Solskjaer Cuma Korban Etos Buruk Manchester United

Football5star.com, Indonesia – Siapa yang salah dari menurunnya perfomance Manchester United? Ole Gunnar Solskjaer atau ada faktor etos buruk yang sudah menahun dan tak jua hilang dari Old Trafford?

Etos buruk yang dimaksud ialah soal ogah mengoreksi kesalahan sendiri karena terbuai dengan status tim besar. Pola ini menurut Paul Hayward, chief editor the telegraph sudah ada sejak Red Devils ditinggal oleh Sir Alex Ferguson.

“Anda tidak dapat membiarkan kesalahan itu terus lestari. Bayangkan dari Desember 2018 hingga April 2019, mampu meraih 8 kemenangan beruntun kemudian kalah 6 dari 8 pertandingan setelahnya, lantas tak ada pembenahan krusial,” kata Hayward, Jumat (26/4/2019).

Hayward menduga kesalahan mendasar memang terletak pada dua sisi, pertama mental dan budaya buruk skuat dan kedua soal visi manajemen klub.

Dari segi mental, tak bisa ditampik setelah Jose Mourinho lengser, skuat Manchester United seperti mendapat ‘kemerdekaan’.

Beruntung bagi mereka, pelatih baru si Baby Face. Senyum akan selalu mengembang di wajah Solskjaer meski ia tahu sejumlah pemain bersikap pasif dan tak profesional. Kondisi ini juga yang dilihat Roy Keane.

Eks kapten Manchester United itu secara terang-terangan menyebut pemain seperti Paul Pogba sebagai biang masalah. Solskjaer baru-baru ini saja memberi ultimatum ke pemain Prancis itu agar tak bermain sesuka hati.

Padahal karakter egois Pogba di sejumlah pertandingan Manchester United sangat terlihat. “Gestur tubuhnya penuh dengan kebohongan. Dia masalah terbesar bagi Manchester United,” kata Roy Keane.

“Dia tak berlari dan sangat malas untuk membantu pertahanan,” tambah Keane.

Paul Pogba manchester united chelsea

Singkatnya, Paul Pogba cs dianggap memang tak mau lagi bekerja keras untuk meraih hasil maksimal. Mereka cukup puas dengan capaian yang ada, malas berkembang, dan tidak tunjukkan kedewasaan pemain profesional.

Kelalaian manajemen

Masalah ini ditambah dengan misi manajemen klub yang sepenuhnya berorientasi pada bisnis. Semenjak kecemerlangan Solskjaer di awal-awal pengangkatannya, laporan bbc menyebut penjualan merk Red Devils alami kenaikan signifikan.

Ed Woodward dan keluarga Glazers pun langsung mengambil keputusan cepat, segera mempermanenkan pria Norwegia tersebut. Padahal publik Old Trafford sebagian besar menginginkan klub mendapatkan pelatih lebih berpengalaman seperti Maurico Pochettino.

Bagi manajemen, 14 kemenangan dan 2 imbang dari 19 pertandingan sudah menjadi penilaian yang cukup untuk membuat Solskjaer berstatus karyawan tetap Old Trafford. Padahal saat itu, sejumlah pengamat dan fans mempertanyakan soal kemampuan Baby Face meredakan tekanan di klub sebesar Manchester United.

Manajemen kemudian mengambil jalan pintas yakni menyajikan cerita nostalgia saat Solskjaer jadi super sub di era Sir Alex. Tentu saja dua hal ini tak bisa dijadikan pembanding.

Buktinya saat kalah dari Everton 0-4, cara yang diambil Solskjaer untuk mengatasi tekanan justru keliru. Sama seperti manajemen, ia malah membawa pemain Manchester United bernostalgia ke The Cliff.

Maksud hati ingin para pemainnya mengingat soal kejayaan era masa lampau, skuat Red Devils malah tambah hancur saat kedatangan Manchester City.

Sulit bagi Solskjaer untuk mengurai masalah di klub ini. Ia jelas membutuhkan sosok yang melebihi kapasitas dirinya, menjadi jembatan ke manajemen, dan juga menjadi ‘hakim’ antara dirinya ke pemain.

Mike Phelan, orang kedua era Sir Alex Ferguson, kabarnya dimajukan menjadi direktur teknik karena faktor tersebut. Namun pertanyaannya siapa dan apa berharganya Phelan bagi seorang Paul Pogba dan David de Gea?

Comments
Loading...