Tony Yeboah: Dobrak Sejarah di Bundesliga, Jadi Panutan Juergen Klopp

Football5star.com, Indonesia – Bundesliga sekarang ini jadi liga paling nyaman untuk pemain-pemain di seluruh dunia. Dari benua Asia, Amerika, hingga Afrika, mereka sangat menikmati masa-masa bermain di Jerman.

Hal tersebut bisa terjadi karena beberapa faktor. Ada yang merasa cocok dengan skema permainan Jerman dan ada pula dari mereka yang diperlakukan sama seperti pemain Eropa lainnya.

Ya, Jerman selama ini dicap sebagai kompetisi yang hampir tidak pernah terdengar kasus rasial. Terutama pada era milenium baru. Tapi jauh sebelum itu, tanah Bavaria tak ada bedanya dengan Italia atau Spanyol yang memandang sebelah mata pemain dari benua lain, terutama Afrika.

DW

Satu nama legenda yang pernah merasakan masa-masa kelam tindak rasial suporter adalah Tony Yeboah. Parahnya lagi, ejekan rasial ia terima dari fan klub yang dibela, Eintracht Frankfurt.

Eintracht Frankfurt bukanlah klub pertama Jerman yang dibela legenda Ghana.  Sebelumnya ia bersergama Saarbruchen setelah digaet dari klub Ghana, Okwawu United.

Dua musim di Saarbruchen, Yeboah kemudian menerima pinangan Frankfurt pada 1990 silam. Sambutan awal jauh dari harapan. Fan tidak memandang 31 gol dari 72 laga yang dicetak sang pemain semasa di Saarbrucken. Warna kulitnya yang berbeda telah menutup mata fan selama beberapa saat.

Pada media 90-an, pemain kulit hitam di Jerman memang sangat sedikit. Salah satu penyebab sedikitnya pemain asal Afrika di sana dikarenakan intimidasi fan.

Bagi Juergen Klopp, Yeboah Adalah Pahlawan

Yeboah jelas terganggu dengan ejekan suporter. Apalagi Frankfurt ketika itu adalah tim besar yang bersaing sebagai juara. Tekanan suporter, beban yang dia emban, membuatnya khawatir.

Dampaknya pun terjadi di lapangan. Ia hanya mencetak delapan gol dari 26 penampilan. Torehan yang tidak cukup baik untuk seorang striker

Tapi Yeboah bukanlah pemain biasa yang cepat menyerah. Semua hinaan dia balas lewat gol-golnya yang mengalir kian deras tiap musimnya. Pada musim kedua ia pun kian nyaman karena pelatih Dragoslav Stepanovic selalu mempercayai kemampuannya.

Torehan 15 gol jadi bukti kehebatan Yeboah ketika itu. Dan seketika, fan yang tadinya menghakimi mulai menyanjungnya sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang sejarah klub.

Ghana Sport Online

Sejak saat itu Tony Yeboah selalu mencetak dua digit gol dalam tiga musim beruntun. Capaian terbaiknya dibuat pada musim 1992-1993. Ia menjadi top skorer Bundesliga dengan 20 gol dan membawa Frankfurt nangkring di peringkat ketiga.

Lima musim mengabdi di kota industri bintang asal Ghana sukses mencetak 89 gol. Tidak banyak pemain, terutama dari luar Eropa, yang mampu mencetak gol sebanyak itu di Bundesliga pada masa itu.

Apa yang telah ditanam Yeboah di Bundesliga masih terus diingat sampai sekarang. Sosoknya bahkan sangat memengaruhi pelatih Liverpool, Juergen Klopp. Baginya, sang legenda adalah simbol perubahan di sepak bola Jerman. Bukan hanya soal permainan di lapangan, tapi juga sikap fan terhadap pemain berbeda warna.

Juergen Klopp melihat Yeboah bukan sekadar pemain sepak bola. Ia menganggap sang legenda sebagai pionir untuk pemain-pemain Afrika setelah eranya

“Yeboah adalah salah satu striker terbaik yang bermain di Jerman selain Gerd Mueller. Dia punya dampak besar pada masyarakat kami. Dalam sepak bola kami tidak pernah memikirkan rasialisme. Jika orang idiot meneriakkan sesuatu Anda menyadaridnya tapi Anda berkata ‘apakah Anda marah? Apa yang Anda lakukan?,” kata Klopp seperti dilansir The Guardian

“Dia mencetak gol paling spektakuler dalam sejarah sepak bola Jerman. Butuh waktu lima menit bagi Kahn dan para bek untuk jatuh ke tanah sebelum dia memasukkan bola ke gawang,” ia menambahkan.

“Ada banyak pemain terbaik dunia berasal dari Afrika. Selain dia, kita tahu ada George Weah, Didier Drogba, Yaya Toure. Di generasi mereka mereka ada pemain terbaik,” pungkasnya.

Meneruskan Warisan di Inggris

Dua kali top skorer di Bundesliga dalam dua musim beruntun, performa Yeboah menurun pada 1995. Kedatangan pelatih baru, Jupp Heynckes membuat ia tidak nyaman lagi di Frankfurt. Masalah kian bertambah ketika ada pemain lain sebagai pesaing seperti Maurizio Gaudino dan Jay-Jay Okocha.

Jupp Heynckes tak mampu membuat keputusan terkait pilihan pertama di lini depan. Hasilnya pun mengecewakan. Ia meminjamkan  Maurizio Gaudino ke Manchester City dan melepas Yeboah ke Leeds United.

Bundesliga Classic

Pilihannya ke Inggris jadi salah satu keputusan terbaiknya. Sejak pertama kali datang, pemain kelahiran Kumasi, Ghana, sudah menunjukkan tanda-tanda kesuksesan.

Di Inggris, ia tidak merasakan apa yang dirasa saat pertama kali tiba di Jerman. Semua fan Leeds United menyambutnya dengan suka cita.

“Saya tidak tahu seberapa banyak yang mereka ketahui tentang saya atau jika mereka menyukai saya tetapi cara mereka memperlakukan saya, sambutan yang saya dapatkan, sangatlah fantastis. Itu memberi saya kekuatan,” kata Yeboah kepada Yorkshire Evening Post.

“Saya termotivasi. Saya pikir ‘anda tahu apa? Saya akan membuat ini terjadi’. Saya merasakan banyak hal luar biasa saat pertama kali tiba dan itu terus berlanjut hingga hari terakhir saya di Leeds,” sambungnya.

Kebersamaan Yeboah bersama Leeds United memang hanya dua tahun. Tapi apa yang dia dapat dan apa yang dinikmati para fan masih bisa dirasakan sampai sekarang.

premierleague.com

Salah satu momen yang akan selalu diingat soal Tony Yeboah di Inggris adalah ketika dentumannya ke gawang Liverpool di Piala FA 1995. Tendangan gledeknya dari luar kotak penalti membuat puluhan ribu fan di Elland Road lompat kegirangan.

Tendangan first time itu bukan gol sembarangan. Yeboah melakukannya dari jarak 25 yard dan bola melaju dalam kecepatan 96 mil perjam. Angka ini melampaui kecepatan tandangan legenda Leeds, Peter Lorimer.

Berkat gol luar biasanya itu, These Football Times menyebutnya sebagai supernova yang menandai dirinya sendiri ke dalam cerita rakyat dalam persepakbolaan Inggris.

Opsi Terakhir Leeds United di Bursa Transfer

Pemilik 59 caps bersama timnas Ghana adalah legenda Leeds United. Namanya akan selalu diingat walau hanya dua tahun mengabdi di Elland Road.

Tapi siapa sangka jika sejatinya dia tidak pernah diinginkan pelatih Leeds ketika itu, Howard Wilkinson. Dalam daftar belanja sang pelatih hanya ada dua striker incaran, Faustino Asprilla dan Ruel Fox.

Namun, upaya Wilkinson untuk menggaet keduanya gagal total. Asprilla memilih setia bersama Parma. Sedangkan Ruel Fox memilih Newcastle yang menurutnya lebih meyakinkan.

Barulah ketika Yeboah bermasalah dengan Jupp Heynckes di Eintrach Frankfurt, Leeds United datang memberi penawaran. Dan bisa dibilang, keputusan Howard Wilkinson itu cuma coba-coba karena ia kehilangan dua incaran.

bundesliga.com

Pemain bertinggi badan 180 cm awalnya datang sebagai pemain pinjaman pada musim dingin. Tapi berkat performa apiknya saat itu ia langsung diganjar kontrak permanen pada akhir musim 1994-1995.

Cerita tak sedap di akhir karier bersama Frankfurt kembali terulang jelang waktunya berakhir di Elland Road. Pelatih baru The Whites saat itu, George Graham, menuding sang bintang sebagai penyebab masalah dalam tim.

Tuduhan ini lantas membuat Yeboah murka. Tidak tanggung-tanggung, ia melempar jersey miliknya di hadapan Graham. Itu adalah bukti kekecewaan yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya.

Menariknya, tidak ada satu pun fan Leeds United yang marah melihat aksi lempar jersey Tony Yeboah. Mereka langsung melupakan dan memaafkan pemain pujaan sesaat setelah momen itu terjadi.

Jika fan Leeds United mengingatnya sebagai pencetak gol hebat, pendukung Eintracht Frankfurt lebih senang melihatnya sebagai simbol perubahan. Dari Yeboah mereka mengerti bahwa sepak bola tidak mengenal warna dan dari mana asalnya.

Hal ini pula yang akhirnya membuat para suporter mengabadikan sebuah kalimat sakral. Kalimat itu merupakan penggalan surat terbuka yang ditulis sang legenda bersama dua rekannya, Anthony Baffoe, dan Souleyman Sane, ayah dari Leroy Sane, 24 tahun silam.

“Kami malu dengan semua orang yang berteriak melawan kami,” demikian bunyi kalimat yang diabadikan pada 2014 lalu di sebuah dinding rumah yang jaraknya tak jauh dari markas Eintracht Frankfurt.