Timnas Indonesia di Bawah Ketiak Asing

Editorial Oleh: Irawan Dwi Ismunanto
Editor in Chief Football5star.com

Sebelum memulai tulisan, saya ingin meminta maaf jika judul yang dipakai terlalu berlebihan atau bahkan terkesan melecehkan. Akan tetapi, hal itu menjadi kenyataan yang saya pun berat untuk mengakuinya. Sampai saat ini, sepak bola Indonesia, khususnya timnas kebanggaan kita, memang masih inferior terhadap asing.

Padahal, Simon Kuper dan Stefan Szymanski pernah menulis dalam buku Soccernomic bahwa posisi Indonesia dalam dunia sepak bola termasuk dalam daftar underachiever. Dua penulis kenamaan asal Inggris itu mengutarakan beberapa tolok ukur dalam menentukan level. Termasuk popularitas dan jumlah penduduk.

Saya percaya, kita semua sepakat bahwa sepak bola merupakan olahraga yang paling populer di Indonesia. Lalu, anggap saja separuh dari jumlah populasi di Indonesia menggemari atau bahkan memainkan si kulit bulat.

Berhulu dari asumsi itu, seharusnya negeri kita tidak kesulitan melahirkan timnas sepak bola kuat. Sayangnya, jauh panggang dari api. Prestasi sepak bola Indonesia masih belum mencapai level ekspektasi kita.

Segala upaya coba dilakukan PSSI selaku induk olahraga sepak bola di tanah air. Termasuk memperbaiki kompetisi, menggalakkan pembinaan usia muda, naturalisasi pemain asing, dan banyak lagi.

Semua upaya akan terus sia-sia selama kita masih merasa inferior terhadap asing. Sulit untuk mengobatinya lantaran kita pun masih melibatkan budaya legowo, sopan santun, dan rendah hati, ke dalam sepak bola.

Budaya itu memang biasa kita tunjukkan terhadap asing. Siapa pun yang datang dari luar bakal diterima dengan tangan terbuka. Bahkan, orang asing selalu dipandang sebagai tamu yang harus diperlakukan sebaik mungkin. Sikap tersebut memang tak salah jika dilakukan dengan kadar secukupnya.

SIKAP INFERIOR JADI KEBIASAAN YANG DIBIASAKAN
Timnas Indonesia di Bawah Ketiak Asing - SEA Games 2019 Indra Sjafri - pssi 2
pssi.org

Namun, terkadang kita terlalu berlebihan dalam melestarikan budaya tersebut, sehingga muncul anggapan bahwa pihak asing lebih tinggi derajatnya. Fakta bahwa Indonesia pernah dijajah negeri asing selama ratusan tahun membuat budaya itu sangat mengakar. Sepak bola pun terkena imbasnya.

Sampai saat ini, kita masih cenderung merasa inferior terhadap asing. Hal itu umum dipertontonkan jelang pertandingan. Pelatih cenderung memilih sikap rendah hati ketika akan berhadapan dengan tim luar negeri, terutama yang levelnya lebih tinggi. Pujian terhadap lawan lebih sering digaungkan ketimbang terus meneriakkan optimisme. Sikap inferior pun jadi sebuah kebiasaan yang dibiasakan.

Alhasil, tak heran jika pada akhirnya sepak bola Indonesia terus berada di bawah ketiak asing. Padahal, dalam sepak bola, dituntut ada kepercayaan yang sangat tinggi. Bahkan, tak masalah jika sedikit dibumbui arogansi. Perasaan inferior jelas melemahkan. Saya memandangnya seperti kalah sebelum berperang.

Padahal, jika semua pemain Indonesia sanggup menanggalkan budaya tersebut, hasilnya bisa sangat positif. Tengok saja timnas U-19 Indonesia ketika hendak menghadapi Korea Selatan pada Oktober 2013. Sebelum pertandingan, pelatih Indra Sjafri sudah mengeliminasi sikap inferior yang sering meliputi pemain Indonesia.

“Jangan terlalu dibesar-besarkan soal Korsel. Indonesia lebih besar dari Korsel. Sampaikan kepada Korsel, kami akan mengalahkan mereka pada 12 Oktober nanti,” ucap Indra pada Senin (9/10/2013).

Hasilnya, timnas U-19 Indonesia berhasil menundukkan Korsel dalam laga kualifikasi Piala Asia U-19 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Sabtu (12/10/2013). Berkaca dari hal itu, sepatutnya timnas Indonesia menaggalkan sikap inferior terhadap asing.

Jangan jauh-jauh menatap Piala Dunia U-20 2021. Tunjukkanlah terlebih dahulu dalam SEA Games 2019 di FIlipina, bahwa kita lebih baik dari mereka!

Timnas Indonesia di Bawah Ketiak Asing - SEA Games 2019 Indra Sjafri - pssi 1
pssi.org