Stadion GBLA: Bangunan Dikorupsi, Serah Terima Bisa Berujung Penjara

Football5Star.com, Indonesia – Polemik Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) seolah sudah menjadi sangat kusut. Ibaratnya mencari jarum dalam kumpulan jerami, solusi dari banyaknya permasalahan yang ada seperti sulit untuk dipecahkan.

Kini, stadion berkapasitas 38 ribu penonton itu seperti mati suri. Ada, tapi tidak bisa berfungsi. Stadion GBLA kini tak bisa dipakai lantaran terjadi sejumlah kerusakan kontruksi pada bagian tribune dari stadion yang memakan biaya kurang lebih sebesar Rp 545 miliar tersebut.

Sejak awal dibangun, stadion yang menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Barat itu memang telah banyak cacat. Sebelumnya pada 2015 saat Ridwan Kamil menjabat sebagai Wali Kota Bandung, kasus korupsi pembangunan mencuat.

Penyidik dari Mabes Polri turun memeriksa sejumlah pejabat di Pemkot Bandung. Mereka menggeledah Kantor Dinas Tata Ruang Cipta Karya dan PT Adhi Karya. Dalam penggeledahan tersebut penyidik dari Bareskrim mengamankan sejumlah dokumen.

Stadion GBLA: Bangunan Dikorupsi, Serah Terima Bisa Berujung Penjara
Media Indonesia

Anggota Komisi 1 DPR RI dari Fraksi Partai Nasdem, Muhammad Farhan mengatakan kini masalah korupsi memang sudah selesai. Namun, peninggalan dari kosus korupsi tersebut masih ada hingga saat ini. Yakni adalah korupsi bahan dari setiap bangunan yang tidak semestinya. Bahan dan fasilitas yang ada dibeli dengan harga yang lebih rendah dengan kualitas rendah dari semestinya.

“Masih ada masalah korupsi pembangunan dari GBLA. Kasusnya udah selesai untuk korupsi. Tetapi setiap bangunan yang dikorupsi rendah. Dan ada masalah dengan kontraktor. Seharusnya PT Adhi Karya memberikan berita serah terima kepada Pemkot bandung. Masalahnya keduanya tidak berani,” tutur Farhan, seperti dikutip Football5Star.com dari laman PRFM News.

Stadion GBLA Seperti “Bola Panas”

Lebih lanjut, Farhan juga menyebut bahwa serah terima dari PT Adhi Karya kepada Pemerintah Kota Bandung kini seperti bola panas. Keduanya sama-sama tak ingin ada yang menerima, lantaran bisa saja terseret kasus lantaran korupsi kontruksi bangunan tersebut.

Dalam hal ini, Farhan pun meminta agar Kementerian PU PR untuk turun tangan langsung. Karena bila dilihat secara langsung baik dari Pemkot ataupun PT. Adhi Karya, keduanya tidak berani mengambil resiko.

“Saya selidiki langsung dan keduanya tidak berani menandatangani. Mereka tidak mau mengambil resiko bila jadi tersangka Bareskrim. GBLA ini ibarat barang sudah rusak, artinya ini barang harus ada yang harus berani mengambil terobosan,” tuturnya.

Lebih lanjut Farhan menyebut, jika ke depannya semua pihak hanya menunggu-menunggu saja dan tidak berani mengambil resiko, maka bukan tak mungkin Stadion yang digadang-gadang bertaraf internasional ini akan ambruk.

“Kalau tidak maka GBLA akan ambruk,” sebut Farhan.

Comments
Loading...