Zlatan Ibrahimovic Dihantui Kisah CLBK Milan yang Selalu Berakhir Pahit

Football5star.com, Indonesia – Cinta lama bersemi kembali (CLBK) antara AC Milan dan Zlatan Ibrahimovic. Setelah berpisah selama 7 tahun, penyerang gaek Swedia itu kembali ke San Siro guna merajut kembali jalinan kasih yang putus pada 2012 silam. Namun, apakah Ibrahimovic sadar bahwa cerita CLBK Milan lebih sering berakhir dengan kepahitan?

Zlatan Ibrahimovic memang bukan pemain bintang pertama yang menjalin CLBK bersama Milan. Sebelum dia, sudah pernah ada sederet nama yang mencoba peruntungan kedua di klub berjuluk I Rossoneri tersebut. Hasilnya, percintaan Milan dengan beberapa mantan pemain bintangnya itu justru acap berujung kegagalan.

Sebagian besar tifosi Milan mungkin menyadari rekam sejarah itu. Namun, tak sedikit pula coba menepis dengan dalih bahwa Ibrahimovic berbeda dari pemain kebanyakan. Khususnya beberapa nama yang pernah menjalin CLBK dengan Milan.

Apalagi, Ibrahimovic pernah menghadirkan euforia bagi Milan melalui persembahan Scudetto dan Piala Super Italia pada 2011. Selama di San Siro, Ibrahimovic pun mampu membukukan 56 gol dari 85 penampilan di seluruh ajang sejak didatangkan dari Barcelona pada Agustus 2010.

Akan tetapi, saat cinta Milan tengah bergelora, Ibrahimovic justru mengambil keputusan untuk pergi menerima pinangan Paris Saint-Germain pada Juli 2012. Memang, mahar sebesar 20 juta euro masuk ke kantong I Rossoneri. Namun, Milan pun harus kehilangan bomber yang mampu mendulang lebih dari 20 gol dalam semusim di Serie A (26 gol pada 2011-2012).

Zlatan Ibrahimovic - AC Milan - SempreMilan
SempreMilan
MILAN KRISIS BOMBER

Bagaimana tidak. Sejak kepergian Zlatan Ibrahimovic, Milan tak lagi mempunyai striker yang sanggup mencetak di atas 20 gol dalam semusim Serie A. Krzysztof Piątek memang mampu menutup musim lalu dengan torehan 22 gol di Serie A. Akan tetapi, 13 di antaranya dibukukan bersama Genoa pada paruh musim pertama, dan cuma 9 di Milan.

Ditambah lagi, produktivitas gol Piatek pada musim ini justru merosot tajam. Penyerang asal Polandia itu baru mengoleksi 4 gol dari 17 penampilan sepanjang musim. Itu pun 3 di antaranya dilesakkan melalui eksekusi penalti.

Imbasnya, performa Milan pun anjlok. Sampai pekan ke-17, tim yang baru berganti nakhoda dari Marco Giampaolo ke Stefano Pioli ini masih berkutat di papan tengah. Produktivitas gol pun memprihatinkan. Dengan torehan 16 gol, mereka hanya unggul dari SPAL (12 gol), Udinese (13), Sampdoria (14), dan Brescia (15). Bahkan, gelontoran gol Milan tak lebih baik dari penghuni dasar klasemen sementara, Genoa (17 gol).

Tak heran, berita kedatangan Zlatan Ibrahimovic pun dianggap bak oasis yang bisa melepas kekeringan gol skuat Milan. Meski usianya berjarak dua tahun dari kepala empat, sentuhan magi Ibrahimovic di mulut gawang memang belum memudar. Dua musim di Major League Soccer (MLS) bersama LA Galaxy, pemain jebolan Malmo itu membukukan 22 dan 30 gol.

Catatan itu membuat tifosi Milan mulai berani melambungkan asa menyambut paruh kedua Serie A musim 2019-2020. Ibrahimovic tak cuma diharapkan menjadi predator di mulut gawang lawan, pun sebagai penyuntik semangat juang armada Milan yang tengah kendur.

CLBK MILAN TAK PERNAH BERAKHIR INDAH

Namun, asa itu bak pisau bermata dua. Di satu sisi bisa membangkitkan optimisme kebangkitan. Di sisi lain justru berpotensi memicu sakit hati jika Ibrahimovic justru bernasib sama seperti kisah CLBK Milan sebelumnya. Gagal mengembalikan sinar dan memberikan prestasi.

Zlatan Ibrahimovic memang bukan menjadi pemain pertama yang pergi dan kembali lagi ke San Siro. Sebelumnya, ada Ruud Gullit, Leonardo, Roberto Donadoni, Marco Simone, Andriy Shevchenko, Kaka, hingga Mario Balotelli. Sayangnya, kepulangan mereka justru berakhir nestapa.

Balotelli dan Kaka menjadi dua korban terakhir. Kaka meninggalkan Milan pada musim 2009 untuk bergabung dengan Real Madrid. Di Madrid, Kaka hanya menjadi langganan bangku cadangan sehingga pada 2013 dia memutuskan balik ke Milan. Berharap bisa kembali ke performa puncak dengan menjalin kembali kisah lama dengan I Rossoneri, asa Kaka justru jauh panggang dari api.

Penampilan yang ditunjukkan Kaka menurun jauh dari yang ditunjukkan pada periode pertamanya membela Milan. Jika pada periode pertama ia menyumbang 96 gol dan 56 assists dari total 271 penampilan, pada kesempatan kedua dia hanya bertahan semusim dengan torehan 9 gol dari 37 penampilan. Setelahnya, Kaka memutuskan hijrah ke Amerika Serikat membela Orlando City SC.

Nasib Mario Balotelli setelahnya bahkan lebih miris. Pada dua musim pertamanya di Milan, Balotelli selalu sanggup membukukan di atas 10 gol. Namun, saat kembali ke San Siro setelah semusim menjadi pesakitan di Liverpool, nasibnya pun tak membaik. Dia cuma mampu mengoleksi 3 gol dari total 23 penampilan di semua ajang pada musim 2015-2016.

Nasib kedua nama di atas setali tiga uang dengan Shevchenko, Donadoni, Simone, Leonardo, hingga Gullit. Bahkan, sang pelopor CLBK Milan, Albano Vicariotto juga bisa dibilang tidak terlalu sukses. Dia hengkang ke Torino pada musim 1951-52, lalu ke Padova pada 1952-53, dan pulang ke Milan setahun setelahnya. Pada periode kedua di Milan, Vicariotto hanya tampil sebanyak 27 kali dengan torehan 8 gol sebelum akhirnya dipinjamkan ke Pro Patria pada 1955.

Dari semua catatan itu, bisa disimpulkan bahwa peluang Zlatan Ibrahimovic untuk menuai sukses pada periode kedua di Milan sangatlah tipis. Milan kerap gagal merajut kembali cinta lama dengan indah. Hampir semua selalu berujung kegagalan. Sanggupkan Ibrahimovic mematahkan mitos tersebut? Waktu yang akan menjawab.

5 KISAH CLBK TERAKHIR DI MILAN
MARCO SIMONE
  • 1989-1997: 49 gol dari 168 penampilan di Serie-A
  • 2001-2002: 0 Gol dari 9 penampilan di Serie-A

Pada periode pertama, masa bakti Marco Simone di San Siro tergolong panjang, yakni satu windu. Berbanding lurus, performanya juga memuaskan. Dia mencetak 49 gol dari 168 laga di Serie-A. Striker kelahiran Castellanza ini sempat bertualang empat musim bersama Paris Saint-Germain. Bersama klub terakhir, Simone sukses menyumbang titel juara Ligue 1. Milan lantas memanggilnya kembali pada musim panas 2001. Sayang, cinta lama tak selamanya indah. Simone hanya menorehkan tujuh penampilan di Serie-A tanpa catatan gol.

LEONARDO
Zlatan Ibrahimovic Dihantui Kisah CLBK AC Milan yang Berakhir Pahit - Leonardo Sportnet
  • 1997-2001: 22 gol dari 96 penampilan di Serie-A
  • 2002-2003: 0 gol dari 1 penampilan di Serie-A

Bersama Milan, Leonardo Araujo dikenal sebagai gelandang kreatif yang rajin menyumbang gol. Bahkan, pada musim 1998-99, legiun asal Brasil ini sempat mencetak 12 gol di Serie-A. Akan tetapi, pada masa bakti keduanya, Leonardo justru turun kasta. Pentasnya hanyalah Coppa Italia. Dia tampil lima kali dan mencetak dua gol. Milan berhasil mengalahkan AS Roma di final, tapi Leonardo justru tak masuk skuad.

ANDRIY SHEVCHENKO
Zlatan Ibrahimovic Dihantui Kisah CLBK AC Milan yang Berakhir Pahit - Andriy Shevchenko EFE-AFCMilan
  • 1999-2006: 127 gol dari 208 penampilan di Serie-A
  • 2008-2009: 0 gol dari 18 penampilan di Serie-A

Kisah Andriy Shevchenko terbilang cukup tragis. Padahal, dia merupakan salah satu legenda terbesar Milan berkat gelontoran 173 golnya dari tujuh musim membela I Rossoneri. Berkat performa apik itu, Shevchenko dibeli Chelsea seharga €75,2 juta pada 2006. Namun, dia cuma melesakkan 22 gol dari 76 penampilan. Gagal bersinar di Chelsea, dia dipinjamkan kembali ke Milan pada 2008. Sialnya, Sheva hanya 9 kali menjadi starter dari total 2 gol selama 26 caps. Dia lantas dipulangkan ke Stamford Bridge pada akhir musim.

KAKA
Zlatan Ibrahimovic Dihantui Kisah CLBK AC Milan yang Berakhir Pahit - Kaka EFE-AFCMilan
  • 2003-2009: 70 gol dari 193 penampilan di Serie A
  • 2013-2014: 7 gol dar 30 penampilan di Serie A

Sejak datang ke Milan pada musim 2003, Kaka mampu meraih segala yang tersedia di kancah sepak bola. Gelar juara Serie A, Liga CHampions, hingga trofi Ballon d’Or dan FIFA World Player of the Year pada 2007. Setelah enam tahun di San Siro, Kaka dibeli Real Madrid senilai €68,5 juta. Empat tahun di Santiago Bernabeu, Kaka terbilang gagal karena lebih sering hanya menjadi pelapis. Dia hanya mencetak 29 gol dari total 120 caps. Kaka kembali ke Milan pada 2013, tapi hanya bertahan semusim dengan torehan 7 gol dari 30 penampilan di Serie A (9 dari 38 caps di semua kompetisi).

MARIO BALOTELLI
  • 2012-2014: 26 gol dari 33 penampilan di Serie A
  • 2015-2016: 1 gol dar 20 penampilan di Serie A

Mario Balotelli memang mulai menjadi pesakitan sejak meninggalkan AC Milan menuju Liverpool pada musim 2014-2015. Di Liverpool, dia hanya membukukan 4 gol dari total 28 penampilan di semua ajang. Kembali ke Milan pada Agustus 2015, Mario Balotelli kian mengalami kemerosotan performa. Hanya 1 gol dibukukan dari 20 pertandingan di Serie A, serta 2 gol dari 3 laga di Coppa Italia. Hingga pada akhirnya Milan mengembalikan Balotelli kepada pemiliknya, Liverpool.


Comments are closed.