Tottenham vs Liverpool: Pembuktian Pochettino dan Klopp

Football5star.com, Indonesia – Final Liga Champions antara Tottenham Hotspur vs Liverpool menjadi ajang pembuktian bagi pelatih muda dari kedua tim, Mauricio Pochettino dan Juergen Klopp. Jika berbicara soal pengalaman tentu pelatih Liverpool patut jemawa.

Kendati kedua klub dan kedua pelatih sudah kerap bertemu di Premier League, ini jadi pertemuan pertama mereka di kompetisi Eropa. Catatan ini makin spesial karena keduanya akan bersua di partai penentuan siapa peraih Si Kuping Besar musim ini.

Pengalaman dan Kutukan Juergen Klopp

juergen klopp-liga champions (theguardian)
theguardian.com

Bicara soal pengalaman, Klopp tentu lebih mentereng dari pelatih asal Argentina tersebut. Khusus di kancah Liga Champions saja ini akan menjadi final ketiga baginya. Dua final sebelumnya ia raih bersama Borussia Dortmund 2013 lalu dan Liverpool musim lalu.

Walau begitu dua pengalaman tersebut bisa dibilang tidak dikehendaki pelatih kelahiran Stuttgart ini. Ya, di dua kesempatan itu ia selalu menuai kekalahan. Lebih buruk lagi klub yang ia tukangi kebobolan lima gol di partai puncak kompetisi antarklub Eropa itu.

Pengalaman laga final bukan hanya dirasakan di Liga Champions saja. Ketika masih bersama Dortmund ia tiga kali membawa klubnya itu ke babak final DFB Pokal. Sementara bersama The Reds ia dua kali berada di final Carabao Cup dan Liga Europa.

Tapi lagi-lagi pengalaman segudang itu berakhir antiklimaks. Praktis dari lima final itu ia hanya mampu juara satu kali. Itu pun pada final pertamanya di ajang DFB Pokal saat mengalahkan Bayern Munich 4-2 pada musim 2011-2012.

Kegagalan demi kegagalan di atas tak ayal membuat pelatih berusia 51 tahun ini dicap sebagai spesialis runner up. Catatan minor ini sekaligus membawa dampak negatif pada keyakinan fan Liverpool. Tidak sedikit dari mereka yang khawatir hasil serupa akan kembali terulang di Wanda Metropolitano nanti.

Semangat Debutan dalam Diri Pochettino

Mauricio Pochettino - Tottenham Hotspur - Liga Champions - uefa. com
uefa.com

Jika Juergen Klopp akrab dengan kegagalan, catatan berbeda justru dimiliki Mauricio Pochettino. Baginya ini adalah final LIga Champions pertama. Bahkan ketika kariernya masih berkibar menjadi pemain pun ia belum pernah menginjakkan kakinya di final kompetisi antarklub Eropa tersebut.

Sebelum musim ini capaian terbaik mantan pelatih Espanyol hanya mampu mencapai babak 16 besar musim lalu. Ya, catatan ini memang tak lepas dari perjalanan karier Pochettino yang sebelumnya hanya melatih klub-klub semenjana seperti Espanyol dan Southampton.

Baru ketika melatih Spurs levelnya meningkat sebagai salah satu pelatih elit di Eropa. Jika ditotal dengan kompetisi lain pun pelatih kelahiran Santa Fe, Argentina, baru merasakan satu final, yaitu Carabao Cup musim 2014-2015. Setelah itu praktis ia tidak bisa membawa klubnya melaju lebih jauh.

Tapi musim ini semua harapan pendukung Spurs berada di pundak Pochettino. Tampil di final Liga Champions tanpa satu pun pembelian pemain di bursa transfer tentu tidak sembarang pelatih yang bisa melakukannya.

Kendati perjalanan mereka menuju final tidak terlalu mulus dengan catatkan empat kekalahan, fan patut yakin sang pelatih bisa mewujudkan mimpi mereka. Gelar Liga Champions juga bukan cuma untuk kepentingan The Lilywhites saja tapi juga untuk menyempurnakan CV sang pelatih di masa depan.

Ya, bukan tidak mungkin keberhasilannya nanti akan membuat pelatih 47 tahun itu dikejar klub-klub top Eropa seperti Juventus, Manchester United, atau bahkan Barcelona.

Dewi Fortuna Lebih Berpihak pada Klopp

Liverpool dan Tottenham Hotspur mewujudkan football is coming home di Liga Champions.
dailyworthing.com

Dengan catatan-catatan di atas dari kedua pelatih, sulit menebak siapa yang nantinya akan lebih berjaya. Tapi jika kita melihat statistik pertemuan keduanya, mungkin Juergen Klopp akan lebih unggul dari Mauricio Pochettino.

Pelatih Liverpool itu hanya kalah sekali dari sembilan pertemuan dengan manajer Spurs tersebut. Satu-satunya kekalahan tersebut terjadi musim lalu di Stadion Wembley. Laga yang berlangsung di ajang Premier League memaksa mereka kalah 1-4.

Tapi setelah itu Merseyside Merah tampil digdaya, termasuk dua kemenangan dari dua pertandingan terakhirnya. Untuk perolehan gol pun pelatih yang mengawali kariernya di Mainz 05 itu juga patut berbangga. Dari sembilan laga klub asuhannya hanya sekali gagal membobol jala Hugo Lloris.

Comments
Loading...