.

Pada laga terakhir di babak kualifikasi, Sami Al-Jaber jadi bintang kemenangan timnya. Satu gol dan satu assistnya membuat Arab Saudi menang 4-2 atas Iran. Hasil ini memastikan langkah mereka ke Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat.

Photos

Hadirkan Kegembiraan

Kesuksesan ini membuat rakyat Arab Saudi gembira bukan kepalang. Maklum saja, ini merupakan Piala Dunia pertama mereka. Sami Al-Jaber juga tidak kuasa menahan tangis dengan memeluk ayahnya yang saat itu menyaksikan pertandingan di stadion.

Pada Piala Dunia pertamanya, Arab Saudi langsung mengguratkan sejarah. Sukses menembus babak 16 besar, mereka sampai sekarang jadi satu-satunya negara teluk yang mampu lolos dari fase grup Piala Dunia.

Berada satu grup dengan Belanda, Maroko, dan Belgia, mereka tampil digdaya. Hanya melawan De Oranje Sami Al-Jaber dkk kalah. Sisanya mereka berhasil meraih kemenangan.

Al-Jaber turut menyarangkan satu gol saat membantu timnya menang 2-1 atas Maroko. Hasil tersebut mengantarkan tim asuhan Jorge Solari bertemu Swedia di 16 besar.

upi

Akan tetapi, peruntungan mereka sudah berakhir. The Green Falcons kalah 1-3. Satu assist yang dibukukan Al-Jaber pun tidak berarti banyak.

Selesai membela negaranya di Piala Dunia 1994, Al-Jaber ternyata belum juga berhenti mengukir sejarah. Dia sukses membawa Arab Saudi mentas di tiga Piala Dunia selanjutnya. Hebatnya lagi, di Piala Dunia 1998 Prancis, Korea Selatan-Jepan 2002, dan Piala Dunia 2006 di Jerman, dia selalu mencetak gol.

Torehan ini membuatnya abadi di buku sejarah sebagai pemain Asia pertama yang berhasil mencetak gol di tiga edisi Piala Dunia. Menariknya lagi, tiap sang bomber mencatatkan namanya di papan skor, Arab Saudi tak pernah menelan kekalahan.

Pemain Pertama Arab Saudi di Benua Eropa

Vitalnya peran Sami Al-Jaber untuk timnas Arab Saudi membuat banyak klub ingin meminangnya. Tapi sang pemain tidak ingin mengkhianati klub yang telah membesarkan namanya, Al Hilal. Tapi pikirannya berubah seketika saat datang tawaran dari tim Inggris, Wolverhampton.

Setelah melalui negosiasi yang sangat panjang antara Wolverhampton, Al-Jaber, dan tentu saja pemerintah Arab Saudi, ia akhirnya memutuskan pindah ke Inggris pada 2004 silam. Keberadaannya di negara Britania menjadikannya sebagai pemain Arab pertama yang memperkuat klub Eropa.

birminghammail

Akan tetapi, tidak banyak catatan yang bisa diukir sang bomber di Inggris. Pada usianya yang sudah menginjak kepala tiga, ia lebih sering cedera dan duduk bangku cadangan.

Perbedaan budaya yang sangat bertolak belakang antara Inggris dan Arab Saudi akhirnya membawa Al-Jaber kembali ke Al-Hilal setahun kemudian. Namun, kepulangannya ini tidak serta merta membuat namanya meredup. Ia tetap mampu tampil mempesona hingga kembali meraih beberapa trofi lagi sebelum memutuskan pensiun 2009 lalu.

Pengkritik Kebijakan Pemerintah Arab Saudi

Berlabel sebagai legenda besar tidak membuat Al-Jaber buta pada apa yang selama ini terjadi di negaranya. Sebagai informasi, negara yang memiliki sistem monarki absolut itu punya peraturan rumit terkait keberadaan pemain.

Mereka kerap melarang pemain terbaiknya untuk berkarier di luar negeri. Salah satu orang yang merasakan hal tersebut adalah Saed Owairan. Pemain yang mengejutkan dunia lewat aksi magisnya saat membobol gawang Belgia di Piala Dunia 1994 mendapat larangan bermain di Eropa.

Beberapa agen pemain dan pemandu bakat dari Eropa datang untuk meminangnya. Saed Owairan sudah menerima tawaran tersebut. Sayang, pemerintah Saudi melarangnya.

Globe Soccer Awards

Seperti dikutip Football5star dari The Guardian, pelarangan pemain ke Eropa merupakan bentuk ketakutan pemerintah. Mereka khawatir jika si pemain meninggalkan nilai-nilai islam yang sudah jadi ketentuan wajib di Saudi.

Ketakutan tak berdasar seperti inilah yang dikritik pedas oleh Al-Jaber. Menurutnya, jika praktik seperti ini terus berlanjut, sepak bola Saudi tidak akan maju, bahkan untuk kawasan Asia sekali pun.

“Jika melihat Australia, Anda mungkin bisa menebak 90 persen dari pemain mereka bermain di Eropa. Begitu pula jika kita berbicara soal Jepang dan Korea Selatan. Mereka melakukan hal yang sama. Para pemain bebas bermain di mana saja, termasuk Eropa,” kata Al-Jaber seperti dilansir The Guardian.

“Cara itu sangat membantu dalam pengembangan sepak bola. Para pemain belajar hal-hal baru dan yang paling penting adalah mereka belajar menjadi seorang profesional sejati. Kami harus mengeluarkan kebijakan yang sama. Anda harus terus belajar dan itu tidak bisa terjadi jika tidak pergi ke liga yang lebih besar,” sambungnya.

Apa yang diidam-idamkan pria yang kini menjabat sebagai pemilik klub Al-Hilal akhirnya tercapai. Pada 2018 lalu ada tiga pemain Arab Saudi yang mengadu nasib di Liga Spanyol. Mereka adalah Sale Al-Dawsari (Villarreal), Yehya Al-Shehri (Leganes),m dan Fahad Al-Muwallad (Levante).

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More