Tostao, Legenda Tanpa Posisi yang Alih Profesi Jadi Dokter Bedah

Football5star.com, Indonesia – Brasil adalah gudangnya bintang sepak bola. Usai hancur lebur di Piala Dunia 1966, Negeri Samba itu munculkan bintang lapangan hijau lain. Ia adalah Tostao, pemain yang dianggap tak memiliki posisi pasti.

Pemain bernama lengkap Eduardo Gonçalves de Andrade lahir di kota terbesar keenam di Brasil, Belo Horizonte, pada 25 Januari 1947. Sebagai orang Brasil, Tostao pun tak bisa dilepaskan dari sepak bola sejak kecil. Di usia baru 15 tahun, ia mendapat kontrak profesional dari klub America MG.

Satu tahun bermain di klub tersebut, ia kemudian pindah ke rival, Cruzeiro. Kelak di kemudian hari, ia jadi legenda bagi Cruzeiro. Skillnya memang menarik perhatian banyak pemandu bakat sepak bola di Brasil kala itu. Bagi sejumlah pihak, Tostao sejak muda adalah tipikal pemain yang tak memiliki posisi pasti sampai ia yang memutuskan sendiri saat pertandingan.

Posisi awalnya di America MG adalah seorang gelandang tengah. Peran ini terus ia lakoni saat bermain di Cruzeiro. Anggapan ia tak memiliki posisi pasti karena meski ia bermain di posisi gelandang, Tostao mampu jadi top skorer Cruzeiro di kompetisi regional Brasil.

“Tostao selalu terlibat di setiap skema serangan. Ia selalu ada saat tim menyerang. Tim lawan pun dibuat kesulitan untuk memahami perannya di lapangan. Dia pemain yang sulit dipahami dan jelas dia selalu unggul dibanding lawan-lawannya,” tulis salah satu media Brasil, Selasa (18/8/2020).

Saat Brasil gagal total di Piaal Dunia 1966, Tostao tak menjadi bagian tim tersebut. Publik Brasil pun mulai meragukan kapasitas Pele dkk. Cibiran dan hinaan publik menjadi-jadi, bahkan Pele sempat memutuskan pensiun dari tim nasional akibat hal ini.

“Skuat Brasil 1966 dianggap terlalu percaya diri, arogan. cepat puas diri karena mampu menjadi juara di kompetisi empat tahun sebelumnya yang berlangsung di Cile,”

Jelang Piala Dunia 1970, Brasil pun dipandang sebelah mata. Bagaimana tidak, mereka hanya memiliki sisa skuat Brasil 1966 sedangkan negara-negara Eropa lainnya munculkan banyak bakat hebat seperti Franz Beckenbauer dan Gerd Müller di Jerman Barat, Bobby Charlton di Inggris, Luigi Riva, Sandro Mazzola dari Italia.

Tostao jadi tandem sehati Pele

Pelatih tim nasional Brasil saat itu, Mario Zagallo tak peduli dengan anggapan miring publik mengenai kiprah anak asuhnya di Meksiko 1970. Zagallo pun saat itu sangat percaya bahwa pemain Cruzeiro yang mengantarkan timnya menjadi juara lima kali berturut-turut di komeptisi lokal, Tostao bakal bisa diandalkan.

Petaka datang bagi Brasil 8 bulan sebelum kick off Piala Dunia 1970. Di tengah kabar baik kembalinya Pele ke tim nasional, Tostao malah tertimpa musibah. Ia mengalami cedera di bagian mata akibat terkena bola.

Karier sepak bolanya hampir dibatasi karena cedera tersebut. Ia tidak diperbolehkan ikut kompetisi akibat cedera mata tersebut. Penglihatannya memang kabur semenjak mendapat luka di matanya tersebut. PSSI-nya Brasil tentu kelimpungan dengan kondisi bintang muda mereka tersebut.

Tostao, Legenda Tanpa Posisi yang Alih Profesi Jadi Dokter Bedah2 (1)
fifa.com

Sejumlah dokter di Brasil mengaku bahwa luka mata Tostao bisa disembuhkan namun membutuhkan waktu yang tak sebentar. Untungnya seorang dokter asal Brasil yang tinggal di Miami, Amerika Serikat, Roberto Moura berhasil membuat luka bagian mata Tostao sembuh.

Namun tentu bukan perkara mudah untuknya segera bisa beradapatsi dengan kompetisi karena selama 8 bulan praktis ia istirahat. Publik pun meragukan kemampuannya untuk jadi andalan Brasil di Meksiki 1970. Namun Zagallo tak bergeming dan tetap memasukkan namanya di skuat Samba.

Zagallo pun memberikan nomor punggung 9 kepadanya. Kepercayaan Zagallo kepadanya sangat besar. Zagallo melihat bahwa Tostao adalah kepingan yang hilang dari skuat Brasil yang dimilikinya.

Saat itu, skuat Brasil memang memiliki pemain dengan talenta natural. Ada Rivelino, Gerson, serta Pele yang tampil mengesakan. Lalu ada Carlos Alberto dengan fisik besar jadi nyawa di sisi sayap kanan Brasil, serta Jairzhinho yang dianggap macan kumbang dengan kelincahannya.

Tostao adalah pelengkap itu semua. Ia memang tak memiliki kecepatan lari di atas rata-rata. Ia kurus dan terkesan sebagai orang yang sakit-sakitan. Namun ia memiliki kecerdasan, mampu membuka ruang, dan memiliki kaki kiri yang luar biasa.

Alih profesi jadi dokter bedah

Setelah berhasil membawa Brasil merai gelar ketiga di Piala Dunia pada 1970, Tostao kembali ke Cruziero. Dua tahun setelah Meskiko 1970, ia pindah ke Vasco de Gama. Setahun di Vasco, ia memutuskan untuk pensiun dari sepak bola.

Publik menganggap setelah pensiun sebagai pemain, ia akan alih profesi sebagai pelatih namun Tostao mencari peruntungan lain. Ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di UFMG Faculty of Medicine. Gelar dokter bedah pun disandannya.

Tostao, Legenda Tanpa Posisi yang Alih Profesi Jadi Dokter Bedah3
fifa.com

Saat praktek menjadi dokter bedah, ia tak menggunakan nama Tostao. Ia menggunakan nama aslinya, Eduardo Gonçalves de Andrade. Nama Tostao sendiri dalam bahasa Portugis berarti ‘koin kecil’.

Nama julukan ini tentu berarti bagi perjalanan kariernya. Ia memang ibarat koin kecil yang melengkapi nilai besar pada satu uang. Hal itu juga yang dilakukannya bersama skuat Brasil di Meskiko 1970.

“Dia pencetak gol terbanyak Cruzeiro dan masuk ke di uruan ke-10 daftar pencetak gol terbanyak Selecao sepanjang masa. Warisannya akan selalu diingat meskipun ia hidup dalam bayang-bayang rekan senegaranya yang lebih flamboyan.”

“Tapi tanpa dia, masih bisa diperbedatkan apakah mereka yang lebih bersinar dan terkenal itu bisa berbuat banyak dan mengangkat gelar juara di sore hari di musim panas di Meksiko.” tulis salah satu media Brasil.

Profesi sebagai dokter bedah tak dijalani lama olehnya. Ia lalu alih profesi lagi menjadi seorang pundit di televisi Brasil dan lagi-lagi, ia memilih untuk menggunakan nama aslinya, Eduardo Gonçalves de Andrade. Sepertinya nama Tostao hanya mau ia gunakan saat bermain di lapangan hijau.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More