LEGENDA: Widodo Cahyono Putro dan Magis Tendangan Salto

Football5star.com, Indonesia – Ketika mendengar nama Widodo Cahyono Putro, ingatan banyak orang mengarah ke tendangan salto yang melegenda. Padahal, ada banyak sisi dari Widodo Cahyono Putro layak disebut sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah lahir di Indonesia.

Jalan Widodo Cahyono Putro hingga menjadi pemain yang mencetak gol salto di Piala Asia 1996 tidaklah mudah. Ia harus melewati berbagai rintangan yang tak jarang membuat pemain dengan mental yang lemah akan putus asa. Salah satunya adalah ketika ia gagal membawa Petrokimia Putra menjadi juara Liga Indonesia (Ligina) pertama pada 1994.

Meskipun akhirnya gelar yang gagal digapai pada 1994 itu berhasil ia bayar lunas pada 2001, namun kegagalan itu tetaplah membekas. Tak hanya itu, karier Widodo Cahyono Putro sebelum masuk ke dunia sepak bola profesional pun ia lalui dengan terjal.

Berawal dari Tarkam
IDN Times Bali

Nama Widodo Cahyono Putro tak akan melejit apabila ia tak bermain sepak bola antar kampung. Widodo tak malu-malu menyebut bahwa ia dulunya adalah pesepak bola seperti itu. Bahkan, pria yang lahir di Cilacap, Jawa Tengah ini sampai rela bermain ke Tasik demi memenuhi hasratnya bermain sepak bola.

Dilansir dari Pandit Football, Widodo bahkan fasih berbahasa Sunda lantaran ia sempat mengikuti pertandingan antarkampung ke luar kota bahkan ke Jawa Barat.

“Rumah sama lapangan sepak bola itu hadap-hadapan. Main sama kakak-kakak saya. Kakak-kakak saya kalau main ke Bandung, saya juga ikut. Main antarkampung ke luar kota. Biasanya memang ke Jawa Barat seperti Ciamis atau Tasik. Makanya saya bisa bahasa Sunda,” ujar Widodo dilansir dari Pandit Football.

Setelah lulus dari SMEA (Sekarang SMK), Widodo memutuskan bermain ke Warna Agung. Saat itu, Widodo tengah bermain di Tasik dan bakatnya ditemukan oleh Warta Kusuma. Pada tahun 1989, ia memutuskan menerima tawaran dari Warna Agung.

Pelatih Warna Agung saat itu, Endang Witarsa, menjadi sosok yang paling berjasa dalam awal karier pria yang lahir pada 8 November 1970 ini. Meskipun telah mahir bermain bola, Widodo mendapatkan banyak ilmu dari pelatih yang juga Dokter Gigi tersebut.

“Saya ke sana (Warna Agung) datang dan belajar. Meskipun Warna Agung waktu itu paling bawah di Galatama, tapi dari situ saya baru mulai mengenal sepak bola yang benar dari dokter Endang Witarsa. Pengajaran, teknik dasar, ball skill, banyak lah yang sebelumnya saya tidak dapat,” kata
Widodo Cahyono Putro .

Juara Tanpa Mahkota yang Memberikan Duka
Widodo Cahyono Putro dan Magis Tendangan Salto - Football5star - Tirto
Tirto

Banyak yang salah ketika menyebut Widodo Cahyono Putro adalah pemain kelahiran Gresik. Cak Wid lahir dan asli Cilacap. Lahir pada 8 November 1970, karier Cak Wid dimulai di klub yang bermain di kompetisi Galatama, Warna Agung pada tahun 1990.

Dua tahun bermain di klub yang berasal dari Jakarta, Widodo yang masih berusia 21 tahun mendapatkan panggilan timnas Indonesia yang bertarung di Pra-Olimpiade 1992. Dilansir dari Panditfootball, saat itu Warna Agung menjadi klub yang berada di posisi juru kunci. Namun, dari 20 gol yang dicetak oleh Warna Agung, 12 di antaranya lahir dari kaki dan kepala Widodo.

Empat tahun bermain untuk klub yang dilatih oleh Endang Witarsa,Widodo pindah ke Petrokimia Putra Gresik pada 1994. Petro Putra – biasa kami menyebutnya– adalah cikal bakal dari Gresik United yang kini didaur ulang menjadi Persegres Gresik United.

Bersama dengan Jacksen F. Tiago dan Carlos De Mello, Widodo Cahyono Putro hampir memberikan gelar pertama untuk klub kebangaan warga Gresik. Saat itu, untuk pertama kali dalam sejarah sepak bola Indonesia, kompetisi Galatama dan Perserikatan digabung dan berubah menjadi Liga Indonesia.

Petrokimia Putra saat itu hampir menjadi juara Liga Indonesia pertama sebelum dikandaskan oleh Persib Bandung di partai puncak. Kegagalan ini masih membekas di beberapa pemain Petrokimia Putra. Salah satunya adalah Widodo.

“Perasaannya tentu sangat sedih, seharusnya gol jacksen Tiago tidak dianulir,” beber Widodo Cahyono Putro ketika dihubungi oleh Football5star.

Sasi Kirono, mantan palang pintu Petrokimia Putra Gresik saat itu juga mengeluarkan pernyataan yang sama. Menurut dia, harusnya gol Jacksen F. Tiago tidak dianulir dan Kebo Giras, julukan Petro menjadi juara Ligina pertama.

“Gol kita dianulir. Aneh. Tapi mau bagaimana lagi, kita tidak punya bukti. Zaman dulu teknologi belum seperti sekarang,” ujar Sasi Kirono beberapa tahun yang lalu.

Salah satu rumor yang berkembang adalah adanya faktor non teknis yang menggagalkan Petrokimia Putra menjadi juara. Lewat buku “Persib Undercover: Kisah-Kisah Yang Terlupakan”, dijelaskan bahwa ada faktor non teknis dalam kemenangan Persib atas Petrokimia Putra.

“Kalau non teknis saya tidak tahu, tapi menurut pemain yg dipanggil (oleh manajemen) menjelaskan kalau terjadi apa-apa, (para pemain diminta) diam saja. Dan saya termasuk pemain yang tidak dipanggil saat itu,” ujar Widodo Cahyono Putro .

Gelar Juara yang Dibayar Lunas
Widodo Cahyono Putro dan Magis Tendangan Salto - Football5star - Fandom
Fandom.id

Gelar juara Liga Indonesia yang gagal ia raih bersama Petrokimia Putro sukses ia dapatkan saat berseragam Persija Jakarta. Pindah pada tahun 1998, ia memberikan gelar Liga Indonesia VII untuk Macan Kemayoran pada tahun 2001.

Saat meraih gelar juara bersama Persija, Widodo bermain bersama nama-nama tenar. Sebut saja Bambang Pamungkas dan Budi Sudarsono. Banyaknya penyerang bagus di Persija tak membuat sinar Widodo meredup.

Setelah menjadi juara di Liga Indonesia VII bersama Persija Jakarta,
Widodo Cahyono Putro memutuskan untuk pulang ke Gresik dan kembali membela Petrokimia Putra Gresik.

Kepulangan Widodo ke Gresik berakhir dengan sebuah gelar juara. Ya, pada Liga Indonesia VIII tahun 2002, Petrokimia Putra Gresik menjadi juara setelah mengalahkan Persita Tangerang dengan skor 2-1.

Kemenangan Petrokimia Putra didapatkan setelah Yao Eloi, yang masuk sebagai pengganti mencetak gol pada babak tambahan. Dalam waktu normal, kedua kesebelasan bermain imbang 1-1. Persita Tangerang unggul lebih dulu lewat gol Ilham Jayakesuma pada menit ke-1 yang dinobatkan sebagai pemain terbaik sekaligus pencetak gol terbanyak dengan torehan 26 gol.

Samuel Celbi, pemain bertahan Kebo Giras mencetak gol penyama kedudukan pada menit ke-73. Skor 1-1 bertahan hingga Purwanto, wasit yang memimpin laga itu meniup panjang peluit.

Dua gelar Liga Indonesia didapat oleh Widodo Cahyono Putro sepanjang kariernya. Menurut dia, tak ada yang berbeda dari gelar yang ia dapat saat bersama Persija ataupun Petrokimia. Namun, ia merasa sambutan dari warga Gresik jauh lebih meriah.

“Menjadi juara sama saja. Bedanya, di Persija kami (para pemain) tidak diarak keliling (Jakarta). Tapi, kalau di Gresik, kami diarak keliling Gresik dan diberikan bonus yang jumlahnya berbeda,” ujar Widodo sembari tertawa.

Tendangan Salto yang Melegenda

Penampilan apik Widodo Cahyono Putro kala bermain di level klub membawanya bermain di Timnas Indonesia. Ia menjadi bagian Timnas Indonesia kala bermain di Piala Asia 1996. Keikutsertaan Indonesia di Piala Asia 1996 menjadi yang pertama.

Tak hanya itu, Widodo juga mencatatkan sejarah sebagai pemain Indonesia pertama yang mencetak gol di Piala Asia. Yang lebih hebat lagi, gol itu dicetak dengan cara yang luar biasa: tendangan salto.

Gol fenomenal itu dicetak oleh Widodo saat Timnas Indonesia melawan Kuwait pada 4 Desember 1996 yang digelar di Stadion Mohammed bin Zayed. Mendapatkan umpan silang dari sisi kanan oleh Ronny Wabia, Widodo berbalik badan dan langsung melakukan tendangan salto demi menggapai bola.

Bola kencang hasil sepalan Widodo gagal dihalau penjaga gawang Kuwait yang saat itu dikawal oleh Khaled Al Fadhli. Sesaat setelah pertandingan, pelatih Kuwait, Milan Macala langsung mengeluarkan pujian.

“Kungfu gol! Saya tiga kali memimpikan gol tersebut,” ucap Macala dikutip Football5star dari Tabloid BOLA.

Penjaga gawang Kuwait, Al Fadhli juga tak lupa memberikan pujian. Menurut dia, video gol Widodo akan terus ia kenang sepanjang hidupnya. Ia berkata, “Jika saya berhenti bermain bola, mungkin saya akan kembali melihat gol tersebut lewat rekaman video.”

Timnas Indonesia tak sekali pun meraih kemenangan di Piala Asia 1996. Dua gol Indonesia saat melawan Kuwait sukses disamakan dan Indonesia hanya meraih satu poin. Dua pertandingan lainnya, saat melawan Uni Emirat Arab dan Korea Selatan, Indonesia takluk dengan skor 4-2 dan 2-0.

Meskipun gagal meraih gelar juara, gol salto fenonal Widodo akan selalu dikenang.

Comments
Loading...