Tak Dikasih Masakan Pedas, Pemain Ogah Makan Malah Bahaya

Football5Star.com – Dokter tim Persija Jakarta, Donny Kurniawan, menyebut kalau memang pemain sepak bola dilarang makan pedas. Tapi itu menurutnya budaya luar negeri. Dia punya penjelasan soal alasannya tersebut.

Seperti diketahui, soal menu makanan pesepak bola belakangan tengah jadi sorotan tajam dari netizen. Banyak pemain yang mengunggah makanannya yang dianggap oleh warganet sembarangan. Bahkan ada pemain yang makan pedas, sampai berlemak.

Miss persepsi lagi adalah masalah pedas, orang luar tidak terbiasa dengan makanan pedas, jadi kalau mereka makan pedas, sekali makan pedas itu sensitif dan kebudayaan itu dibawa ke Indonesia,” ungkap Donny Kurniawan saat dihubungi awak media.

“Jadi oleh pelatih-pelatih asing itu dibawa ke Indonesia, jadi kalau makanan pedas itu pantangan, bagus itu benar memang. Tapi karena orang yang tidak biasa itu pasti mengalami mules dan segala macam ada resiko tidak bisa bertanding, kita harus jaga itu,” sambung dia.

Meski begitu, orang Indonesia, termasuk pemain sudah memiliki budaya makan pedas yang akan sukar dihilangkan. Jadi, Donny punya beberapa jalan keluar bila ada pemain yang sampai tak mau makan karena menu makanannya tak pedas.

Punya Cara Sendiri

“Tapi untuk kita orang Indonesia yang sudah memiliki kebudayaan makan pedas dari kita kecil, terus kita larang makan pedas, ada hal yang lebih menakutkan, atlet itu kadang malah tidak mau makan. Ketika dia tidak mau makan dia tidak memiliki kalori yang cukup itu bukannya lebih seram?,” kata dia.

“Jadi kita kadang lihat kebudayaan luar yang kita masukan disini. Kalau saya di Persija, yang kita bangun itu atlet memahami konten, artinya dia butuh protein berapa, dia butuh lemak berapa, dan dia butuh nasi berapa kita harus jaga. Di Persija itu kita tidak menjaga berat badan saja, tapi kita melihatnya ke presentasi lemak,” beber dokter yang karib disapa Docbro itu.

Kalau pemain lemaknya di atas 18 persen, kata Docbro, itu sudah tanda merah dari tim dokter Persija. Pemain wajib mengatur pola makannya dan mengatur komposisi lemaknya. “Kalau lemaknya di bawah 18 persen agak longgar, tapi protein juga harus diperhatikan lagi, karena itu penting untuk masa otot pemain, karena itu yang menjaga mereka dari cedera,” papar dia.

“Satu hal lagi, saya rasa setiap atlet menyadari kok untuk menjaga pola hidupnya, kadang kita suka memghakimi terlalu berat kepada mereka. Sesekali mereka makan kita langsung menghakimi. Mereka pun takut kok kalau performa mereka menurun apalagi bila cuma karena masalah makan,” pungkas Docbro.

Donny KurniawanHansamu YamaLiga 1 2020Persija Jakarta