Semoga Anak Asuh Fakhri Husaini Bisa Ulangi Memori AFC 1961

Football5star.com, Indonesia – Hasil imbang 1-1 timnas U-19 Indonesia melawan Korea Utara di Stadion Gelora Bung Karno, Minggu (10/11/2019) membuat anak asuh Fakhri Husaini ini memastikan lolos ke babak final Piala AFC U-19 2020 mendatang.

“Sudah selesai tugas saya sebagai pelatih timnas U19 dengan berakhirnya kualifikasi ini. Jadi, saya berpesan ke pemain, siapa pun pelatihnya nanti di Piala Asia atau Piala Dunia, mereka harus tampil jauh lebih hebat dari yang mereka perlihatkan sekarang ini,” kata Fakhri seperti dikutip Football5star.com dari halaman resmi PSSI, Selasa (11/11/2019).

pssi.org

“Yang paling penting, saya sudah memberikan kontribusi yang maksimum, sudah memberikan rasa bangga ke seluruh pencinta sepak bola Indonesia,” tambah Fakhri.

Lolosnya Bagus Kahfri dan kawan-kawan ke pentas Piala AFC U-19 2020 memang jadi kebanggan tersendiri. Namun tentu saja hal itu belum cukup. Seperti apa yang dikatakan oleh Fakhri, skuat Garuda Muda harus tampil jauh lebih hebat nantinya.

Bahkan kalau bisa menyamai rekor manis yang pernah ditorehkan skuat U-19 pada perhelatan Piala AFC 1961. Perhelatan yang berlangsung di Thailand tersebut, timnas berada di grup neraka bersama Korea Selatan, Vietnam Selatan, Singapura, dan Jepang di Grup B.

Setahun sebelumnya di perhelatan yang sama, timnas juga mampu menorehkan prestasi pertama. Finish di urutan keempat turnamen ini setelah di laga perebutan ketiga dikalahkan Jepang dengan skor tipis 2-3.

“Pada menit ke-69, Indonesia memiliki peluang emas setelah Dzulkifli mendapatkan peluang emas memanfaatkan passing akurat dari Sutjipto. Berhadapan satu lawan satu, Watanabe mampu melakukan penyelamatan gemilang dengan menahan sontekan Dzulkifli,” tulisan laporan koran The Straits Times terbitan 08 April 1960.

Turnamen 1961

Pada pertandingan pertama grup B Piala AFC 1961, Indonesia yang saat itu dilatih oleh Djamiat Dhalhar mampu meraih poin pertama dengan mengalahkan Vietnam Selatan dengan skor 2-0.

Pada laga kedua, skor imbang 2-2 diraih Bob Hippy dan kawan-kawan saat melawan Korea Selatan. Padahal di Piala AFC U-19 1960, timnas dibantai dengan skor 4-2 oleh tim Negeri Gingseng tersebut.

Menariknya laporan dari media Malaysia di tahun itu menyebut permainan timnas sangat determinan dan on fire.

“Pemain Indonesia tunjukkan semangat mereka yang bisa membuat mata penonton terbelalak. Mereka terus menggempur lini belakang Korsel yang dikawal penjaga gawang, Lim Chang Soo,” tulisan laporan The Straits Times saat itu.

The Straits Times

Determinasi dan semangat tak mudah menyerah itu diakui oleh Bob Hippy tak lepas dari polesan tiga pelatih timnas Tony Pogaknic (pelatih senior Indonesia), Djamiat Dhalhar, dan Maulwi Saelan.

Selain itu ada juga dorongan berupa motivasi dan bonus dari orang nomor satu di Republik ini, Presiden Soekarno untuk para penggawa Garuda Muda.

“Presiden Soekarno hendak ke Eropa dan transit di Bangkok. Mendengar Indonesia menjadi juara, Presiden Soekarno menemui kami dan memberikan uang saku. Presiden bangga kami bisa menjadi juara,” kata Bob seperti dikutip dari Liputan6.

Di babak penyisihan grup, selain menahan imbang Korsel 2-2. Timnas juga mampu meraih kemenangan 2-1 atas Jepang dan menahan imbang Singapura dengan skor 1-1 di laga terakhir.

Juara bersama Myanmar

Indonesia yang mengoleksi poin 6 pun bertengger di posisi puncak klasemen grup A. Selisih satu poin dengan Korea Selatan di peringkat kedua. Itu artinya Indonesia mampu menggagalkan Korsel mempertahankan gelar yang mereka raih di 1960.

Indonesia pun melangkah ke partai puncak untuk bertemu Burma alias Myanmar. Burma sendiri juga berstatus sebagai juara grup B dengan raihan poin 7, selisih satu poin dari Thailand di peringkat kedua.

Melawan Myanmar di partai final, Indonesia hanya mampu bermain imbang tanpa gol. Karena saat itu regulasi tendangan adu penalti ditiadakan, maka kedua tim dinobatkan sebagai juara bersama turnamen ini.

goal.com

Keputusan untuk tidak dilanjutkannya pertandingan ke babak adu penalti menurut Bob Hippy tak lepas dari keputusan raja Thailand saat itu Bhumibol Adulyadej.

“Padahal, kami sudah siap-siap untuk perpanjangan waktu atau adu penalti. Raja Thailand kasihan melihat kedua tim yang sudah berjuang mati-matian, jadi biar tidak ada yang kecewa dijadikan juara bersama, dan tidak ada yang bisa membantahnya,” tutur Bob seperti dikutip dari Goal

Comments
Loading...