Sejarah Rivalitas Manchester United vs Liverpool

Football5star.com, Indonesia – Bagi pencinta Liga Inggris, pertemuan antara Manchester United vs Liverpool dikenal dengan laga bertajuk North West Derby. Pertemuan keduanya Minggu, (20/10/2019) di Stadion Old Trafford jadi laga ke-231 sepanjang sejarah pertemuan kedua tim.

Jika bicara sejarah pertemuan kedua tim tak bisa dilepaskan dari fakta perkembangan kedua kota. Manchester dan Liverpool di era Revolusi Industri sama-sama memiliki peranan penting. Di awal abad ke-18, Manchester dianggap sebagai kota terpenting di Inggris.

Berbondong-bondong masyarakat tinggal di Manchester. Pada abad tersebut, rel-rel perkeretaapian dibangun di kota ini. Kondisi ini membuat kota Manchester tumbuh pesat. Sementara Liverpool mulai merangkak menjadi kota penting di awal abad ke-19.

Liverpool yang merupakan kota pelabuhan menjadi salah satu pelabuhan utama. Hal ini juga tak lepas dari pertumbuan pabrik-pabrik kapas di utara Inggris, utamanya kota Manchester.

Hubungan kedua kota ini makin diperkuat dengan dibangunnya Kanal Bridgewater, Mersey dan Irwell Navigation serta pembangunan rel kereta api yang menghubungkan kedua kota pada 15 September 1830. Ini jadi rel kereta api pertama yang menghubungkan dua kota di dunia.

Getty Images

Menariknya, hubungan positif kedua kota ini tak serta merta direspon dengan baik oleh masyarakat serta para politisi lokal. Pembangunan kanal dan rel kereta api ditentang oleh politisi Liverpool.

Dikuti Football5star.com, dari BBC, penolakan dari politisi Liverpool membuat kebencian dari publik Manchester. Ketegangan pun tercipta di akar rumpuh. Buruk pabrik Manchester dan buruk pelabuhan Liverpool menciptakan jurang pemisah. Pada titik ini sepak bola memainkan perannya.

Sebagai salah satu hiburan masyarakat Inggris, pertandingann sepak bola dijadikan buruh kedua kota untuk meluapkan kekesalan. Rivalitas politik pun didengungkan saat laga pertama klub kedua kota, Liverpool versus Newton Heath (cikal bakal Manchester United) pada 1894.

Publik Liverpool bersorak gembira pada laga tersebut. Pasalnya Liverpool berhasil mempecundangi Newton Heath dengan skor 2-0. Setahun kemudian, pertemuan kedua tim kembali dimenangkan Liverpool dengan skor 7-1 sekaligus mengantarkan Newton Heath degradasi ke Divisi II.

Rivalitas pasca Perang Dunia

Setelah dunia diguncang Perang Dunia I dan II, sepak bola kembali mendapat panggung sebagai penyembuh luka dan hiburan, utamnya bagi masyarakat Inggris. Rivalitas Manchester United vs Liverpool pun kembali meruncing.

Pada 1945, mantan pelatih tersukses United Sir Matt Busby kabarnya sempat mendapat tawaran dari Liverpool untuk melatih di Anfield. Sayangnya Matt Busby menolak mentah-mentah untuk kembali mengabdi di Liverpool. Hal itu lantaran karena ia tak mendapat kebebasan untuk mengatur tim.

Eks pemain Liverpool itu tetap melatih di Old Trafford dan torehkan tinta emas. Busby mengukir sejarah indah dengan mempersembahkan 5 trofi liga, 2 Piala FA, 5 FA Charity Shield, dan 1 European Cup.

Getty Images

Busby juga berhasil menemukan tiga pemain hebat United, Denis Law, Bobby Charlton, dan George Best yang di era modern dijuluki United Trinity.

Selang beberapa tahun, di Liverpool muncul sosok yang dianggap menjadi pesaing Busby. Ia adalah Bill Shankly. Faktanya kehadiran Shankly di Anfield mampu membuat petinggi The Reds tertidur pulas dan mimpi indah. Pasalnya Shankly di awal kepelatihannya mampu mempersembahkan 3 Liga Inggris, 2 Piala FA, 4 Piala Charity Shield, dan 1 UEFA Cup.

Dalam kurun waktu ini, persaingan kedua tim bisa dibilang mencapai titik puncak. Era Matt Busby di United dan era Shankly di Liverpool jadi persaingan terbaik di Liga Inggris hingga 1973. Persaingan Manchester United vs Liverpool dinikmati banyak pihak.

Meski sempat dirudung awan hitam karena tragedi Munich pada 1958, United masih mampu bersaing setelah merangkak dari bawah. Namun justru setelah 1973, United kembali terpuruk hingga sampai terdegradasi ke kasta kedua.

The Kop justru tengah merasakan masa indah di era tersebut. Dimotori oleh Kenny Dalglish, baik sebagai pemain maupun pelatih, The Kop berhasil meraup 9 trofi liga, 3 Piala FA, 5 Piala Liga, 7 FA Charity Shield, 3 European, Cup dan 1 UEFA Super Cup.

Getty Images

Sama seperti di era saat ini, publik Liverpool menari-nari di atas penderitaan kubu Manchester.

Era Sir Alex Ferguson

Mantan pelatih terbaik United, Sir Alex Fergusion sempat mengatakan bahwa persaingan kedua klub ini tidak akan pernah luntur di makan zaman.

“Liverpool selalu menjadi rival dan tidak akan berubah. Ini bukan karena posisi di liga, tapi juga secara geografis sejak Daniel Adamson membangun kanal untuk kapal berlabuh yang menjauh dari Liverpool ke Manchester,” ucap mantan simpatisan partai buruh Inggris tersebut seperti dikutip dari The Guardian.

Kehadiran Sir Alex memang membawa masa keemasan bagi publik Old Trafford. Dan sebaliknya, Liverpool harus gonta ganti pelatih untuk bisa menyamai masa keemasan tersebut.

Publik Anfield makin menuduk di era 90-an. Kemunculan class of 92 membuat United sebagai tim modern mampu menorehkan banyak prestasi baik di level lokal ataupun kompetisi Eropa. Sir Alex menutup masa baktinya bahkan dengan tinta emas yang begitu menyakitkan publik Anfield.

Getty Images

Manchester United berhasil menyalip torehan gelar Liga Inggris yang dikumpulkan Liverpool, sekaligus menjadi klub dengan raihan gelar liga terbanyak.

Momentum mundurnya Sir Alex dianggap sebagai awan hitam kedua publik United setelah era 1973. Justru di Anfield, mereka tengah berharap dengan datangnya rockstar dari Jerman Jurgen Klopp. Pasukan Anfield sangat berharap era Klopp bisa memberikan terbaik di tengah keterpurukan United.

Hal itu setidaknya bisa dibuktikan di dua musim terakhir. Saat Liverpool berpesta meraih gelar juara Liga Champions setelah kalahkan Tottenham, United masih fokus mengais kekuatan. Hal ini makin diperparah dengan kondisi United musim ini.

Comments
Loading...