Semoga Timnas Indonesia Tidak Menjadi San Marino

Football5star.com, Indonesia – Kekalahan telak kembali dialami oleh salah satu negara kecil di Eropa, San Marino. Melawan Belgia di Stadion King Baudoiun di lanjutan babak kualifikasi Piala Eropa 2020 Grup I, San Marino kalah sembilan gol tanpa balas.

Dua dari sembilan gol Belgia dicetak oleh striker Inter Milan Romelu Lukaku. Kekalahan ini menambah panjang kekalahan telak San Marino di pertandingan resmi. Kekalahan terbesar yang pernah dialami negara berpenduduk 32 ribu jiwa ini terjadi pada 2006 silam.

Bertemu Jerman di Serravalle pada 6 September 20016, negara kecil ini dipecundangi dengan skor 13-0. Yang tak kalah miris, kemenangan terbesar negara ini di pertandingan internasional terjadi pada 2004 yakni 1-0 melawan Liechtenstein.

Dikutip Football5star.com dari thesefootballtimes, Jumat (11/10/2019), mantan pelatih timnas San Marino Giampaolo Mazza sempat mengatakan bahwa kekalahan sudah menjadi bagian tak terpisahkan tim nasional negara ini.

Striker Belgia Romelu Lukaku (Getty Images)
Getty Images

“Kekalahan adalah takdir kami,” kata Mazza. Pernyataan Mazza ini diperkuat oleh presiden federasi sepak bola San Marino Giorgio Crescentini. Ia mengatakan bahwa timnas negaranya memang bertanding bukan untuk menang.

“Tujuan utama kami bertanding memang bukan untuk menang tetapi bermain dengan martabat,” ucapnya.

Sayangnya ucapan dari Giorgio Crescentini ini justru berbanding terbalik dengan hasil-hasil yang diterima. Permainan San Marino sama sekali tidak menujukkan permainan yang bermartabat.

Perolehan gol negara ini sepanjang mengikuti pertandingan internasional selama 29 tahun sangat miris yakni 20 gol. Sepanjang 2008 saja, tiga kali mereka rasakan kekalahan telak. Selain dibantai Jerman, mereka juga sempat kalah 0-10 dari Norwegia dan 0-11 dari Belanda.

Sedangkan untuk tahun ini, dari 9 pertandingan yang mereka lakoni dua diantaranya bukan pertandingan resmi anak asuh dari Franco Varrella tersebut kebobolan sebanyak 39 gol tanpa sebiji pun mencetak gol.

Bahkan Filippo Berardi cs tak berkutik saat bertemu dua tim amatir dari Liga Italia, R.C. Cesena dan Imolese pada Maret 2019. Di dua laga tersebut, mereka takluk 0-1.

Indonesia jangan seperti San Marino

Di hari yang sama, timnas Indonesia pun mengalami kekalahan telak dari Uni Emirates Arab di lanjutan pertandingan babak kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Asia. Kekalahan lima gol tanpa balas membenamkan tim besutan Simon McMenemy ke dasar klasemen grup G.

Hasil ini tentu membuat kecewa pendukung timnas, meski bagi sebagian orang hal tersebut tidak mengejutkan dan hasil tersebut sudah mereka duga sebelumnya. Kondisi tersebut juga yang dialami pendukung San Marino tiap kali negaranya akan bertanding.

Menyejajarkan Indonesia dengan San Marino tentu tidak masuk akal. Pun dengan membandingkan dua negara ini. Kondisinya sangat jauh berbeda. Seperti disebutkan di awal San Marino hanya negara kecil berpenduduk tidak lebih dari 32 ribu orang.

Getty Images

Para penggawa timnas Indonesia adalah pemain profesional. Sedangkan San Marino mayoritas pemainnya berlatar belakang dari banyak profesi seperti seorang mahasiswa, juru ketik, hingga instruktur fitnes.

Bahkan negara ini sempat memanggil seorang pegawai bank untuk mengganti posisi kiper utama karena cedera. Kejadian itu terjadi pada 6 September 2012 saat akan melawan Swedia. Kiper utama Aldo Simoncini cedera dan posisinya digantikan pegawai bank bernama Federico Valentini yang dipanggil sehari sebelum pertandingan.

Memanggil pemain tergesa-gesa untuk melakukan pemusatan latihan memang sudah menjadi hal wajar di negara tersebut. Bahkan para penggawa timnas negara ini kabarnya juga kadang lebih fokus pada pekerjaan utamanya dibanding membela timnas.

Hal itu menjadi wajar karena pemain San Marino tak mendapat bayaran yang layak. Eks pelatih Giampaolo Mazza bahkan kabarnya tidak mendapat bayaran saat melatih San Marino.

Filosofi sepak bola San Marino

Lantas apakah federasi sepak bola negara ini tidak berbenah? Tentu saja mereka melakukannya. Blue print untuk menjadikan negara ini kuat di sepak bola dilakukan, sama seperti yang dilakukan para pengurus PSSI.

Jika PSSI memiliki Filanesia, FSGC atau federasi sepak bola San Marino juga memiliki hal tak jauh berbeda. Dikutip dari halaman resmi federasi, FSGC memiliki filosofi sepak bola membangun dari usia dini. Klasik.

Yang menarik justru, jika PSSI bersama timnas Indonesia cukup gencar untuk melakukan naturalisasi, FSGC justru sangat anti. Mereka memegang teguh program pembinaan usia muda.

bola.com

“Kita tidak mungkin menaturalisasi pemain Brazil karena itu tidak mungkin,” kata Crescentini. “Kita tidak ingin menyimpang dari aturan yang ada,” tambahnya.

Hampir sama dengan pengurus federasi lain, Crescentini pun menyanggah jika sepak bola negaranya berantakan. Ia mengatakan San Marino masih berada di jalur yang benar.

“Saya pikir kami masih dalam jalur yang benar,” katanya.

Comments
Loading...