Uty Eks JKT48 Bicara Soal Kiprah Perempuan di Dunia Sepak Bola

Football5star.com, Indonesia – “Kertas putih adalah sesuatu yang bisa menggambarkan Dwi Putri Bonita. Apa pendapat Anda tentang kertas putih? Mudah rusak? Meski seperti kertas putih, ia tetap kuat dengan semua yang terjadi dalam hidupnya.”

Itu adalah quote yang tertulis dalam situs resmi Dwi Putri Bonita. Uty, adalah mantan member dari JKT48. Uty adalah contoh paripurna dari sosok yang memiliki pendirian yang teguh. Semua yang terlihat dari sosok Uty bisa dilihat dalam satu quote yang ia tulis di paragraf pertama.

Setelah tak lagi menjadi member JKT48, Uty, nama panggilannya, ternyata belum bisa sepenuhnya lepas dari dunia entertain. Ia ingin mengombinasikan kesukaannya dengan sepak bola dan dunia entertain.

Uty memiliki mimpi untuk menjadi sportcaster khususnya sepak bola yang mengenakan Hijab. Namun ternyata itu tak mudah, mengapa? Berikut petikan obrolan kami di salah satu kafe di Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (22/12).

Kapan tahu sepak bola dan kenapa suka sepak bola? Kan ada olahraga lain.

Tahu sepak bola sejak dari dulu ya. Kan Papa sering nonton bola. Lalu, kenapa suka sepak bola? Mungkin sepak bola itu kayak seru, gitu. Kayak ada satu bola tapi diperebutkan sama 22 orang. Kenapa sih gak beli satu-satu gitu. Kalian banyak uang. Tapi, memang seru gitu, lihatnya pun bisa sampai bikin teriak-teriak. Kayak ‘Gimana ya kalau aku jadi pemain bola. Kayak gak sabar gitu’.

Sebagai pencinta sepak bola, sudah barang tentu Uty pernah menonton sepak bola. Lalu, kapan pertama kali nonton sepak bola?

Mungkin sejak SMP ya. Karena di rumah televisi cuma ada satu, jadi kalau Papa nonton bola, aku otomatis nonton bola ya. Semua karena Papa, racun memang. Dan pertama kali nonton bola itu nonton Sriwijaya FC.

Pribadi
Pribadi

Ada beragam profesi yang bisa dilakukan di dunia sepak bola dan tak terbatas sebagai pemain sepak bola. Misalnya saja sebagai wasit, manajer, atau pos-pos lain selain pesepak bola. Uty mau berkarier di dunia sepak bola?

Pengen, sih. Apalagi ingin jadi sportcaster, tapi susah. Kemarin itu ada tawaran buat casting jadi sportcaster, cuma karena aku berhijab, katanya nanti dulu, temanya bukan begini. Harusnya kan, gak pengaruh, kan kita bawakan acara di televisi dan orang melihat penampilan kita dan yang penting menarik. Terus cara kita membawakannya yang menarik. Kalau urusan berhijab atau tidak, dan dibanding-bandingkan, itu aneh aja.

Selama ini muncul pandangan bahwa sepak bola adalah olahraga yang sangat laki dan sangat patriarki. Bagaimana pandangan Uty tentang partisipasi wanita di dunia sepak bola?

Mungkin sah-sah aja (wanita di sepak bola). Kan sekarang banyak pemain sepak bola wanita, (bahkan) ada Timnas Wanita. Sebenarnya gak ada bedanya antara pria dan wanita, bahkan gak ada kastanya. Gak nyambung kalau ada yang bilang sepak bola itu untuk pria, gak gitu. Sepak bola juga untuk wanita, karena wanita juga bisa melakukan semuanya.

Di Indonesia saat ini, peran wanita di sepak bola mulai terlihat. Ada Ratu Tisha di kursi Sekjen PSSI, ada Andi Syadzwina di PSM Makassar, dan dulu ada Indah Kurnia yang duduk sebagai Manajer Persebaya. Menurut Uty, apakah di Indonesia masa depan wanita di sepak bola itu cerah?

Pasti cerah. Soalnya dalam suatu kepemimpinan, pasti ada wanita di sana. Entah dari Ibu sang manajer. Wanita juga lebih sensitif, jadi wanita bisa lebih mengerti kondisi para pemain, kondisi anak buahnya. Mungkin beda dari laki-laki kayak misalnya, “Yaudah, kamu capek”, kalau wanita bisa, “Kenapa kamu capek? Gara-gara apa”, bisa lebih sensitif.

Comments
Loading...