Sepak Bola Lebanon, dari Perang Saudara hingga Pengaturan Skor

Football5star.com, Indonesia – Lebanon jadi perhatian dunia. Ledakan yang mengguncang ibu kota negara tersebut, Beirut, Selasa (4/8/2020) waktu setempat membuat semua mata tertuju ke sana.

Negara yang memiliki julukan Paris of The East tersebut ditimpa insiden mengerikan yang menewaskan puluhan orang dan melukai ratusan lainnya. Perdana Menteri Lebanon, Hassan Diab menyatakan, sebanyak 2.750 ammonium nitrat yang merupakan pupuk pertanian disinyalir menjaid penyebab insiden.ledakan di Beirut.

Sejumlah pihak pun mengirimkan belangsungkawa dan rasa simpatik atas kejadian ini. Tak terkecuali para insan sepak bola mulai dari Gareth Bela, Kylian Mbappe hingga dua pemain Lebanon di Indonesia, Hussein Eldor dan Samir Ayass.

Untuk urusan kemanusian sepak bola memang selalu menembus batas. Tak terkecuali di insiden Lebanon ini. Bagi orang Lebanon sendiri kehidupan mereka yang tenang sebelum ledakan di Beirut juga didapatkan dari peristiwa tak kalah mengerikan.

Di era 70 hingga 90-an, Lebanon sempat diguncang perang saudara. Catatan dari bbc menyebutkan perang saudara ini mengakibatkan 130ribu hingga 250ribu penduduk tewas. Dampak dari perang saudara ini juga merembet ke sepak bola negeri tersebut.

Sepak bola Lebanon dan perang saudara

Federasi sepak bola Lebanon (LFA) tercatat mulai berdiri pada 22 Maret 1933. Federasi ini terbentuk berkat usaha dari jurnalis sepak bola bernama Nassif Majdalani. Penyiar dan presenter televisi ini pun diangkat jadi presiden LFA pada 1946 hingga 1949.

Satu tahun setelah berdiri, LFA bergabung ke FIFA namun baru 6 tahun kemudian, FIFA mencatat secara resmi pertandingan tim nasional Lebanon. Pada 27 April 1940, Lebanon melawan Palestina dan mengalami kekalahan telak 1-5.

Berbeda dengan tim dari Timur Tengah lainnya, Lebanon bisa dibilang bukan negara kuat sepak bola. Namun di era 60 hingga 70-an, Lebonon termasuk tim kuda hitam yang cukup disegani. Mereka misalnya mampu mengalahkan Kuwait di Piala Arab 1966.

Pada Piala Asia 1971, Lebanon bahkan sempat melaju ke babak semifinal sebelum dihentikan oleh Irak dengan skor 1-4. Menariknya pada perhelatan Piala Asia 1980 Lebonan ikut serta meski di dalam negeri terjadi perang saudara.

nytimes.com

Bahkan saat mereka ikut babak kualifikasi Piala Dunia 1994, perang saudara di negara tersebut belum juga berakhir. Setali tiga uang dengan timnas Indonesia, Lebanon juga selalu gagal di babak kualifikasi Piala Dunia.

Perang saudara di negeri itu tercatat juga memporak-porandakan sejumlah fasilitas sepak bola termasuk Camille Chamoun Sports City Stadium, salah satu stadion terbesar di Lebanon.

Bahkan saat jadi tuan rumah Piala Asia 2000 sejumlah pihak khawatir dengan kesiapan negara ini menyediakan fasilitas olahraga dan stadion. Nyatanya negeri ini suskes menjadi tuan rumah Piala Asia 2000.

Sama seperti timnas Indonesia yang saat itu tergabung di grup B, tim nasional Lebanon yang berada di grup A berada di urutan paling buncit dari empat negara. Lebanon pun gagal lolos dari babak fase grup.

Kasus match fixing

Prestasi timnas Lebanon yang tidak mentereng juga diikuti dengan hal negatif yang menyertainya. Sepak bola Lebanon pada 2013 diguncang kasus match fixing. Dikutip dari The Guardian, kasus ini membuat FIFA melakukan investigasi penuh untuk mengungkapnya.

Kasus ini juga melibatkan mantan pemain Persiba Balikpapan, Mahmoud El Ali yang juga penggawa tim nasional Lebanon saat itu. Kasus match fixing di Lebanon sebenarnya sudah dicurigai FIFA sejak akhir 2012. Saat itu sejumlah pemain dicurigai sengaja mengalah saat bermain di level klub dan timnas.

Kabarnya para pemain ini disogok oleh banda judi internasional. Dari hasil investigasi menemukan total 24 pemain Lebanon terlibat skandal match-fixing dan 2 pemain diantaranya mendapat sanksi seumur hidup tidak boleh main bola lagi.

antaranews

Dua pemain itu adalah Ramez Dayoub dan Mahmoud El Ali, keduanya dianggap aktor utama kekalahan timnas Lebanon oleh Qatar pada pertandingan kualifikasi 2014.

Yang menarik, Ali yang saat mendapat sanksi masih berstatus pemain Persiba mau tak mau harus mengakhiri kontraknya. Namun dua tahun setelahnya nama Ali kembali mentas di panggung sepak bola Indonesia.

Pada ajang Piala Jenderal Sudirman, klub Persela Lamongan mengontrak pemain ini. Saat itu pihak klub mengaku sudah tahu perihal sanksi tersebut, namun kebutuhan tim yang membuat mereka merekrut Ali.

“Sebenarnya kami sudah tahu, bila El Ali terkena sanksi dari Federasi sepakbola Lebanon (FLFA) dan FIFA, karena kasus pengaturan skor. Tapi kami butuh penyerang bagus sebagai pendamping (Bijahil) Chalwa, untuk membobol gawang lawan di PJS,” ujar MO Persela, Arif Bachtiar saat itu.

“Sudahlah, jangan lagi dipermasalahkan itu (sanksi El Ali). Semua mestinya harus berpikir positif saja. Sepakbola Indonesia juga sudah disanksi FIFA karena pembekuan PSSI. Kalau mau diberi sanksi, mau disanksi yang mana lagi?” tambahnya.

FIFAinternasionalLebanonPersela Lamongan