Vincent Kompany, Darah Kongo dan Gelar Master Bisnis

Football5star.com, Indonesia – Manchester City harus merelakan kapten sekaligus bek terbaik mereka, Vincent Kompany untuk pergi meninggalkan Stadion Etihad akhir musim ini. Banyak cerita menarik soal pemain ini, mulai dari latar belakang keluarga dan peran mantan pemain Chelsea dan Man United di kariernya.

Lahir di Uccle, Belgia, 33 tahun silam, Kompany memiliki darah Kongo, negara di Afrika yang dulu menjadi jajahan Belgia. Ayah dari Kompany, Pierre merupakan imigran asal Kongo yang datang ke Belgia untuk memperbaiki nasib. Sedangkan ibunda Kompany, Jocelyne merupakan perempuan asli Belgia.

Yang menarik, Kompany ternyata memiliki saudara laki-laki yang juga berprofesi sebagai pesepak bola. Francois Kompany merupakan saudaranya yang sempat bermain di klub amatir, Macclesfied Town. Seperti apa fakta menarik Vincent Kompany lainnya, berikut ulasannya untuk pembaca setia football5star.com

Berkarier di City berkat eks Chelsea dan Man United

Karier Kompany di Manchester City tak lepas dari peran dua sahabatnya, Yves Ma-Kalamabay dan Floribet N’Galula. Dua sahabat Kompany ini yang lebih dulu merasakan atmosfer Liga Inggris.

MaKalambay ialah mantan kiper Chelsea pada musim 2006-07. Ia bergabung di Chelsea setelah bermain di akademi PSV. Sayang ia tak pernah sekalipun diturunkan.

Vincent Kompany, Darah Kongo dan Gelar Master Bisnis
gettyimages

Sementara itu, N’Galula merupakan mantan bek Manchester United. N’Galula tercatat bermain di akademi Manchester United pada 2003 hingga 2007. Kedua pemain ini sama dengan Kompany memiliki darah Kongo dan berkewarganegaraan Belgia.

Keduanya pun memberi banyak masukan kepada Kompany saat akan pindah ke City pada 2008 silam. Ayah sekaligus agen Kompany, Pierre, seperti dikutip dari bbc, Senin (20/5/2019) mengaku masukan dua sahabat Kompany ini yang membuat karier sang anak lebih baik dibanding saat di Hamburg.

Gagal di Hamburger SV

Pada awal kariernya di sepak bola, Kompany sempat merasakan kenikmatan dianggap sebagai salah satu bek muda terbaik. Bermain di Anderlecht pada 2003, Kompany mendapat sepatu emas sebagai pemain muda terbaik Liga Belgia musim 2003-2004.

Saat itu usianya baru 18 tahun. Publik Belgia menganggap masa depan Kompany akan cerah ke depannya. Ia pun sempat mencatatkan diri sebagai bek muda terbaik di Liga Belgia dalam 43 tahun terakhir.

Aksinya bersama Anderlecht menarik minat klub besar Eropa. Tercatat ada Juventus, Bayern, hingga Arsenal tertarik memboyongnya. Bahkan Manchester United, mengirim Martin Ferguson, saudara dari Sir Alex untuk memantau langsung Kompany.

Anderlecht tak bergeming pada tawaran yang masuk pada 2005, namun pada 2006, klub Belgia itu malah menerima tawran dari Hamburg. Mahar 10 juta euro pun membuat Kompany hijrah ke Jerman.

Vincent Kompany, Darah Kongo dan Gelar Master Bisnis
gettyimages

Sayang seribu sayang, karier Kompany di Hamburger SV berantakan. Faktor utama ialah cedera. Pada musim pertamanya di Hamburger SV, Kompany mengalami cedera achilles, ia pun absen sangat lama.

Pada musim kedua, keadaan tak jua membaik bagi Kompany. Hamburger SV saat itu dilatih oleh pelatih Belanda, Hubb Stevens. Kompany yang bernomor punggung 10 tak banyak kebagian peran.

Lini belakang Hamburger SV saat itu juga diisi oleh sejumlah bek terbaik Bundesliga seperti Bastian Reinhardt, Juan Pablo Sorin, hingga Jerome Boateng. Akhir musim 2007-08, Kompany pindah ke Manchester City.

Debut yang mengesankan

Pindah ke Manchester City, Vincent Kompany jalani debut pertamanya melawan West Ham United. Laga itu dijalaninya dengan sangat mengesankan.

Pada musim pertamanya, City yang saat itu tengah membangun ‘kerajaan’ mampu berada di peringkat ke-10 dan perempatfinal Liga Europa. Prestasi yang lebih baik jika dibandingkan saat di Jerman.

Menariknya, pada musim pertamanya di City, ia lebih banyak dimainkan sebagai gelandang bertahan. Pelatih City saat itu, Mark Hughes melihat Kompany memiliki kapasitas sebagai gelandang jangkar.

Saat Hughes dipecat dan digantikan Roberto Mancini, Kompany kembali pada posisi semula, bek tengah. Kedatangan Mancini dan sejumlah pemain berkualitas lainnya, membuat Kompany makin kerasan di Manchester City.

Pada musim keduanya, Kompany mampu membawa The Citizens finish di posisi kelima Liga Inggris. Era baru telah lahir di Manchester City.

Darah Kongo dan Starting XI terbaik

Kongo merupakan negara yang cukup disegani di Afrika. Timnas Kongo bahkan memiliki reputasi mengkilat dengan mampu jadi juara Piala Afrika pada 1968 dan 1974. Kongo bahkan jadi tim Afrika dari kawasan Sahara yang mampu lolos ke Piala Dunia.

Kompany ialah salah satu pemain terbaik yang memiliki darah Kongo. Sayang perang saudara membuat negara ini hancur lebur.

Perang memang pada akhirnya hanya membuat Kongo kini menderita dan merelakan bakat terbaiknya bermain untuk negara lain. Jangan salahkan keluarga Vincent Kompany, Romelu Lukaku atau Makalele yang memutuskan hijrah dari Kongo di kondisi negara menakutkan seperti itu.

Jika dikumpulkan, berikut starting XI terbaik pemain berdarah Kongo:

Vincent Kompany, Darah Kongo dan Gelar Master Bisnis

Starting line up Kongo:

Kiper: Steve Mandanda

Bek: Jose Bosingwa, Vincent Kompany, Eliaquim Mangala, Jason Denayer

Gelandang: Steven N’Zonzi, Blaise Matuidi, Claude Makelele,

Striker: Mitchy Batchuayi, Christian Benteke, Romelu Lukaku

Gelar master bisnis

Vincent Kompany ialah salah satu pesepak bola yang sangat mementingkan pendidikan. Tak heran jika ia memiliki gelar sarjana pendidikan yang mentereng.

Kompany tercatat memiliki gelar Master of Business (MBA) dari Manchester Business Scholl. Ia memperoleh gelar ini pada 2008 silam. Sangat jarang pemain yang memiliki gelar pendidikan sementereng ini.

Selain memiliki gelar master bisnis, Kompany juga diketahui sering berkontribusi untuk membantu daerah-daerah miskin di Kongo. Selain itu, pada 2013 lalu, Kompany tercatat membeli klub divisi ketiga liga Belgia, FC Bleid.

Comments
Loading...