Tersingkir dari Liga Europa, Arsenal Kena “Kutukan” Korban Kejahatan HAM?

Football5star.com, Indonesia – Selalu ada cerita yang mungkin tak masuk jika satu klub besar tersingkir di kompetisi bergengsi atau alami penurunan penampilan. Hal itu juga yang menimpa Arsenal karena tersingkir dari Liga Europa.

Melawan wakil Yunani Olympiakos, anak asuh Mikel Arteta itu kalah 1-2 di leg kedua babak 32 besar Liga Europa di Stadion Emirates, Jumat (28/2/2020) dinihari tadi.

Sontak saja kekalahan ini membuat sejumlah netizen keluarkan kicauan berbau konspirasi. Misalnya mengaitkan hasil buruk Arsenal karena tim Meriam London ini terkena ‘kutukan’ korban kejahatan HAM.

“Arsenal kalah karena Rwanda baru saja menerapkan kebijakan menutup perbatasan mereka” kata salah satu netizen.

Arsenal sejak 2018 lalu memang menjalin kerjasama dengan pemerintah Rwanda. Presiden Rwanda, Paul Kagame diketahui ialah fan dari tim London ini. Kerjasama ini dilakukan Kagame untuk mempromosikan wisata di Rwanda dan menghapus citra buruk negara di Afrika Tengah tersebut.

Kerjasama ini menuai pro kontra utamanya di mata masyarakat Rwanda. Salah satu fan Arsenal asal Rwanda sempat mengatakan bahwa kerjasama itu seperti meludahi darah orang-orang tak bersalah di sana.

Tersingkir dari Piala Europa, Arsenal Kena "Kutukan" Korban Kejahatan HAM?
The Sun

“Apa yanng mengganggu saya adalah kata-kata Visit Rwanda di jersey tim favorit saya, Arsenal. Ini adalah fakta bahwa pemimpin negara itu meludahi darah orang-orang yang tewas terbunuh,” kicau netizen itu.

Laporan dari jurnalis investigasi Kanada, Judi Rever seperti dikutip dari Washington Post mengatakan bahwa di era 90-an, rezim di Rwanda telah melakukan pembantaian terhadap ratusan ribu warga sipil.

“Pada Oktober 2017, subkomite PBB tentang pencegahan penyiksaan berkunjung ke Rwanda dan menemukan sejumlah fakta pelanggaran HAM di sana,” tulis Rever.

Jurnalis Prancis Simon Wohlfahrt dalam video jurnalistik terbarunya juga mengkritik kebijakan Arsenal mau menggandeng kerjasama dengan pemerintah Kagame. Dikutip dari france24, kerjasama ini tak salah namun tak etis menurut Wohlfahrt.

Tentu saja tidak ada hubungannya penurunan penampilan Arsenal dengan sponsor Visit Rwanda. Tapi ya begitulah sepak bola, selalu ada cerita yang mengikuti setelah laga 2×45 menit dengan hasil yang dramatis.